Mengenang 32 Tahun Silam “Digertak” Komodo

by Kontributor Palontaraq | Senin, Jul 8, 2019 | 111 views
Komodo. (foto: dok.pribadi M.Dahlan Abubakar)

Komodo. (foto: dok.pribadi M.Dahlan Abubakar)

Oleh: M. Dahlan Abubakar

PALONTARAQ.ID – Ketika Pak Jusuf Kalla (JK) menggaungkan agar rakyat Indonesia memberikan dukungan terhadap Komodo masuk ke dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia beberapa tahun silam, saya teringat pada bulan Juli 1987 pernah ‘terdampar’ di Pulau Komodo.

Suatu ‘petualangan’ mandiri hanya bermodalkan kenekatan belaka. Saya nekat saja, Terlalu sering orang berkisah tentang Pulau Komodo dan terus menyisakan saya jadi penasaran.

Untuk ke Komodo, saya harus mencari tahu lebih dahulu situasinya. Transportasi apa (tentu saja transportasi air, perahu rakyat atau kapal motor) yang bakal digunakan. Saya sangat beruntung, karena Ayahanda H,Abdul Ghany Masykur (meninggal dunia 4 Juni 2019) membekali saya informasi dan pemandu penting. Yakni, tempat saya harus menginap menunggu pelayaran ke Komodo.

Lihat pula: Hemat Traveling ala Etta Adil

Setiba di Sape (42 km dari Kota Bima), saya langsung menuju ke rumah seorang warga yang ditunjuk Tuan Guru H.Abdul Ghany Masykur. Orang yang ditunjuk itu namanya H.Muchtar Murtada. Beliau tinggal di Soro Sape. Letak kediaman Wak Haji ini tak jauh dari Pelabuhan Sape.

‘’Anda harus makan kenyang dulu sebab akan naik kapal dan mengarungi laut yang bergelombang besar,’’ kata tuan rumah yang adalah seorang keturunan Bugis dengan ramah mengingatkan saya ketika menikmati sarapan menjelang menuju Pelabuhan Sape .

Sepeda motor Yamaha yang saya tunggangi dari Kanca, desa kelahiran, merambah jarak 98 km. Yakni, jarak Kanca-Kota Bima 56 km plus Kota Bima-Sape sejauh 42 km. Motor warna merah itu saya titip di kediaman H.Muchtar Murtada. Jika dihitung, hingga ke Pelabuhan Sape jarak tempuh perjalanan mungkin genap 100 km. Lumayan.

Pagi hari, 4 Juli 1987 setelah menitip ‘kuda Jepang’ di kediaman tuan rumah, saya mohon izin melanjutkan perjalanan seorang diri (tentu banyak teman se-perjalanan di feri) ke Pulau Komodo.

Di PUlau Komodo. (foto: dok.pribadi M.Dahlan Abubakar)

Di Pulau Komodo. (foto: dok.pribadi M.Dahlan Abubakar)

Lihat pula: Masjid Darussalam Belawa dan Tradisi Malam ke-15 Ramadhan

Pagi hari itu, tanggal 4 Juli 1987, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Komodo, sudah siap berangkat ke pulau yang dihuni binatang purba itu. Saya masih ingat, tarif ke Komodo waktu itu Rp 6.700. Sekarang tariff Feri dari Sape ke Labuan Bajo Rp 46.000. Tetapi saya tidak tahu, apakah penumpang yang hendak turun di Pulau Komodo langsung disinggahkan atau tidak.

Ketika saya berkunjung, feri sandar di depan Pulau Komodo dan ada perahu motor penduduk yang menjemput. Kami harus membayar ongkosnya hingga ke daratan Pulau Komodo.

KMP Komodo meninggalkan Pelabuhan Sape pukul 08.43, terlambat 43 menit dari pukul 08.00 sesuai jadwal tetapnya. Sebuah truk yang biasa mengangkut barang ke Labuan Bajo terlambat tiba di pelataran pelabuhan. Tak jelas apa penyebabnya.

KMP Komodo dibangun PT Industri Kapal Indonesia (IKI) Ujungpandang (kini Makassar) mulai tahun 1981. Baru diresmikan 12 Oktober 1986. Kapal feri ini memiliki bobot 350 ton dan mampu mengangkut 160 orang penumpang dengan 4 unit kendaraan. Dengan kecepatan sekitar 8 knot per jam, feri ini memiliki 50 seat yang terletak di belakang kamar-kamar anak buah kapal (ABK).

