Kritik Media pada KPK

by Kontributor Palontaraq | Minggu, Sep 15, 2019 | 35 views
Fahri Hamzah. (foto: ist/palontaraq)

Fahri Hamzah. (foto: ist/palontaraq)

Sumber terbuka: DISINI

Oleh: Fahri Hamzah

PALONTARAQ.ID – Ada berita media: “Kalau Benar Menguatkan KPK, Naikkan Anggaran 10 Lipat Seperti Janji Presiden Jokowi”
Tambah anggaran itu Salah Arah KPK justru KPK itu dibuat kecil dengan senjata pemusnah massal.. salah sendiri nembak kampret dan cebong pakai bazoka.. habis amunisi minta tambah lagi.. bahlul!

Media massa kebanyakan cari sensasi untuk kepentingan sendiri.. yang penting rame… gak peduli sistem jadi rusak.. bikin Hero supaya diberitakan 24 jam.. jual sensasi untuk industri yang mulai kalah bersaing dengan media sosial.. media massa harus tobat dari jualan kepalsuan..

Heronya media massa banyak yang sakit.. mendingan kita ber-media sosial saja gak pakai iklan.. lebih bebas tanpa editan pemilik yang punya partai politik dan punya koneksi politik.. atau konglomerat berpolitik… media sosial lebih baik… tanggungjawab masing-masing dah kalau diculik..😃

Tapi kritik memang harus dilakukan kepada media masaa.. saya ingat dulu, mau kirim tulisan mengritik KPK tahun 2007 saya ingat.. ditolak oleh semua media.. alasannya “maaf kami ada kerjasama memberantas korupsi sama KPK”. Ini kan sinting! Masak kritik KPK sama dengan pro korupsi?

Tapi begitulah bangsa kita.. senang dengan ratu adil.. seolah satu orang bisa selesaikan semua masalah.. satu lembaga bisa rampungkan semua hal… kita suka bergantung pada orang besar.. kalau dah terkenal seolah gak mungkin salah.. kita sesat jalan berkali-kali… kecewa pada pemimpin.

Jiwa feodal kita akut.. takut kritik.. gak berani adu argumen.. senang main belakang.. pengecut!. Padahal dunia ini diwariskan Tuhan kepada semua orang. Semua manusia sama. Semua orang itu ada kotoran busuk dalam perutnya. Gak ada orang suci. Apalagi lembaga negara. Sudahlah!

Makanya lihat isu pakai akal jangan pakai perasaan. Kalau pakai perasaan maunya jalan pintas. Padahal ilmu itu luas, rumit dan memerlukan metodologi untuk dipahami. Apalagi kalau harus diterapkan dalam kehidupan yang nyata. Perlu seni yang dimensinya luas dan perlu kepemimpinan.

Diajak mikir rumit kita dibilang sok pintar. Diajak diskusi ngomongnya pokoknya. Diajak berkelahi kabur duluan. Payah dah. Sekarang lagi kacau gini mau nyalahin siapa lagi ayo? Media massa yang gak pernah mau ngutip saya karena pro koruptor saya tantang sekarang.

Adu konsep kita. Kalian terbukti gagal kan. Semua berantakan. Paling mau nyari pahlawan lagi. Atau musuh bersama. Gitu aja terus. Kalau gak ketemu pahlawan cari musuh. Tapi kita lagi bertengkar soal apa gak mau didalami. Semua dangkal. Basa basi ! Dah aku istirahat dulu! 😃

Twitter @Fahrihamzah 15/9/2019

Like it? Share it!

Leave A Response