Menulis ala Buya Hamka

Buya Hamka (sumber foto: pantura)

Buya Hamka (sumber foto: pantura)

Siapa yang tidak mengenal Buya Hamka. Beberapa waktu lalu di banyak Teater 21 sedang diputar film besutan sutradara Hanny R. Saputra, “Dibawah Lindungan Ka’bah” yang dibintangi Herjunot Ali dan Laudia Cynthia Bella, judul sama yang diangkat dari roman karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (disingkat HAMKA). Beliau lahir di Kampung Molek Maninjau, Sumatera Barat, pada Tahun 1908 dan berpulang di Jakarta dalam usia 73 tahun pada tanggal 24 Juli 1981.

Penulis dan Pengarang yang pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesa (MUI) era Menteri Agama Mukti Ali pernah berkata, “Saya Menulis dengan Ilham”. Ketika akan menulis, Buya Hamka langsung duduk di depan mesin ketik, dan  mengetik apa saja yang ada dalam hati dan pikirannya. Jari tangannya bergerak menekan tuts mesin ketik mengikuti kata hati dan pikirannya dan membiarkan ide dan gagasannya mengalir begitu saja, terus menerus apa adanya seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Sejarah kemudian mencatat betapa produktifnya beliau menulis dan tulisannya mendapatkan penerimaan yang baik bagi kalangan pembacanya, bahkan hingga kini masih sering buku karyanya mengalami cetak ulang.

Kenapa Buya Hamka begitu lancar menumpahkan segala buah pikiran dan hatinya dalam sebuah tulisannya. Tentunya jejak rekamnya sebagai pencinta ilmu membantunya menemukan kosakata dan deretan kalimat menarik serta bernas dalam tulisannya. Akan sangat mudah menulis dengan lancar jika kita fokus dan komitmen pada apa yang paling kita ketahui. Beliau seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.  Dengan kemahirannya berbahasa arab, Buya Hamka menyelidiki karya ulama dan pujangga besar Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Beliau juga mendalamikarya sarjana barat seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee,Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Buya Hamka juga seorang aktivis politik di masa hidupnya. Perkenalan dan persahabatannya dengan beberapa tokoh sejarah penting seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo membuatnya dapat menganalisis dan kritis ketika menulis tentang sosial politik dalam negeri, disamping memupuk dirinya sebagai orator yang handal. Beliau juga pernah menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi orator utama dalam Pemilihan Umum Tahun 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1960.

Menulis ala Buya Hamka adalah menuliskan apa yang dipikirkan dan dialaminya. Dan ketika semua pikiran dan pengalaman tersebut akan dituliskan, cukup duduk di depan mesin ketik dan langsung mengetik apa saja yang terbersit dalam pikiran dan hati. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengetik apa yang telah ditulis atau mengomentari tulisan orang lain, tapi membebaskan diri menulis apa saja yang ada dalam hati dan pikiran, dan itu berarti kita telah menjadi diri kita seperti yang kita mau. Di saat semua fasilitas menulis sudah lengkap dan menggunakan komputer, kita seharusnya malu jika tak sanggup menelorkan karya apa-apa.

Dengan ribuan tulisannya diberbagai bidang tersebut, Hamka boleh dibilang pribadi yang lengkap. Beliau adalah Wartawan (aktif sekitar Tahun 1920-an di Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah), Editor  aktif di Majalah Kemajuan Masyarakat pada Tahun 1928, Pemimpin Penerbitan/Pemimpin Redaksi (Menerbitkan Majalah al-Mahdi di Makassar, Pedoman Masyarakat pada Tahun 1936-1942, Mimbar Agama Majalah Departemen Agama pada Tahun 1950-1953, dan Panji Masyarakat dari Tahun 1956, dan Gema Islam.

Sebagai sastrawan, beberapa karya romannya masih bertahan dan digemari hingga kini. Beberapa diantaranya yang diterbitkan Balai Pustaka, yaitu Laila Majnun (1932), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Di Dalam Lembah Kehidupan (1939), dan Merantau ke Deli (1940).  Buya Hamka boleh dibilang ulama yang sastrawan dan sastrawan yang ulama, lewat pengajaran, ceramah dan karya sastra yang ditelorkannya selain sastrawi juga mencerahkan umat.

Saat Buya Hamka dipenjarakan oleh Rezim Soekarno (1964-1966). Selama beliau dipenjara, Buya Hamka menelorkan karya terbesarnya, “Tafsir al-Azhar” yang terdiri atas puluhan jilid itu. Sungguh luar biasa. Kreatifitasnya dalam menulis tidaklah ikut terkungkung, pikirannya tetap merdeka dan yakin akan kebenaran yang diperjuangkannya meski fisiknya terpenjara. Keluar dari penjara, Beliau tetap dihormati dan disegani sebagai Ulama, Pelaku Sejarah dan Budayawan, Sastrawan dan Akademisi. Kharisma keilmuan dan tulisan-tulisannya diakui di dalam maupun di luar negeri. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response