Lihat pula: Spot Sunset Terbaik di Lombok

Sekitar 15 orang turis asing ke Komodo bersama saya hari itu. Salah seorang di antaranya memboyong seekor kambing. Dia mengikat hewan itu di pinggir feri bagian dalam. Pada pukul 14.30 Wita, perahu motor ‘Wisata Komodo’ yang dinakodai Nurdin Boto, merapat ke KMP Komodo.

Ada 15 orang penumpang KMP Komodo turun di tengah laut. Termasuk empat orang turis domestik. Termasuk saya. Pukul 15.05, ‘Wisata Komodo’ merapat di Dermaga Loh Liang, pintu gerbang memasuki Pulau Komodo. Pulau yang memiliki luas 33.937 ha.

Ketika turun, para turis enggan membayar perahu Nurdin Boto yang Rp 1.000 per kepala. Mungkin mereka menganggap, sewa perahu itu sudah termasuk tarif feri. ‘’My boat no gratis,’’ teriak Nurdin Boto dengan bahasa Inggris asal pungut sembari memburu sepasang bule yang menjauh dari perahunya.

Turis itu pun ngotot tidak mau membayar. Nurdin mengejar hingga ke penginapan Taman Nasional Komodo. Tetap gagal juga. Begitu berharganya uang Rp 1.000 ketika itu.

‘’Kalau dia tidak mau membayar dobel nanti hari Selasa (7 Juli 1987), saya suruh dia berenang ke Pulau Lassa,’’ ancam Nurdin.
Pulau Lassa adalah tempat perahu motor menunggu kedatangan KMP Komodo dari Labuan Bajo menuju Pelabuhan Sape.

Kami menginap di rumah-rumah panggung laksana ‘pondok’ yang dibangun khusus untuk para tamu. Jumlahnya ketika itu (1987) 12 unit. Rumah panggung model atau arsitektur Flores, beratapkan rumput kering (ilalang) yang mudah terbakar dengan kamar-kamar yang berisikan kasur busa.

Tempat tidur terbuat dari papan yang dikreasikan sedemikian rupa, sehingga lantai dasar ‘pondok’ berbeda tingginya dengan tempat kasur. Pondok-pondok itu diberi nama Latin, seperti Psittacidae Court (burung Kakatua), Falconidae (burung Elang), dan sebagainya. Tempat penginapan ini terletak 2 km dari lokasi pemukiman rakyat umum.

Selain bangunan pondok-pondok, juga ada pusat penelitian dan laboratorium yang diberi nama Field Lab P.A.Ouwens (1912). Tokoh asal Inggris ini diketahui sebagai orang pertama yang menemukan kadal raksasa (varanus Komodoensis) tersebut.

Lihat pula: Menikmati Wisata Bahari di Bunaken

Sekitar pukul 16.50, saya bersama Rinaldi Firmansyah (alumni ITB) dan Agus L, dua teknisi yang memasang peralatan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Bima di Gunung Dua dan Joko Supriyanto, mahasiswa ITB yang lagi praktik di PLTD Bima, memutuskan menuju lokasi atraksi ora (bahasa setempat, bahasa Komodo dan mbou dalam bahasa Bima/nggahi Mbojo).

Komodo. (foto: dok.pribadi M.Dahlan Abu Bakar)

Komodo. (foto: dok.pribadi M.Dahlan Abu Bakar)

Kami diantar dua pemandu, Achmad dan Rachman. Jarak tempuh sekitar 1 km dan dapat ditempuh dalam waktu 30 menit jalan santai.  Kata ‘’awas bahaya’’ dan ‘’lokasi umpan’ yang dilewati membuat kami merasa dig dag dug. Kata ini mengisyaratkan, lokasi peringatan tersebut merupakan daerah pelintasan dan tempat memasang umpan agar Komodo keluar dari sarangnya.

Rachman berjalan di depan sembari membekali diri dengan satu batang kayu yang di salah satu ujungnya bercabang dua. Dia merupakan bodyguard kami di depan bila ada ‘serangan’ binatang melata itu. Achmad dengan perlengkapan yang sama berada di belakang kami. Tugasnya sama, berjaga-jaga jika ada serangan ‘musuh’ dari belakang.

Saya sempat bertanya kepada keduanya, mengapa salah satu ujung kayu yang mereka bawa harus bercabang. Mereka menjawab, kalau ada Komodo mencoba-coba ‘mengganggu’, cukup lehernya ditangkap dan ditekan dengan kayu yang bercabang tersebut.

Seringkali Komodo menyerang manusia dan selalu dapat ditaklukkan dengan berbekalkan ‘tongkar keramat’ yang salah satu ujungnya bercabang dua itu.

Achmad kerap sabar menunggui saya yang mampir memetik buah bidara yang tergantung rendah di tepi jalan setapak yang dilalui. Buah bidara ini mengingatkan saya ketika di kampung, saat mencari buah itu di sebelah barat kampung. Pohon bidara sudah saya kenal dan hafal kapan saat buahnya ranum. Selain bidara, Pulau Komodo juga banyak ditumbuhi pohon asam.

Lihat pula: Mitos Nyi Roro Kidul dan Tradisi Labuhan di Pantai Parangtritis

Setiap 100 meter selalu ada patok beton berwarna merah putih. Tak jelas patok untuk apa? Setiap persimpangan jalan setapak, ada pondok peristirahatan. Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami bertemu dengan tulisan ‘Banu Nggulung’’ dan ‘’Poreng’’.

Ternyata di sinilah lokasi kami akan bertemu ora atau mbou. Banu Nggulung selalu dikunjungi turis, sementara Poreng, jaraknya sekitar 7 km dari pondok penginapan. Jarang turis ke sana.

Lokasi atraksi Banu Nggulung ini sangat strategis. Ada pondok tempat menyaksikan atraksi Komodo dari atas. Dibangun di pinggir sungai (ketika itu kering). Ada dua pondok besar dan di sekelilingnya dibanguni pagar kawat gerawang guna mencegah mbou berkeliaran masuk ke kawasan pengunjung. Dia akan susah melompati pagar kawat itu, karena badannya yang ‘keberatan’.

Pada sebuah lapangan, tertulis ‘Hati-Hati Lintasan Komodo’, kembali membuat kami ekstra hati-hati. Perasaan dag dig dug muncul lagi. Takut kalau-kalau ada Komodo ‘nyasar’ dan kaget langsung menyerang. Sebab kabarnya, kalau ora kaget, dia langsung menyerang mangsanya dengan ganas. Ketika mangsanya terluka dan mencium bau darah, dia akan tambah buas. Oleh sebab itu, kalau membawa kambing sebagai umpan ke Banu Nggulung, harus hidup-hidup. Nanti tiba di lokasi baru disembelih.

Dari atas pondok di tepi sungai kering, Rachman menunjuk ke bawah. Ternyata seekor mbou besar, panjang sekitar 2 m dengan berat sekitar 90 kg, sedang tiarap. Warnanya hitam, mirip warna sekelilingnya. Binatang itu bergerak pelan dan mengangkat kepalanya. Mungkin hendak menyambut ‘sesuatu’ yang kami bawa. Padahal, kami tidak bawa apa-apa sore itu.

Rachman mengajak kami ke dasar sungai kering. Lebih mendekat ke ora. Ngeri juga menerima ajakan itu. Takut, kalau-kalau mbou tiba-tiba tidak bersahabat. Bisa-bisa kami pulang nama. Tetapi, pemandu tentu maklum karakter binatang itu. Mata saya nanar ke mana-mana di dasar sungai. Khawatir datang ‘serangan’ dari ‘musuh’ terselubung. Komodo yang tak terlihat.

Kami sempat kaget, saat seekor Komodo besar muncul dan bergerak meninggalkan sarangnya dari sebuah lubang besar di pinggir sungai yang lagi kering. Tubuhnya besar sekali. Kami menjaga jarak. Rachman dan Achmad di ujung terdepan. Rachman mengawasi ora yang tiarap, sementara Achmad menyiagai yang sedang meninggalkan liangnya.

Saya masih sempat menjepret, ketika kadal raksasa itu meninggalkan sarangnya. Kami berhenti beberapa saat menunggu perkembangan berikutnya. Terutama, mengawasi gerak ora yang baru keluar. Ternyata, dia sangat bersahabat. Langsung tiarap tepat di depan kami.

‘’Silakan mendekat. Tidak apa-apa,’’ ajak Rachman.

Rinaldi, Agus, dan Djoko memanfaatkan kesempatan ini untuk berpose dengan latar belakang ‘teman’ yang baru keluar dari sarangnya. Jaraknya dengan kami hanya 1,5 m. Bahkan, teman-teman ada yang usil juga. Melempari kepala ora dengan kerikil. Lemparan itu hanya meninggalkan bunyi ‘tak’ di atas pundak binatang langka itu.

Sore itu, binatang tersebut benar-benar malas. Tak bergairah. Kabarnya, mereka baru saja dapat makan besar dari turis yang berkunjung pada pagi hari itu.

