Bukankah Tentara ketika Berperang Ingin Syahid dengan Kalimat Tauhid itu?

(foto: sc.ist/palontaraq)

Foto dalam akun Facebook Enzo Allié (foto: sc.ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan Sebelumnya: Pemimpin tanpa Solusi

PALONTARAQ.ID – Seorang putra bangsa berprestasi, pemuda blasteran Prancis bernama Enzo Zensi Allie yang lolos akademi militer (Akmil) dituding terpapar radikalisme. Isu ini beredar hanya karena ada foto dalam akun Facebook Enzo Allié yang membawa bendera tauhid.

Sejumlah pujian dan rasa bangga terhadap Enzo berubah drastis menjadi bully-an, tudingan, prasangka, cibiran bahkan vonis-vonis sesat tanpa bukti. Hanya karena ‘bendera tauhid’ Enzo dipertanyakan komitmennya untuk membela negara sebagai seorang Tentara.

Padahal, bendera itu bendera tauhid, bendera dengan lafadz tauhid, Lafadz yang ingin diucapkan kala meregang nyawa membela Nusa dan Bangsa, melawan musuh yang mengancam kedaulatan negara.

Kalimat tauhid adalah kalimat Agung yang membuat seorang muslim -dengan status apapun- tak akan takut melawan musuh di Medan perang apapun.

Namun, karena urusan politik kalimat tauhid ini seolah menjadi nista. Semua yang membawa, bangga akan kalimatnya, dianggap terkait radikalisme. Bahasa Klisenya, terpapar radikalisme.

Padahal, hingga saat ini tidak jelas makhluk apa itu radikalisme. Penjajahan yang jelas merusak kedaulatan bangsa, pengambilalihan aset dengan dalih kerjasama, tidak dianggap bermasalah. Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga hanya dianggap hal sepele.

Bahkan, ketika anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) tewas diberondong peluru OPM, Wiranto meminta tidak perlu di besar-besarkan. Dia, mengganggap itu hal wajar. Tdk ada pula, marwah negara yang tegas menuntut balas, atau melakukan pengepungan terhadap OPM.

OPM sendiri, sampai saat ini tidak disebut radikal, tidak pula teroris. Negara begitu sopan, hanya menyebut OPM sebagai Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) atau paling banter Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB).  Hanya kelompok kriminal bersenjata. Kayak geng tawuran saja.

Andai saja, Enzo atau yang lainnya tertangkap foto menggunakan kaus Palu Arit, bukan bendera tauhid, mungkin buru-buru negara melalui Luhut (LB Pandjaitan, Menko ‘segala urusan’ Maritim – red) segera mengklarifikasi itu hanya trend anak muda. Tak mempengaruhi posisi Enzo dengan segudang prestasinya.

Buru-buru publik diajak berpikir, bahwa kejadian itu pra masuk militer. Setelah masuk militer, semua itu telah disterilisasi. Tidak akan ada narasi horor, dengan melibatkan Menhan bicara langsung tentang radikalisme, hingga terpapar radikalisme.

Lihat pula: Agum Gumelar membuat Khilafah semakin Bersemarak

Wahai Pak Menteri Pertahanan (Menhan), ketahuilah! Setiap muslim mencintai kalimat tauhid (kecuali yang munafikun). Setiap tentara muslim yang bertugas membela negara ingin Syahid melafadzkan kalimat tauhid.

Bukan teriakan NKRI harga mati, bukan Pancasila selamanya. Ketika mereka menghembuskan nafas terakhir karena tembakan peluru musuh, mereka akan mengucapkan kalimat:

لا اله الا الله محمد رسول الله

Atas spirit tauhid, dahulu negeri ini dimerdekakan. Atas Ruh tauhid, dahulu penjajah diusir. Atas spirit tauhid, dahulu TNI dibentuk dari tentara Hisbulloh. Logo tentara Hisbulloh dahulu juga Lafadz tauhid. Lantas kenapa sekarang lafadz mulia itu dipersoalkan? Apa salah Lafadz tauhid itu bagi bangsa ini?

Apakah Lafadz tauhid dan orang yang memuliakannya yang menggarong uang rakyat? Apakah Lafadz tauhid dan orang yang memuliakannya yang menumpuk utang negara? Apakah Lafadz tauhid dan orang yang memuliakannya yang menjual aset negara? Apakah Lafadz tauhid dan orang yang memuliakannya yang berkhianat pada rakyatnya?

Kami umat Islam marah dan tidak terima, kalimat suci itu dilecehkan. Berulang kali kami katakan, itu kalimat tauhid, bendera tauhid, bendera kami umat Islam, bukan milik HTI, bukan milik partai tertentu, bukan milik kelompok tertentu, kalimat sakral dan suci itu milik umat Islam.

Kenapa tudingan radikalisme itu selalu dialamatkan kepada kami umat Islam? Kenapa tudingan radikalisme itu selalu dialamatkan kepada kalimat tauhid? Kenapa tudingan radikalisme itu selalu dialamatkan kepada bendera tauhid? Kalian ini mau menentang umat Islam? Menentang Allah SWT? Jangan jauhkan kami dari agama kami!

Oh sakit sekali menjadi umat Islam di negeri ini. Kami yang memerdekakan negeri, kami yang menjaga negeri, menjaga kedaulatan negara, selalu dituduh radikal dan anti NKRI.

Sedangkan mereka, para politisi busuk, pejabat culas, yang merampok uang rakyat, yang korup, yang kasus BLBI, kasus century, kasus Sipadan Ligitan, seenaknya mengaku paling NKRI dan paling Pancasilais. Bullshit! Sungguh Memuakkan! [*]

Like it? Share it!

Leave A Response