Surat Terbuka untuk Dek Mahfud

Screenshot Berita VIVA. (foto sc: ist/palontaraq)

Screenshot Berita VIVA. (foto sc: ist/palontaraq)

Oleh: Setiawan Budi

Related Post: Bukankah Tentara ketika Berperang ingin Syahid dengan Kalimat Tauhid itu?

PALONTARAQ.ID – Teruntuk Dek mpud, aku hadir lagi. Apalagi kehebohan yang kau bawa saat ini, dek?

Setelah kemarin kau enteng mengatakan daerah yang mendukung 02 terpapar islam garis keras, sekarang kau mencoba naikkan nama untuk kasus anak yatim bernama Enzo Allie. Gak ada bedanya kau dengan artis-artis yang mempertontonkan drama pelecehan. Untuk sebuah nama, kau mampu berlaku di luar nalar.

Dek mpud..

Tolong hargai uang rakyat yang dipakai untuk membeli beras di rumahmu. Tolong renungkan uang rakyat yang dipakai untuk membiayai sekolah anakmu, tolong nilai uang rakyat yang diberikan pada cucumu, kala ia datang menjengukmu. Besar kau digaji rakyat, tapi kelakuanmu makin bejat dengan pemikiran buzzer laknat.

Gak ada bijak-bijaknya kau berkata dalam membahas sebuah permasalahan. Ketika pembahasan tentang radikalisme dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), mukamu menjadi lebih hitam dan kata-kata yang kau keluarkan jauh dari bidang ilmu yang dikuasai.

Kenapa dek..?

Harusnya sebagai orang yang dekat dengan pemerintah dan berpengalaman di bidang hukum, kau lebih paham status hukum HTI dan perlakuan pada bendera tauhid.

Apakah HTI dinyatakan ormas terlarang ‘dek? Apakah bendera Tauhid juga dinyatakan terlarang oleh negara ini? Jika dinyatakan terlarang, kau harusnya berbicara dengan membawa landasan hukumnya, bukan opini yang akan dianggap kebenaran oleh pemuja dajjal.

Kamu ingat gak dek, pembicaraan di twitter kala ada orang yang menanyakan padamu apakah eks anggota HTI boleh bekerja masuk pemerintahan?

Indah kau jawab dengan mengambil contoh Anak-anak eks PKI boleh menjadi caleg. Padahal Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan terlarang melalui ketetapan MPRS. Dan kau pun berkata bahwa eks HTI masih boleh berkecimpung di pemerintahan menjadi PNS atau menjadi apapun. Karena HTI berbeda dengan PKI. HTI hanya di cabut status administrasinya, dan pencabutan itu tidak menjadikan HTI sebagai ormas terlarang. Untuk turunan PKI saja negara masih menerima mereka sebagai caleg, mengapa untuk Enzo lidahmu menjadi berbelok?

Hanya bermodalkan jejak digital, kamu bisa berlaku kejam melebihi hakim di persidangan yang meminta bukti otentik selain postingan di sosmed. Padahal dirimu sendiri adalah mantan Hakim.

Mpud..

Andaikan benar Enzo dan ibunya adalah eks HTI, apakah cara yang kau katakan itu bisa dinilai benar? Enzo harus dikeluarkan katamu dari Akmil?

Jika aku jadi dirimu, maka inilah kata-kata yang akan aku sampaikan pada media. “Kita harus selidiki dulu apakah benar Enzo itu terpapar radikalisasi dan HTI. Jika benar, gak seharusnya juga ia di keluarkan dari TNI. Justru TNI harus mampu membina Enzo untuk kembali berpikiran jernih atas ideologi bangsa ini.”

“Enzo seorang taruna yang fenomenal, kemampuan bahasa asing dan hasil tes fisik yang di atas rata-rata, menjadikan dirinya sosok spesial. Bahaya jika kita berlaku tidak adil pada diri enzo. Ia akan sakit hati, dan lebih bahaya lagi jika ada pihak lain memanfaatkan rasa sakit hati Enzo. Dia akan jadi senjata mematikan jika di manfaatkan melawan negara ini.”

Ada rangkulan dan ada pelukan bila benar penyelidikannya mengatakan Enzo terlibat HTI. Bukan malah memperlakukannya bak pelaku PKI.  Itu jika benar, jika tidak benar? Bagaimana dek  ‘mpud?

Lihat pula: Yusril Ihza Mahendra: HTI bukan Ormas Terlarang

Perkataanmu sudah termasuk hatespeech (ujaran kebencian). Ada arah kebencian yang kau tuduhkan karena status sosial media Enzo dan ibunya. Secara tidak langsung, kau sudah memberikan provokasi pada orang2 yang memang tidak memahami aturan negeri ini.

Perlakuan pada diri enzo, sudah di luar logika. Pembunuhan karakter dirinya dan nama ibunya, benar-benar sudah mencerminkan bahwa slogan Pancasila itu hanya pemanis saja. Dan diantara manusia dungu itu, mengapa ada dirimu ikut ambil bagian di sana ‘dek?

Banyak penyesalan diri, kenapa saya harus merelakan uang pajak yang saya setor untuk menggaji Manusia seperti mu ‘dek.

Jika di suruh memilih, memberi gaji pada mu atau memberikan modal pada gelandangan, maka saya akan memilih pada gelandangan. Setidaknya, uang saya menjadi manfaat besar pada dirinya. Dari pada saya harus menggaji, manusia-manusia bejat macam dirimu. Yang terlalu cepat menyimpulkan, tanpa pernah paham rasa sakit pada orang lain.

Dirimu bukan lagi seorang hakim, saat ini dirimu di pandang seorang yang mempunyai basis ilmu hukum. Cerminkan lah tindakan Praduga Tak Bersalah atas kehebohan yang terjadi. Jangan malah ikut memanasi.

Dek..Saya mau tanya.  Apa beda dirimu dengan abu janda?

Bedanya hanya terletak pada kumis saja. Selebihnya, isi otak mu dan dia sama. Itu yang terlihat kala kau menemui media dan berbicara mengenai tuduhan terpapar HTI.

Seharusnya makin tua makin berisi, bukan makin tua malah jadi gak ada isi. Perkataan mu di media, sudah berubah filosofi ilmu padi.

Mpud..

Tolong, di sisa umur saat ini. Hendaknya berlaku bijak dalam setiap permasalahan. Jangan karena ingin jadi menteri, kau tabrak aturan sendiri. Rezeki gak akan kemana, jika memang menteri adalah rezeki mu, maka itu akan kau dapatkan tanpa harus membodohkan diri atas sebuah pernyataan.

Sebagai Abang muda’mu, aku kecewa. Dirimu tidak pernah belajar dari kesalahan. Kata orang kampung kami bilang, Tua-Tua Gak Tau Diri. Sudah tua, bukannya banyakin ngaji, malah mencari sensasi.

Sampaikan salam buat ayah dan ibu mu ‘dek..

 

Dari aku, Abang muda mu, Setiawan Budi

Like it? Share it!

Leave A Response