Beranda Artikel 'Psikosastra', Belajar Psikologi dari Karya Sastra

‘Psikosastra’, Belajar Psikologi dari Karya Sastra

Buku Psikosastra dan Psikolinguistik. (foto: ist/palontaraq)
Buku Psikosastra dan Psikolinguistik. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil *)

Tulisan sebelumnya:  Membaca Ulang “Bumi Manusia” dalam Tafsir Hanung Bramantyo

PALONTARAQ.ID – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan pengertian Psikosastra /psi·ko·sas·tra/ n sebagai Pendekatan sastra yang bertolak dari Psikologi. Ya, Psikologi dan Sastra adalah dua aspek pengetahuan yang berbeda namun memiliki berbagai keterkaitan.

Lewat Psikosastra, Psikologi didekati dengan Pendekatan Sastra, bisa pula sebaliknya, bahwa Sastra bisa dipahami dengan Pendekatan Psikologi. Kedua aspek pengetahuan ini bisa saling melengkapi dan mempengaruhi dari pendekatannya.

Sastra, merujuk pada kesusasteraan, dimaknai sebagai suatu hasil karya penulisan yang mengandung keindahan dan unsur seni, misalnya puisi, drama dan esai. Di sisi lain, Psikologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tingkah laku dan proses mental yang dialami dan diperbuat oleh manusia.

Sastra tentu lebih cenderung ke arah fiksi yang menonjolkan keindahan, sementara Psikologi lebih cenderung ke arah yang riil dan berdasarkan fakta. Meskipun demikian keduanya saling berkaitan karena mengangkat tema manusia dan kehidupannya sebagai bahan analisa yang utama (Jatman, 1985).

Karya Sastra yang awalnya hanya karya tumpahan perasaan dan hanya dinilai sebagai bacaan pengisi waktu luang semata, di kekinian telah menjadi bahan kajian dalam memahami dinamika kehidupan.

Berbagai kajian lainnya seperti Sosiologi Sastra, Antropologi Sastra, Psikolinguistik dan yang lainnya, semua berkembang karena didorong minat untuk memahami karya sastra secara lebih mendalam.

Psikologi Sastra melakukan kajian sastra dengan memandang karya sastra sebagai kegiatan kejiwaan baik dari sang penulis maupun para pembacanya (Kinanti, 2006).

Karya sastra, terutama yang berbentuk prosa seperti cerpen, drama, roman atau novel pasti selalu menampilkan kisah Tokoh-tokoh dalam menjalani kehidupan mereka. Contoh yang baik dalam hal ini, diantaranya ialah “Bumi Manusia”, roman karya Pramoedya Ananta Toer, Dibawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, dan lain sebagainya.

Lihat pula: Menulis ala Buya Hamka

Buku Psikosastra dan "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer. (foto: ist/palontaraq)
Buku Dasar-dasar Psikosastra dan Roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. (foto: ist/palontaraq)

Dalam penulisan Karya Sastra, para pengarang atau sastrawan pasti menghadirkan tokoh dengan karakter dan perilaku yang unik untuk menambah daya tarik pada cerita yang dituliskannya. Aspek inilah yang dipelajari dalam Psikosastra.

Wellek dan Austin (1989:90) menjelaskan bahwa Psikosastra, memiliki empat arti, yaitu:

Pertama, Psikosastra adalah pemahaman kejiwaan sang penulis sebagai pribadi atau tipe.

Kedua, Pengkajian terhadap proses kreatif dari karya tulis tersebut.

Ketiga, Analisa terhadap Hukum-hukum Psikologi yang diterapkan dalam karya sastra.

Keempat, Psikologi Sastra juga diartikan sebagai studi atas dampak sastra terhadap kondisi kejiwaan daripada pembaca.

Psikosastra juga adalah analisa terhadap sebuah karya sastra dengan menggunakan pertimbangan dan relevansi ilmu psikologi. (Ratna, 240:350)

Hal ini berarti Aplikasi Psikologi dalam melakukan analisa terhadap karya sastra lebih kepada sisi kejiwaan pengarang, tokoh maupun para pembaca. Dengan kata lain, dapat juga dikatakan bahwa psikologi sastra melakukan kajian terhadap kondisi kejiwaan dari penulis, tokoh maupun pembaca hasil karya sastra.

Secara umum dapat diambil kesimpulan adanya hubungan yang erat antara ilmu psikologi dengan karya sastra. Tujuan utama dari psikologi sastra adalah memahami Aspek-aspek kejiwaan yang terdapat dalam sebuah tulisan.

Secara hakiki, karya sastra memberikan cara untuk memahami perubahan, kontradiksi dan berbagai penyimpangan dalam masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan kondisi kejiwaan.(*)

 

(*  Etta Adil, Pembelajar Psikologi dan Penikmat Karya Sastra.

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...