BerandaLiterasiLegenda tentang Pedang Naga Puspa dan Arya Kamandanu

Legenda tentang Pedang Naga Puspa dan Arya Kamandanu

Oleh: Madidi EA 

PALONTARAQ.ID – Bagi masyarakat Indonesia yang merupakan kelahiran Tahun 1980-an hingga Tahun 1990-an, tentu akrab dengan sandiwara radio Tutur Tinular, sebuah sandiwara radio epik karya S. Tidjab, tentang legenda Arya Kamandanu dengan Pedang Naga Puspa-nya dalam serial cerita berlatar sejarah runtuhnya Kerajaan Singasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Sandiwara Radio “Tutur Tinular” ini pernah diangkat dilayar lebar pada Tahun 1989 dengan disutradarai oleh Nurhadi Irawan, yang dibintangi oleh Benny G. Rahardja dan Yoseph Hungan.

Film “Tutur Tinular” ini menceritakan tentang Arya Dwipangga (Baron Hermanto) yang senang olah sastra, adiknya Arya Kamandanu (Benny G. Rahardja) yang gemar Ilmu Kanuragan. Kekasih Kamandanu direbut oleh Dwipangga dan ia kemudian lari dan terperangkat masuk gua, singkat cerita ia ditemukan oleh Mpu Ranubaya dan dijadikan murid.

Mpu Ranubaya sebenarnya adalah kawan seperguruan Mpu Hanggareksa, ayah Kamandanu. Tetapi dua empu ini bertolak belakang dalam sikap. Hanggareksa mengabdi kepada Raja Singasari, Kertanegara (yang dalam Film diperankan oleh Aspar Paturusi), sedang Ranubaya tidak mau.

Kertanegara kedatangan utusan Kubilai Khan dari Mongolia yang ingin menjalin hubungan damai. Tawaran itu ditampik. Utusan Mongolia kecewa dan pulang sambil menculik Empu Ranubaya (Yoseph Hungan). Di Mongolia Empu Ranubaya sangat diperhatikan Kubilai Khan (Syarief Friant), dan disuruh membuat cemburu perwira tinggi lain. Mereka merencanakan melenyapkan Empu Ranubaya. Untung ada kelompok lain yang menyelamatkan Empu Ranubaya dan pedangnya, yaitu Lou (Lamting) dan istrinya Mei Shin (Elly Ermawati), yang kemudian disuruh membawa pedang itu dan terdampar di Jawa.

Pedang Naga Puspa yang sakti lalu diperebutkan para pendekar kerajaan Kediri yang baru saja dibangun menggantikan Singasari. Lou dan Mei Shin dibantu oleh Kamandanu. Lou meninggal. Mei Shin berniat balas dendam.

Pada Tahun 2015, seakan cerita tentang “Tutur Tinular“, Arya Kamandanu dengan Pedang Naga Puspa-nya, masih belum kehilangan penggemarnya, muncul serial televisi Indonesia berjudul “Pedang Naga Puspa” yang diproduksi Amanah Surga Production, ditayangkan perdana 7 Desember 2015 pukul 19.45 WIB di SCTV.  Serial ini disutradarai oleh Eddy S. Jonathan dan dibintangi oleh Rico Verald, Affandy, dan Barry Prima.

***

Arya Kamandanu adalah putra Mpu Hanggareksa, ahli pembuat senjata dari Kerajaan Singasari. Kamandanu diam-diam berguru kanuragan ke kakak seperguruan ayahnya, Mpu Ranubhaya yang dianggap sebagai saingan ayahnya. Kakak Kamandanu, Arya Dwipangga tidak menyukai silat, namun ahli dalam syair dan seni sastra mampu merebut kekasih Kamandanu, yaitu gadis cantik dari desa Manguntur, Nari Ratih.

Arya Kamandanu memutuskan untuk mendalami kanuragan hingga menjadi pendekar pendekar muda tanpa tanding. Mpu Ranubaya memberikan pedang yang dibuatnya sendiri secara khusus sesuai jurus kanuragan yang diciptakannya, yaitu Naga Puspa. Namun belum selesai pedang itu dibuat, terjadi peristiwa bersejarah di Istana Singasari, Meng Chi, utusan Kaisar Kubilai Khan dari Tiongkok meminta Kertanegara, Raja Singasari untuk tunduk kepada bangsa Mongol.

Sebelum Meng Chi kembali ke Mongol, di sebuah kedai makan terjadilah keributan. Mpu Ranubaya berhasil mempermalukan mereka dan menunjukkan kemahirannya dalam membuat pedang. Melihat hal itu, Meng Chi menggunakan muslihat jahat dengan menculik Ranubaya dan membawanya ke Mongol.

Cerita tentang Arya Kamandanu dengan Pedang Naga Puspa-nya sebenarnya adalah tokoh fiktif dalam cerita sandiwara radio “Tutur Tinular”. Apakah tokoh ini benar-benar pernah ada dalam sejarah. Tak ada yang dapat memastikannya seratus persen, namun kehadiran tokoh cerita ini dalam cerita fiksi, membuat banyak kemudian penikmat “Tutur Tinular” untuk melakukan penelusuran.

Sandiwara radio “Tutur Tinular” ini pertama kali mulai disiarkan pada 1 Januari 1989 dan dipancarluaskan lebih dari 512 pemancar stasiun radio di seluruh Indonesia. Beberapa waktu lalu, Di kanal Youtube “Cakra Panorama”, diberitakan ditemukannya sebuah makam yang diduga sebagai pusara dari Arya Kamandanu.

Hal itupun memunculkan pertanyaan apakah sosok Arya Kamandanu sendiri benar-benar ada atau hanya fiktif belaka? Melalui unggahan di kanal Youtube Cakra Panaroma, malahan dibagikan potret sebuah makam yang terletak di dekat komplek candi Patakan, Lamongan, Jawa Timur. Menurut penuturan pak Agus selaku juru rawat candi Patakan, Pusara yang ada disitu merupakan makam dari pendekar sakti yang dikenal sebagai mbah Danu (Arya Kamandanu).

Potret makam itu berada di area hutan sekitar 100 meter dari Candi Patakan. Terlihat kondisi makam tersebut ditumpuk dengan batu kapur yang sudah tertutup lumut. Masyarakat setempat menyebut, makam itu merupakan pusara milik seseorang yang dipanggil Mbah Danu (Arya Kamandanu). Di sekitar malam, ditemukan fragmen keramik China yang diperkirakan berasal dari Abad XIII, masa Dinasti Ming dan Yuan.

Benar tidaknya itu Makam Arya Kamandanu di sekitar Candi Patakan, wallahu ‘alam bish-shawab. Yang jelas tokoh “Arya Kamandanu” telah melegenda dalam cerita “Tutur Tinular” dan memberi warna tersendiri dalam pemaknaan perjalanan sejarah Runtuhnya Kerajaan Singasari, Kediri, sampai masa-masa awal kerajaan Majapahit. (*).

 

(* Madidi_EA, Penikmat Sandiwara Radio serial “Tutur Tinular”. #pedangnagapuspa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT