Beranda Islam Hajj Journey - 14

Hajj Journey – 14

Foto: Sebagian jamaah Nusantara USA berfoto setelah melempar Jumrah di Mina.
Foto: Sebagian jamaah Nusantara USA berfoto setelah melempar Jumrah di Mina. (foto: dok.pribadi Imam Shamsi Ali)

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

Tulisan Sebelumnya: Hajj Journey – 13

PALONTARAQ.ID – Setelah melakukan Tawaf, membangun kesadaran akan tabiat hidup, bahwasanya hidup itu adalah pergerakan dan perputaran. Ketika pergerakan dan perputaran itu berhenti maka terhenti pulalah kehidupan semesta.

Kini masanya melakukan Sa’i. Secara bahasa Sa’i berarti usaha. Dengan Sa’i ini jamaah membangun kesdaran penuh bahwa hidup itu adalah perjuangan. Hal ini diekspresikan oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Al-hayaatu jihaadun” (hidup itu adalah jihad).

Seperti disebutkan terdahulu bahwa Sa’i ini terkait dengan pencarian air Ibunda Hajar untuk menyambung hidupnya dan anaknya. Pencarian air ini bermakna usaha untuk kehidupan.

Sa’i menggambarkan banyak hal. Salah satunya menjadi karakter dasar Islam bahwa Islam bukan agama apatisme. Di satu sisi mengajarkan jika semua hal, termasuk rezeki ada di tangan Allah. Tapi di sisi lain juga menekankan: “Dan berbuatlah (bekerjalah). Sungguh Allah akan melihat amalmu, dan RasulNya dan orang-orang yang Berlian”.

Bekerja menjadi “wasilah” yang bersifat kewajiban. Berkali-kali amal menjadi perintah sadar dalam Al-Quran. Kita lihat di antaranya:

“Maka barangsiapa yang beramal walau sebesar dzarroh dari kebajikan niscaya akan dilihatnya (di akhirat) kelak”.

“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh”.

“Dan jika sholat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di atas bumi dan carikan keutamaan (rezeki) Allah”.

Semua itu menggambarkan bahwa bekerja, berusaha atau berjihad untuk membangun dunia ini adalah bagian dari kewajiban manusia. Sekaligus menjadi ajaran yang sejalan tabiat manusia yang dalam nalurinya memang ada panggilan untuk mencari rezeki.

Rasulullah SAW merupakan ketauladanan dalam bekerja. Beliau pernah jadi gembala. Beliau pernah jadi pedagang. Beliau menyinggung pertanian dalam bahasannya (haditsnya).

Dan yang terpenting beliau mengajarkan: “sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang jika bekerja dilakukan dengan Itqan”. (Hadits).

Agak susah menemukan terjemahan itqan ini ke dalam bahasa Indonesia. Karena kata bersungguh-sungguh tidak mewakili makna kata ini yang dalam. Tapi Mungkin dalam bahasa barunya, itqan dapat diterjemahkan dengan kata “profesional”.

Profesional Artinya ada kesungguhan hati. Tapi juga dilakukan bukan sembarangan dan asal-asalan. Melakukannya dengan ilmu, teliti, dan hingga tuntas.

Hal penting lainnya dari Sa’i ini adalah bahwa sehebat atau seprofesional apapun kita dalam melakukan pekerjaan, pada akhirnya harus diyakini bahwa pada akhirnya bukan kita yang menentukan hasil.

Hasil dalam arti berapa, bagaimana, bentuknya apa, di mana dan seterusnya. Karena semua itu ada dalam genggaman yang mencipta langit dan bumi.

Karenanya Bunda Hajar berlari keliling dua ujung bukit (Shofa dan Marwa) untuk mendapatkan rezeki penyambung hidup. Pada akhirnya yang menentukan juga bagaimana dan di mana bentuk rezeki itu adalah Dia memiliki langit dan bumi.

Air itu bukan di shofa. Tidak juga di Marwa. Tapi air itu menyembur justru dari bawah kedua kaki bayinya, Ismail AS. Itulah asal asul sumur Zamzam yang diminum, dinikmati dan dibawa pulang ke negeri asal jutaan jamaah haji setiap tahunnya.

Lihat pula: Khutbah Idul Adha 1438 H:  Teladan Ibrahim, Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

Keyakinan seperti ini menjadi sangat urgen dalam hidup manusia karena kerap kali manusia merasa superman. Seolah mereka yang menentukan segala bentuk peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Akibatnya ketika berhasil manusia seperti itu menjadi angkuh. Seolah dunia berada dalam genggamannya. Berkuasa bagaikan Fir’aun. Kaya bak Qarun.

Sebaliknya jika gagal mereka “sakit hati”, meradang seolah dunia menjadi gelap gulita tiada harapan lagi. Bahkan lebih berbahaya lagi ketika “sakit hati” itu terlampiaskan dengan perasaan terancam dan “perih” dengan keberhasilan orang lain.

Maka Sa’i mengajarkan jangan tanggung-tanggung, jangan setengah hati dalam mencari rezekiNya. Tapi percayalah Yang Maha Pemberi Rezeki itu adalah Pemilik langit dan bumi.

Percayalah bahwa sehebat apapun dan sepintar apapun anda dalam bekerja mencari rezeki Allah, Dia Yang Maha tahu apa dan bagaimana kebutuhan anda.

Karenanya jangan pernah merasa jadi superman. Biarkan anda bergerak, mengayuh sebaik mungkin menuju harapan dan impianmu. Tapi biarlah Allah yang menwntukan apa, kapan dan bagaimana mimpi itu terwujudkan.

Mina, 11 Agustus 2019

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...