Perpustakaan Nasional RI dan Perkenalan Layanan Koleksi Naskah Nusantara

Penulis di Bangunan Utama Perpustakaan Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Bangunan Utama Perpustakaan Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya:  Wisata Sejarah ke Museum Nasional RI

PALONTARAQ.ID – Usai mengikuti kegiatan “Empower Youth for Work (EYW) Annual Meeting” selama 3 hari, 16-18 Desember 2019 di Hotel Mercure Sabang Jakarta, penulis berkesempatan Jalan-jalan ke Perpustakaan Nasional RI dan Museum Nasional RI.

Entah kenapa saat ke Jakarta, dua tempat yang selalu penulis ingin kunjungi ini selalu saja terlewatkan. Alhamdulillah, Kamis kemarin (19/12/2019), kesempatan untuk mengunjungi Perpustakaan Nasional RI tersebut akhirnya terwujud jua.

Suatu kesyukuran bahwa kegiatan kali ini di Jakarta Pusat, sehingga praktis kedua tempat ini, Perpustakaan Nasional RI dan Museum Nasional RI tidak terlalu jauh dari Hotel tempat menginap di bilangan Jalan Sabang.

Penulis di depan Gedung Layanan Perpustakaan Nasional RI berlantai 24. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di depan Gedung Layanan Perpustakaan Nasional RI berlantai 24. (foto: ist/palontaraq)

Untuk sampai ke Perpustakaan Nasional RI, pengunjung dapat menumpang Bus Transjakarta tujuan Pulo Gadung dan berhenti di Halte Balai Kota. Gedung Perpustakaan Nasional RI tepat di seberang Halte Transjakarta. Bisa juga lebih simpel dengan naik Gojek atau Grab.

Saat tiba di Gedung Perpustakaan Nasional RI yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Selatan No.11 ini sempat bingung juga. Ternyata gedung layanan Perpustakaan Nasional berada di belakang Bangunan Cagar Budaya (BCB), yang kini lebih difungsikan layaknya Museum Aksara.

Penulis di Perpustakaan Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Perpustakaan Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Para pengunjung Perpustakaan Nasional di Bangunan Utama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para pengunjung Perpustakaan Nasional di Bangunan Utama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para pengunjung Perpustakaan Nasional di Bangunan Utama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis saat berkunjung ke Perpustakaan Nasional di Bangunan Utama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Gedung layanan Perpustakaan Nasional RI sebenarnya tergolong baru, diresmikan September 2017 dan dibuka untuk umum pada Oktober 2017. Pembangunannya sendiri dibuat dengan anggaran multi tahun 2013-2016, yaitu sebesar Rp465,2 miliar sebagaimana dikutip dari Kantor Berita ANTARA.

Penulis di depan rak buku yang tingginya setinggi bangunan Perpustakaan Nasional RI ini. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lantai 1, di depan rak buku yang tingginya hampir setinggi bangunan 24 lantai Perpustakaan Nasional RI ini. (foto: ist/palontaraq)

Penulis sendiri tak menyangka bangunan Layanan Perpustakaan ini sungguh luar biasa, saat masuk di Lantai 1 mata kita langsung terpukau oleh Rak Buku yang sangat tinggi, hampir setinggi dengan bangunan Perpustakaan Nasional itu sendiri, yaitu 126,3 meter (24 lantai). Perpustakaan Nasional RI ini sendiri ada 27 lantai,  tiga lantai diantaranya adalah parkir bawah tanah (basement).

Kemana anda akan menuju. Perpustakaan Nasional berlantai 24 ini, dan dari papan informasi ini tertera tema layanan atau koleksi bidang ilmu berbeda di tiap lantainya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Perpustakaan Nasional RI ini berlantai 24, dan dari papan informasi ini tertera tema layanan atau koleksi bidang ilmu berbeda di tiap lantainya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kekuatan Buku - Pesan dari Kepala Perpustakaan Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kekuatan Buku – Pesan dari Kepala Perpustakaan Nasional RI, M Syarif Bando. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lihat pula: Kekuatan Buku

Saat memasuki gedung dan berkeliling di Lantai 1, para pengunjung dapat dipastikan akan bingung pada awalnya, sebagaimana yang penulis sendiri alami.

Jika terlihat bingung, akan ada Staf Perpustakaan atau Security yang mendatangi dan menanyakan kebutuhan pengunjung, meski di tiap lantai cukup banyak papan informasi yang tersedia. Juga ada fasilitas layanan multimedianya.

Keseluruhan fasilitas layanan Perpustakaan Nasional RI mampu memberikan suasana nyaman dan tenang, ruangannya bersih dan sangat kondusif bagi pengunjung yang ingin membaca, penelitian pustaka, atau mengerjakan tugas. Dapat dipastikan mereka yang pencinta ilmu dan gila baca akan betah berlama-lama disini.

Lantai 2 Perpusnas RI, Layanan Keanggotaan Perpustakaan Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lantai 2 Perpusnas RI, Layanan Keanggotaan Perpustakaan Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Perpustakaan Nasional RI membuka jam operasional pada Hari Senin-Jumat dari pukul 08.00-18.00 WIB, sedangkan pada akhir pekan buka dari pukul 08.00-16.00 WIB.

Bagi yang pertama datang dan belum memiliki kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional, dapat naik lift ke Lantai 2, Bagian Layanan Keanggotaan. Disana harus antre karena hampir setiap hari disesaki Pelajar dan Mahasiswa yang ingin menjadi Anggota Perpustakaan.

