Media Rezim hebat dalam Pabrikasi Pengalihan Isu

Rezim hebat dalam Pabrikasi Pengalihan Isu

-

- Advertisment -

Ratusan Petugas KPPS Pemilu 2019 meninggal tenggelam beritanya akibat pengalihan isu yang luar biasa. (foto: ist/palontaraq)
Ratusan Petugas KPPS Pemilu 2019 meninggal tenggelam beritanya akibat pengalihan isu yang luar biasa. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Asyari Usman

Related Post: Pilpres 2019 yang Menentukan

PALONTARAQ.ID – Sekarang ini tidak ada lagi yang berbicara soal 600-an petugas KPPS Pemilu 2019 yang meninggal dunia. Keluarga yang meninggal diberi santunan 36 juta.

Ketua KPU, Arief Budiman, menyerahkan uang itu kepada keluarga korban sambil fotonya diambil. Di foto itu ada plakat bertuliskan “Penyerahan Santunan 36,000,000”. Disiarkan oleh media. Persoalan dianggap selesai.

Tak ada lagi cerita tentang Pemilu yang paling buruk. Tak ada lagi yang mempersoalkan Pemilu yang paling kacau sepanjang sejarah demokrasi di negeri ini. Rezim Pemerintah bisa melenggang tanpa ada yang mengejar soal kematian itu. Kematian massal yang dianggap misterius tersebut.

Usul agar dilakukan otopsi terhadap jenazah petugas KPPS itu, ditolak begitu saja. Tidak ada yang memprotes penolakan itu. Tidak ada yang memberitakan meskipun ada protes.

Ratusan Petugas KPPS Pilpres 2019 meninggal: Pahlawan atau korban? (foto: swamedium)
Ratusan Petugas KPPS Pilpres 2019 meninggal: Pahlawan atau korban? (foto: swamedium)

Kontroversi soal hasil Pilpres 2019 yang penuh dengan dugaan kecurangan massif itu, juga bisa hilang. Diganti dengan isu ‘permen koalisi’. Diambil alih oleh heboh diplomasi nasi goreng dan pertemuan Lebak Bulus. Disusul hiruk-pikuk jatah kursi menteri.

Yang goblok-goblok kemudian memunculkan isu Poros 3. Lalu ada soal ‘penumpang gelap’. Seolah-olah tidak ada lagi persoalan keabsahan penghitungan suara Pilpres 2019. Seakan tidak ada masalah legitimasi jabatan presiden dan wakil presiden.

Semua diminta atau direkayasa supaya ‘move on’. Melupakan perampokan kolosal suara rakyat. Diminta membiarkan konspirasi jahat itu berlalu tanpa prosekusi (langkah hukum).

Harus diakui kepintaran dan kehebatan mereka mengalihkan perhatian publik. Hebat. Acungan jempol untuk kehebatan penguburan isu pilpres yang sebetulnya merupakan skandal demokrasi terbesar dan terburuk di dunia.

Mereka buat fabrikasi isu-isu pengganti. Muncul dengan rapi dari hari ke hari. Sekarang ada soal pemindahan ibu kota. Disusul masalah Papua yang diduga keras adalah ‘permainan’ Orang-orang yang memiliki kekuasaan di luar sistem.

Akibatnya, publik dihebohkan oleh kedua topik yang trendy ini. Kejahatan demokrasi yang sebetulnya sangat merusak perjalanan bangsa ini, menjadi semakin jauh dari publik.

Padahal, kejahatan politik itu baru saja dilakukan beberapa bulan yang lalu. Belum sampai setengah tahun.  Luar biasa pintar dan ampuh cara kerja mesin pengalihan isu di negeri ini. Perampokan dahsyat itu lenyap begitu saja.

RIP Demokrasi. (sumber ilustrasi: kompasiana)
RIP Demokrasi. (sumber ilustrasi: kompasiana)

Rakyat dihibur dengan kontroversi pemindahan ibukota dan ancaman Papua lepas. Seakan-akan seluruh proses Pilpres 2019 itu tidak ada masalah. Seakan hasil pilpres 2019 bersih dari najis.

Kemudian, kesulitan berat perekonomian juga bisa mereka tutupi. Dampak fatal akibat utang besar, juga dibuat seperti tidak bermasalah. Strategi senyap hegemoni ekonomi RRC, berjalan tanpa gangguan yang berarti.

Penyelundupan Narkoba berskala besar bisa berlangsung di balik kobaran beberapa isu baru itu. Ancaman terhadap KPK yang bakal jatuh ke tangan para bandit, tersisihkan oleh orkestrasi isu-isu tersebut.

Semua orang membahas ibukota baru dan Papua. Dalam dua hari ini, ditambah isu hukuman kebiri kimiawi untuk pelaku kejahatan pedofil di Mojokerto. Semua media memberikan bobot yang berlebihan terhadap isu baru ini.

Begitulah cara mereka mengacak-acak perhatian publik. Membuat kejahatan para penguasa dan ancaman kekuatan asing, lepas dari kejaran media. Lepas dari investigasi jurnalistik dan jurnalistik investigatif. (*)

 

Asyari Usman, 29 Agustus 2019

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Rapid Test mulai Hari Ini di Makassar, Gratis!

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Sepekan terakhir ini ramai diviralkan Rapid Test di Makassar akan digratiskan, khususnya bagi mereka yang...

Pesan Dakwah Prof dr Veni Hadju: Sedekah Harian

  Oleh: Prof. dr. Veni Hadju Lihat pula: Beli Kesulitan dengan Sedekah PALONTARAQ.ID - "Apakah saya sudah bersedekah hari ini?" Pertanyaan ini...

Must read

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you