Gerindra tuding Khilafah penyebab Kekalahan Prabowo

Aksi 212 Umat Islam menuntut keadilan. (foto: ist/palontaraq)

Aksi 212 Umat Islam menuntut keadilan. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

Tulisan sebelumnya: Rocky Gerung tantang ILC, Debat soal Khilafah. Berani?

PALONTARAQ.ID – Siapa orang yang pertama mengklaim menang Pilpres 60 % lebih meskipun KPU belum mengumumkan keputusan resmi? Prabowo?

Siapa orang yang menuding suara Prabowo dicurangi, karena itu semua kader dan simpatisan diminta untuk melawan? Prabowo?

Siapa, yang sesumbar menyatakan akan berdiri dan tenggelam bersama rakyat, sehingga pernyataan ini memantik perlawanan rakyat kepada rezim? Prabowo?

Siapa, yang sebelumnya sesumbar ada DPT 15 juta bermasalah, ada potensi kecurangan, karena itu rakyat harus melawannya? Tim Prabowo?

Lantas, siapa yang bungkam melihat rakyat jadi korban pada aksi tanggal 21-22 Mei, padahal sebelumnya berjanji akan hadir dalam aksi damai tersebut? Prabowo?

Siapa, yang akhirnya berkhianat meninggikan korban kerusuhan 21-22 Mei? Prabowo?

Siapa, yang terlibat akal Lebak Bulus, yang kepincut dengan hidangan nasi goreng, merapat ke Jl. Teuku Umar dan meninggalkan pendukung yang terluka dan berdarah-darah? Prabowo?

Siapa, yang bungkam terhadap kezaliman yang menimpa Kivlan Zen, padahal dia begitu membela Prabowo? Prabowo?

Siapa, yang tega membiarkan korban unjuk rasa 21-22 Mei menghadapi persidangan tanpa advokasi dari tim hukum Prabowo, padahal mereka mendapat persoalan hukum karena aksi mendukung Prabowo? Prabowo?

Lihat pula: Jangan Alergi Istilah Syariah dan Khilafah

Siapa, yang sesumbar dan mendeklarasikan diri sebagai ‘macan Asia’ tapi faktanya hanya seekor kucing lapar? Prabowo?

Karena itu, Sekjen Gerindra sebelum menggugat khilafah, menuding khilafah sebagai penyebab kekalahan Prabowo, lebih baik bercermin terlebih dahulu. Apakah, sosok seperti Prabowo memang layak mendapat kemenangan ?

Tak perlu sungkan untuk menyatakan diri sebagai partai anti Islam, tidak cukup untuk menyatakan diri sebagai partai nasionalis. Andai saja tidak ada dukungan umat Islam, sudah pasti suara Gerindra tidak naik.

ilustrasi by Nasjo. (foto: ist/*)

ilustrasi by Nasjo. (foto: ist/*)

Andai saja, pemilu dilakukan setelah tragedi nasi goreng dan pertemuan Teuku Umar, sudah pasti Gerindra bukan hanya kalah Pilpres, tetapi juga kalah pileg. Jangankan mendapat suara dua digit, untuk lolos PT saja Gerindra akan kewalahan.

Kalau tidak percaya, tunggu saja. Saat ini semua umat marah pada Gerindra dan Prabowo, tetapi mereka belum mendapat momentum politik untuk menghukum Gerindra. Andai, tahun ini diadakan pemilu, saya pastikan Gerindra tidak akan lolos parlemen.

Lihat pula: Ibu, Izinkan Aku Berjuang Menegakkan Khilafah

Ahmad Muzani, tidak perlu sungkan menyerang khilafah, saya siap menghadapi fitnah yang Anda gulirkan. Setelah Gerindra menuding umat Islam sebagai penumpang gelap, kini Gerindra menuding khilafah yang menyebabkan Prabowo kalah.

Saya akan menyimpan dendam ini, atas tudingan Gerindra yang menuding khilafah sebagai sebab kekalahan Prabowo. Sesungguhnya, bahu Prabowo memang ringkih, dia bukan macan tetapi hanya seekor kucing lapar yang tak akan sanggup mengemban amanah dan kepercayaan umat.

Prabowo sudah selesai, tetapi jika Gerindra juga ingin ikut-ikutan selesai mengikuti jejak pendirinya, Kami umat Islam siap membantu dan mengabulkan. Sejak saat ini, kami akan nyatakan Gerindra anti terhadap khilafah, juga anti disebut terafiliasi dengan Islam.

Gerindra adalah partai nasionalis sekuler, yang tak pernah memperjuangkan aspirasi umat Islam. Karena itu, sejak saat ini dimanapun umat Islam berada, tidak akan memilih partai Gerindra. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response