Perkenalan dengan Layanan Koleksi Naskah Nusantara

Dari 24 Lantai dengan layanan kepustakaan yang berbeda-beda, Penulis memilih untuk naik ke Lantai 9, Layanan Koleksi Naskah Nusantara.  Tak terlalu banyak pengunjung ke Lantai 9 ini, sepi peminat, dan sangat mungkin hanya mereka dari kalangan peneliti saja yang menyambanginya.

Bentuk aksara dari berbagai naskah lama Nusantara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Bentuk aksara dari berbagai naskah lama Nusantara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Salinan/duplikasi Naskah La Galigo, aslinya tidak ditampilkan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Salinan/duplikasi Naskah La Galigo, aslinya tidak ditampilkan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lihat pula: Nurhayati Rachman, Membawa pulang La Galigo ke Negeri Asalnya

Ada banyak koleksi Naskah Nusantara yang ditampilkan profil naskah serta penjelasan singkat mengenai naskah itu dalam lemari kaca, yang didalamnya pula terdapat salinan atau duplikasi dari naskah itu, hampir mirip menyerupai naskah aslinya.

Naskah lama nusantara dari berbagai daerah tersebut seperti La Galigo, Negarakertagama, Surek Baweng, Babad Diponegoro, Gurindam Dua Belas, Bambu Parhalaan, Pustaha Laklak, Hikayat Panji Kuda Semirang, Kutika, dan lain sebagainya.

Surek Baweng. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Surek Baweng. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Hanacaraka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Hanacaraka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dibuat menyerupai aslinya, Naskah dari Kitab Negarakertagama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dibuat menyerupai aslinya, Naskah dari Kitab Negarakertagama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dibuat menyerupai aslinya, Naskah dari Kitab Negarakertagama. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dibuat menyerupai aslinya, Naskah Babad Dipanegara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Naskah aslinya sendiri tetap berada di Perpustakaan Nasional RI itu, dalam ruangan khusus dan hanya Orang-orang khusus pula yang diberikan kesempatan untuk melihat dan membacanya, dan sangat terbuka untuk mendapatkan izin bagi kepentingan penelitian naskah itu sendiri.

Akhirnya penulis menanyakan kepada petugas yang ada di Lantai 9 tersebut tentang Koleksi Naskah lama Bugis Makassar asal Sulawesi Selatan.

Seorang Pustakawan akhirnya bangkit, kami berjabat tangan dan penulis mengenalkan diri sebagai pengunjung perdana di Perpustakaan Nasional RI dengan asal daerah dari Sulawesi Selatan.

Penulis di Lantai 16 Perpustakaan Nasional RI, Bagian Layanan Koleksi Naskah Nusantara. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lantai 16 Perpustakaan Nasional RI, Bagian Layanan Koleksi Naskah Nusantara. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lantai 16 Perpustakaan Nasional RI, Bagian Layanan Koleksi Naskah Nusantara. (foto: ist/palontaraq)

Dibuat menyerupai aslinya, Naskah Lontaraq Kutika asal Sulawesi Selatan di Lantai 16 Perpustakaan Nasional RI, Bagian Layanan Koleksi Naskah Nusantara. (foto: ist/palontaraq)

Satu keberuntungan pada akhirnya bagi penulis, ternyata sang pustakawan itu lalu mengambil dan menunjukkan katalog naskah koleksi Perpustakaan Nasional,  dan dia mengenalkan diri bahwa Buku Katalog Naskah Sulawesi Selatan itu adalah hasil karyanya sendiri.  Namanya Munasriana, kelahiran Bone, 14 Mei 1990.

Satu kebanggaan bagi penulis dapat mengenal Munasriana ini, satu diantara pustakawan lainnya di Lantai 9 tersebut. Munasriana, mengenalkan diri berasal dari Kampung di Desa TuruadaE, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Ia bersyukur  dapat bekerja  sesuai dengan keilmuan yang pernah digelutinya di Makassar.  Munasriana adalah Alumni S1 Sastra Bugis Makassar Universitas Hasanuddin.

Munasriana. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Munasriana, memegang buku karyanya, Katalog Naskah Nusantara asal Sulawesi Selatan (foto: mfaridw/palontaraq)

Sayangnya, menurut pengakuannya dirinya masih berstatus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Perpustakaan Nasional RI.  Penulis salut dan bangga, tak banyak Sarjana Sastra Bugis Makassar yang menggeluti Naskah Nusantara dan sudah mampu melakukan katalogisasi naskah lama Bugis Makassar di saat dirinya sendiri masih berstatus sebagai CPNS.

Keputusan untuk mengabdi sebagai Staf Perpustakaan Nasional RI di Lantai 9, Layanan Koleksi Naskah Nusantara ini menurutnya karena sebelumnya, dirinya memiliki pengalaman kerja sebagai Staf di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Sulawesi Selatan.

Beberapa naskah populer yang sudah dikatalogisasinya dalam Buku karyanya yang diterbitkan Perpustakaan Nasional tersebut diantaranya Lontaraq Bilang, Silsilah, Kutika, La Galigo, Lontaraq Wajo, dan lainnya yang keseluruhannya mencapai 120 judul naskah.

Penulis berharap Staf Perpustakaan Nasional RI seperti Munasriana ini dapat segera ditingkatkan statusnya dan menjadi prioritas untuk diangkat sebagai PNS. Tak banyak sarjana yang memilih mengabdi di medan keilmuan yang langka, seperti menggeluti dan mengkatalogisasi Naskah lama dari berbagai Nusantara. Semoga saja! (*)

Like it? Share it!

Leave A Response