Oleh: M. Farid W Makkulau *)
PALONTARAQ.ID – Apa satu sisi yang menarik dari tradisi perantau Orang Bugis Makassar yang dapat dilihat dalam Bulan Ramadhan ini? Artikel ini menggabungkan nilai sosiologis Mali Siparappe’, fenomena historis Sompe’, dan romantisme mudik (pulang kampung) dalam bingkai religiusitas Ramadan.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, merantau atau Sompe’ bukan sekadar upaya mencari nafkah, melainkan sebuah ujian kedewasaan dan pembuktian martabat (Siri’). Namun, seberapa jauh pun seorang pelaut atau perantau melangkah, ada satu gravitasi budaya yang selalu menarik mereka kembali ke tanah kelahiran (tanah ri lisu’): itulah semangat Mali Siparappe’.
Ramadan menjadi momentum emas di mana nilai-nilai Mali Siparappe’ (hanyut saling terdampar/saling menolong) menemukan bentuk konkretnya dalam fenomena pulang kampung. Artikel ini akan membedah bagaimana filosofi kuno ini menjadi penggerak utama arus mudik, serta bagaimana Islam memperkuat ikatan emosional perantau dengan tanah kelahirannya.
Filosofi Mali Siparappe’
Istilah Mali Siparappe’ merupakan bagian dari trilogi kepemimpinan dan persaudaraan Bugis: Rebba Sipatokko, Mali Siparappe, Malilu Sipakainge. Rebba Sipatokko artinya Jika rebah saling menegakkan, Mali Siparappe’ artinya Jika hanyut saling mendamparkan ke daratan, sedang Malilu Sipakainge’ artinya Jika lupa/khilaf saling mengingatkan.
Dalam konteks Sompe’ (merantau), Mali Siparappe’ adalah janji tak tertulis bahwa sesama perantau harus saling menjaga, dan keluarga di kampung halaman tetap menjadi “daratan” tempat bersandar. Ramadan, dengan segala kesuciannya, memanggil para perantau untuk kembali ke daratan asal agar tidak “hanyut” dalam keterasingan di tanah orang.
Tradisi Sompe’: Perjalanan Mencari Identitas
Sejarah Sompe’ berakar dari sifat maritim masyarakat Sulawesi Selatan. Sejak abad ke-17, konflik politik dan dorongan ekonomi telah membawa orang Bugis-Makassar ke seluruh penjuru Nusantara, mulai dari semenanjung Malaya hingga pesisir Australia.
Bagi seorang Passompe’, pulang saat Ramadan atau menjelang Idul Fitri adalah sebuah pencapaian. Pulang bukan hanya membawa materi, tetapi membawa kabar keselamatan dan keberhasilan menjaga iman di perantauan. Di sinilah terjadi pertemuan antara Pappaseng (pesan leluhur) dengan syariat Islam mengenai pentingnya silaturahmi.

Mengapa harus Ramadan? Bagi masyarakat Pangkep dan sekitarnya, ada beberapa alasan fundamental: (1) Pabbuka dan Sahur Bersama. Ada kerinduan kolektif pada masakan ibu—Burasa’, Coto, atau Juku Pallumara—yang tidak bisa digantikan oleh hidangan di tanah rantau. (2) Ziarah Kubur. Tradisi Mabbaca atau Massuro Baca di pusara leluhur sebelum atau sesudah Lebaran adalah manifestasi hormat kepada orang tua yang telah tiada, dan (3) Zakat dan Sedekah. Para perantau cenderung ingin menyalurkan zakat dan sedekahnya di kampung halaman untuk membantu kerabat yang membutuhkan (Rebba Sipatokko).
Ketika seorang perantau pulang, ia tidak hanya membawa dirinya sendiri. Ia membawa cerita sukses (dan terkadang duka) yang dibagikan di beranda rumah panggung. Di sini, fungsi Mali Siparappe’ bekerja secara horizontal. Perantau yang sukses membantu saudaranya di kampung, mungkin dengan menawarkan pekerjaan di perantauan atau membantu modal usaha.
Fenomena ini menciptakan sirkulasi ekonomi yang luar biasa di daerah. Uang yang dikumpulkan di kota-kota besar mengalir ke pasar-pasar tradisional di Pangkep, Maros, atau Bone, menghidupkan UMKM lokal di penghujung Ramadan.
***
Di era digital, definisi “pulang” mulai mengalami pergeseran. Komunikasi visual (video call) memang bisa mengobati rindu, namun sentuhan fisik—mencium tangan orang tua (Sungkeman)—tetap tidak tergantikan. Tantangan bagi generasi muda adalah bagaimana menjaga esensi Mali Siparappe’ agar tidak terjebak pada pamer kemewahan semata saat pulang kampung, yang justru bisa melukai nilai Siri’ bagi mereka yang kurang beruntung.
Jadi, Mali Siparappe’ adalah jangkar bagi kapal kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Tradisi Sompe’ mengajarkan kita cara menaklukkan dunia, namun Ramadan mengingatkan kita ke mana arah jalan pulang.
Pulang kampung di bulan suci bukan sekadar mobilisasi massa, melainkan sebuah ritual penyucian diri dan penguatan kembali ikatan darah yang sempat merenggang karena jarak. Selama nilai Mali Siparappe’ dijunjung tinggi, identitas Bugis-Makassar tidak akan pernah lekang oleh waktu, meski berada di ujung dunia sekalipun.
Bahan Bacaan:
Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris. (Analisis mendalam tentang karakter merantau dan sistem nilai sosial).
Mattulada. (1995). Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.
Abidin, Andi Zainal. (1999). Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Lembaga Penerbit Universitas Hasanuddin. (Membahas filosofi Rebba Sipatokko, Mali Siparappe, Malilu Sipakainge).
Acciaioli, Greg. (2000). Searching for Fortune: The Bugis in South Sulawesi. Canberra: Australian National University. (Studi tentang motivasi perantauan/sompe’).
Rahman, Nurhayati. (2010). Kearifan Lokal dalam Naskah Galigo. Makassar: La Galigo Press.
(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Budaya Bugis Makassar/Tinggal di Minasatene, Pangkep.