Menurut catatan yang ada, kalau ora dalam keadaan lapar, dia sangat berbahaya. Dia dapat berlari sangat kencang. Ekornya yang panjang dan kuat dapat mematikan mangsanya. Tetapi, kalau mereka sudah kenyang, tahan tidak makan selama sebulan.

Lihat pula: Menelusuri Obyek Wisata Sejarah Budaya di Barru

Saya dan tiga teman berencana kembali ke Bima melalui Labuan Bajo. Rencananya, kami akan menumpang KMP Komodo yang berangkat dari Labuan Bajo langsung ke Bima, tidak menyinggahi perairan di depan Pulau Komodo.

Ternyata, belum kami tiba di Labuan Bajo, KMP Komodo sudah bergerak dan melaju ke bagian utara P.Komodo. Tidak ada pilihan lain, kami pun kembali ke P.Komodo setelah menyinggahi P.Rinca, tempat juga hidup komodo selain di habitatnya P.Komodo.

Setelah gagal memburu KMP Komodo yang akan balik ke Sape melalui jalur utara keesokan harinya (5 Juli 1987), kami kembali ke pondok wisata di Pulau Komodo.

Tanggal 6 Juli pagi, kami dapat kabar, ada lima turis asal Prancis menuju Banu Nggulung untuk menyaksikan atraksi komodo. Mereka membekali diri dengan seekor kambing yang mungkin dibawa bersama KMP Komodo yang saya lihat ketika dari Sape. Harga kambing Rp 30.000 per ekor waktu itu.

‘’Kalau kalian sama-sama pergi dengan turis itu, nanti sebagian harga kambing akan ditagih ke turis Indonesia,’’ kata Suprayitno, salah seorang staf Taman Nasional Komodo.

Kami pun mengurung niat ke Banu Nggulung lebih segera. Mengikuti saran Suprayitno. Membiarkan bule-bule asal Negeri Menara Eifel itu tiba lebih dahulu. Kami kemudian bergerak juga dengan langkah pelan-pelan tanpa pemandu. Tetapi teman Rinaldi dan Djoko membawa sepotong kayu. Keduanya bertindak sebagai pemandu. Hanya kayunya tidak bercabang seperti yang selalu dibawa Rachman dan Achmad, dua orang pemandu di Taman Nasional Komodo.

Lihat pula: Ollon, Sisi Lain Pesona Toraja yang Terabaikan

Di tanah lapang di dekat Banu Nggulung, kami istirahat sejenak. Terdengar tarikan napas kambing yang baru saja disembelih. Dari arah sebelah kanan lapangan terdengar suara dedaunan disibak oleh suatu benda yang bergerak.

“Pasti Komodo,” – pikir saya.

Teman-teman diam, memperhatikan arah datangnya bunyi. Astaga, benar juga. Seekor Komodo besar muncul sembari menjulur-julurkan lidahnya.

‘’Bahaya!,’’ gumam saya, yang secara refleks masih ingat mengarahkan lensa Canon AE-1 ke tubuh Komodo yang melintas, sementara kaki sudah pasang kuda-kuda bersiap ambil langkah seribu kalau terjadi keadaan darurat.

Rekan Agus malah mengambil langkah berani. Dia bersiul-siul memanggil Komodo itu. Komodo sempat sejenak diam, sebelum lari kencang ke arah sungai. Ternyata, bukan kami yang mengambil langkah seribu, Komodo.

Agaknya, Komodo muncul setelah mencium bau darah kambing yang baru saja disembelih. Komodo itu kemudian kami temukan sedang bergulat dengan seekor kambing hitam yang kakinya digantung pada sebuah pohon kering yang batangnya melintang di atas sungai.

Sebelum menyergap mangsanya, Komodo tampaknya mengamati sejenak kambing yang sudah tak bernyawa itu. Barulah, leher, dan kepala kambing dikoyak-koyak dengan sangat sadis.

Saat tubuh kambing hanya tersisa paha yang terikat pada tali, seorang pemandu menjadi ‘dalang’ atraksi berikutnya. Dia menarik-narik ke atas sisa tubuh kambing tersebut. Komodo yang sudah berkerumun sekitar lima enam ekor, besar kecil, mengikuti gerak naik sisa mangsanya yang ditarik-tarik.

Di sinilah tampak klimaks dari atraksi, yakni saat Komodo berdiri dengan dua kaki belakang ditopang oleh ekornya yang panjang. Hanya dalam waktu tak cukup setengah jam, mangsanya ludes. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response