Jaga Adab kepada Guru

by Kontributor Palontaraq | Jumat, Sep 6, 2019 | 36 views
Proses pembelajaran di sekolah, jaga adab terhadap guru. (ilustrasi: ist/palontaraq)

Proses pembelajaran di sekolah, jaga adab terhadap guru. (ilustrasi: ist/palontaraq)

Oleh: Nasaruddin Linggi Allo, S.Ag., M.Ag., Kepala SDIT Takwa Cendekia

Related Post:  Jaga Adab terhadap Guru

PALONTARAQ.ID – Perubahan zaman tidak hanya membuat perubahan sikap pada murid saja. Karena ternyata, perubahan sikap orang tua murid kepada guru pun telah mengalami perubahan. Ada pergesaran nilai antara orangtua dulu dan sekarang orangtua zaman old.

Zaman now katanya sudah jauh berbeda. Orangtua murid atau yang sering kita kenal dengan wali murid adalah orangtua siswa keberadaannya ikut serta memantau perkembangan sang anak dalam proses pembelajarannya di rumah, bahkan ditempatkan sebagai guru terbaik bagi anak-anak.

Orang tua murid dahulu orangtua zaman old memandang bahwa seorang guru adalah orang tua kedua bagi anaknya ketika di sekolah. Alasan inilah yang menyebabkan seorang wali murid menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya ketika ia berada di sekolah.

Segala kebijakan sekolah yang diterapkan pada anaknya, orang tua murid akan menerimanya dengan ikhlas dan suka rela, sami’na wa atha’na selama aturan dan kebijakan tersebut dalam rangka utk mendukung akan tumbuh kembangkannya anak dan proses pendidikannya.

Bahkan apabila anaknya yang mengadu bahwa ia telah dijewer gurunya, sang orang tua malah balik memarahi atau bahkan malah balik menjewer karena anaknya dianggap membuat malu orang tuanya di sekolah.

Dan itu secara pribadi saya sering dapatkan dari almarhum ayah dan almarhumah ibu saya bahkan kadang lebih “sadis” dari apa yang didapatkan di sekolah.

Begitulah wujud kepasrahan seorang wali murid dahulu. Orangtua zaman old yang benar-benar memasrahkan pendidikan anaknya kepada Guru-gurunya selaku orang tua kedua anak-anaknya di sekolah.

Namun zaman telah berganti. Orangtua zaman old berubah ke zaman now yang katanya era milenial,  serba canggih atau apapun istilahnya.

Cara pandang orang tua murid terhadap Guru-guru yang telah mendidik anak didiknya pun telah berubah. Memang tidak semua orang tua murid mengalami perubahan itu, sekali lagi tidak semua!

Meski begitu, dengan mencuatnya berita seorang wali murid yang menghantam kepala ibu kepala sekolah dengan meja karena anaknya yang mendapat pembinaan sebagaimana yang diberitakan oleh banyak media mainstream.

Sebagaimana pula halnya dengan Guru SMK Negeri 4 yang dianiaya orangtua murid sampai meninggal di RS, guru agama di Pare-pare dipolisikan orangtua hanya karena menyuruh anaknya shalat.

Terakhir, kasus yang terbaru, Penganiaan guru oleh orangtua zaman now di Sungguminasa sungguh menyentak publik dan membuat miris, sekaligus kita berduka. Ternyata perubahan zaman menyebabkan cara pandang orangtua telah berubah.

Lihat pula:  Adab-adab Penuntut Ilmu dan Kalam Para Ulama

Seorang guru yang dahulunya dianggap sebagai orangtua kedua di sekolah, kini dianggap sebagai sebuah profesi yang tidak jauh berbeda dengan Profesi lainnya.

Hal itu nampak sangat terlihat ketika ada orang tua murid yang berkomentar “Aku saja tidak pernah menjewer anakku, kok dia yang tidak ikut melahirkan malah menjewer anakku sampai merah kayak gini.”

“Saya yang carikan makan anakku tidak pernah pukul begitu, eeh gurunya yang tidak pernah memberinya makan walau sesuap justru yang pukul”, dan lain-lain.

Dari kalimat ini menunjukkan bahwa orang tua murid tersebut menganggap bahwa guru yang bersangkutan hanyalah orang yang bekerja sebagai pemberi ilmu ketika di sekolah.

Bukan lagi sebagai orang tua kedua bagi anaknya, yang juga mempunyai hak untuk mengingatkan ketika melakukan kesalahan di sekolah.

Apa akibatnya bagi anak jika ada sikap demikan dari orangtua? Ketika orang tua mempunyai pandangan seperti ini, maka otomatis sang anak akan merasa mendapat perlindungan dari orang tuanya ketika ia mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari gurunya.

Akibatnya, sang anak akan semakin berani kepada gurunya. Semakin kurang ajar (makassar: patua-tuai) karena merasa ada yang belah, padahal harusnya dalam diri anak tumbuh pemikiran bahwa dimanapun dia berada dan dengan siapapun dia berhadapan semua akan melihat bahwa kesalahan adalah kesalahan yang punya konsekuensi, bukan mendapat perlindungan dan pembenaran dari orang lain.

Zaman memang telah berubah waktu terus berjalan dan zaman akan semakin berkembang, namun alangkah baiknya kalau adab al’alim wal muta’allim (adab guru dan murid) tetap dijaga.

Bagaimana seorang guru bersikap sebagai pendidik dan bagaimana murid bersikap sebagai pencari ilmu, termasuk orangtua di rumah.

Wallahu ‘alam bish-shawab.

 

Dari: al-faqir ilallah, Nasaruddin Linggi Allo.

Like it? Share it!

Leave A Response