BerandaAkademiaMenulis di Jurnal Scopus

Menulis di Jurnal Scopus

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Apa dan bagaimana menulis di Jurnal Scopus? Ya, pertanyaan ini sering diajukan oleh mahasiswa baru pascasarjana yang sejak ditekankan tugas dan kewajiban menulis di Jurnal Scopus. Menulis di Jurnal Scopus adalah langkah penting bagi peneliti, dosen, atau mahasiswa pascasarjana (Postgraduate Students) yang ingin karyanya diakui secara internasional.

Apa itu menulis di jurnal Scopus? Scopus adalah salah satu indeks database terbesar yang mengindeks jurnal bereputasi internasional. Menulis di jurnal scopus artinya menyiapkan artikel ilmiah yang bisa diterima dan dipublikasikan di jurnal yang terindeks Scopus. Ciri khasnya: artikel harus original, relevan, metodologis kuat, berkontribusi pada ilmu pengetahuan, dan sesuai standar internasional.

Bagaimana caranya menulis di jurnal Scopus? Ini tentu pertanyaan penting yang harus dipahami dengan baik, dan harus diikuti dengan tindak lanjut yang terarah dan fokus ke depan mau menulis artikel tentang apa. Langkah pertama adalah Tentukan topik penelitian. Pastikan topik up-to-date dan memiliki novelty (kebaruan). Fokus pada masalah global atau kontribusi nyata pada bidangmu.

Cari jurnal yang sesuai dengan menggunakan situs resmi Scopus Sources atau journal finder (misalnya Elsevier Journal Finder, Springer Journal Suggester). Silakan cek Scope jurnal, impact, Q1-Q4 ranking, atau author guidelines.

Format umum untuk artikel internasional urutannya adalah:

  1. Title. Judul singkat, jelas, mencerminkan isi.

  2. Abstract. Memuat ringkasan (250–300 kata), memuat tujuan, metode, hasil, kesimpulan, novelty.

  3. Keywords. Berisi 4–6 kata kunci relevan.

  4. Introduction. Pengantar menjelaskan masalah, tinjauan pustaka, research gap, dan tujuan penelitian.

  5. Methodology. Mengungkap detail metode, instrumen, analisis data.

  6. Results & Discussion. Menyajikan data, tabel, grafik; analisis temuan dibandingkan dengan riset terdahulu.

  7. Conclusion. Memuat temuan utama, kontribusi, implikasi.

  8. References. Menggunakan manajemen sitasi (Mendeley/Zotero), mayoritas dari jurnal Scopus 5–10 tahun terakhir.

Selanjutnya adalah Proses Pengiriman (Submission). Ikuti author guidelines jurnal dengan detail (template, format sitasi, panjang artikel, dan lain-lain). Submit via OJS/ScholarOne (tergantung platform jurnal) dan selanjutnya Artikel akan masuk proses peer review (double blind review). Penulis mungkin diminta revisi (minor/major revision). Jika lolos, artikel akan diterima (accepted) dan terbit (published).

Bagaimana tipsnya agar artikel diterima di Jurnal Scopus? Pastikan novelty & originalitas (jangan sekadar replikasi), Gunakan bahasa Inggris akademik yang baik (bisa gunakan proofreading/grammar checker), Jangan self-plagiarism, pastikan similarity index ≤ 20% (cek di Turnitin/iThenticate), Perbanyak sitasi dari artikel internasional bereputasi. Jika pemula, bisa bergabung dengan kolaborasi penelitian atau co-author dengan dosen/pakar berpengalaman.

Strategi Memilih Jurnal Scopus agar Cepat Terbit

1. Pilih Jurnal yang Sesuai dengan Bidangmu. Jangan asal kirim ke jurnal yang “cepat”, tapi pastikan scope jurnal sesuai dengan topik penelitianmu. Jika tidak sesuai scope, naskah langsung ditolak (desk rejection), berapa pun kualitasnya.

2. Cek Quartile (Q1–Q4). Jurnal Scopus dibagi 4 ranking (Q1 paling tinggi, Q4 paling rendah). Q1 & Q2 → prestisius, tapi proses review bisa 6–18 bulan. Q3 & Q4 → lebih ramah untuk penulis pemula, biasanya lebih cepat (2–6 bulan). Untuk cepat terbit, bidik Q3 atau Q4.

3. Cek Publisher dan OJS. Jurnal terbitan Elsevier, Springer, Taylor & Francis, Wiley → prestisius tapi lama review. Jurnal terbitan universitas atau asosiasi profesi (non-profit) → biasanya lebih cepat prosesnya. Lihat di website: apakah mereka memakai OJS (Open Journal System) → biasanya lebih transparan dan timeline jelas.

4. Perhatikan Review Timeline. Ada jurnal yang mencantumkan rata-rata waktu review (misalnya: First decision: 4 weeks, Publication: 8 weeks). Cari jurnal yang transparan soal “average submission to publication time”.

5. Lihat Article Processing Charge (APC). Open Access (OA) dengan APC → umumnya lebih cepat, tapi ada biaya (USD 300–2000). Non-OA → gratis, tapi bisa lebih lama. Strateginya, kalau butuh cepat dan punya dana, pilih OA. Kalau tidak, cari jurnal non-OA yang jelas timeline-nya.

6. Cek Riwayat Penerbitan. Lihat berapa banyak artikel yang mereka terbitkan per tahun/issue. Jurnal dengan kuota artikel banyak per issue → biasanya lebih cepat menerima. Bandingkan juga “Accepted date” dan “Published date” di artikel sebelumnya.

7. Periksa Redaksi & Reviewer. Jurnal dengan editor dari berbagai negara → biasanya lebih profesional, cepat, dan terstruktur. Jika editor hanya dari satu negara kecil → kadang proses bisa lama dan kurang terstandarisasi.

8. Hindari Jurnal Predator. Jangan tergiur janji “pasti diterima dalam 2 minggu” → biasanya predator. Cek di Scopus Source List resmi apakah jurnal masih aktif diindeks Scopus.

Terakhir, Gunakan Elsevier Journal Finder atau Springer Journal Suggester untuk menemukan jurnal sesuai naskahmu. Kalau targetmu cepat, prioritaskan: Jurnal Q3/Q4, Open Access dengan APC terjangkau. Terbitan asosiasi/universitas, bukan hanya komersial besar. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Mahasiswa Pascasarjana Dirasah Islamiyah UIN Alauddin Makassar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT