Sihir Quick Count Meleset

by Kontributor Palontaraq | Sabtu, Apr 20, 2019 | 126 views
Kampanye 02 yang selalu "petcah" di setiap daerah. (foto: ist/palontaraq)

Kampanye 02 yang selalu “petcah” di setiap daerah. (foto: ist/palontaraq)

 

Oleh: Priyadi Setiawan, Pemerhati Pemilu

Se-Indonesia geger ketika hasil Quick Count (QC) mulai muncul di TV tanggal 17 April 2019 kemarin. Para pendukung Joko Widodo (Jokowi) tenggelam dalam euforia kegembiraan seolah-olah pertandingan sudah selesai, dan pendukung kubu Capres 02 Prabowo Subianto ambruk moralnya.

Saya baru sadar efek moral ini terjadi secara nasional sesudah dengar cerita dari berbagai pihak.

Ada yang sampai stres, ada yang menangis-nangis, ada yang kepikiran mau pindah dari Indonesia, ada yang jadi loyo. Bahkan saya sendiri pun mengalami moral breakdown itu.

Pada saat itu, mindset hampir semua orang (dari kedua kubu) langsung terbentuk untuk berpikir bahwa QC pasti benar dan pasti akurat. Padahal QC hanyalah sebuah cara memprediksi atau memperkirakan hasil akhir penghitungan suara, dengan menggunakan metoda statistik, yang sangat mudah dimanipulasi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Untuk memanipulasi hasil QC sangat mudah. Anda tinggal melebihkan jumlah sampling dari daerah yang anda yakini merupakan pendukung fanatik salah seorang capres, maka hasli QC nanti akan otomatis menunjukkan kemenangan untuk capres yang bersangkutan. It’s that simple.

Lihat juga: Prabowo-Sandi menang 60 %

Belum lagi memperhitungkan kongkalikong dengan stasiun TV nasional, yang sejak awal sudah sangat menunjukkan keberpihakan kepada Jokowi. Ini bukan hanya mulai masa kampanye pilpres 2019, tapi sudah sejak Jokowi berkuasa. Hanya seorang yang dungu atau super-naif yang tidak bisa melihat fenomena ini.

Maka ketika kubu Prabowo terhipnotis dengan cara berpikir keliru ini, apalagi sampai kemudian menggali-gali Trauma 2014 sehingga sangat takut dan malu kalau sampai nanti Prabowo (di)kalah(kan) lagi, maka terbentuklah sebuah kondisi mental yang lunglai, lemah, loyo, malu, sedih, takut, bingung. Yang semuanya berakibat langsung kepada penurunan semangat juang dan semangat “tempur” kubu Prabowo.

Dan memang itulah yang mereka harapkan!

Dalam sebuah pertandingan yang kompetitif, begitu semangat juang anda ambruk, maka bisa dipastikan anda tidak akan mau lagi bersusah-payah untuk berjuang terus, maka akan bisa dipatikan perlawanan anda akan mengendor, dan anda akan kalah betulan.

It’s a Self Fulfilling Prophecy. Ramalan yang terwujud karena ramalan itu sendiri dipercayai.

Apa akibat yang menyusul kemudian? Ini dia:

1. Relawan Prabowo bisa kehilangan semangat untuk mengawal TPS sampai sepanjang malam (“buat apa lagi??? kita sudah kalah”)

2. Relawan Prabowo tidak akan lagi mau mengcross-check dan mengcounter serangan dari kubu jokowi (“udah deh… ngapain lagi ribut-ribut”)

3. Dengan demikian maka kecurangan di lapangan akan makin mudah terjadi tanpa ada yang mengawasi.

4. Kalaupun ada kecurangan yang ketahuan, dengan mudah pelakunya akan bilang “kami ngga ada motif untuk curang, kan kami sudah menang yang curang itu pasti yang kalah”.. dan relawan Prabowo akan makin tertunduk lesu dan malu, menyembunyikan mukanya. Bahkan kecurangan itu bisa ditimpakan kepada kubu Prabowo sendiri.

Lihat juga: Surat Terbuka untuk Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo

Ketika semua itu terjadi, maka kecurangan akan merajalela tanpa tertahan, dan pendukung Prabowo hanya bisa menerimanya sebagai sesuatu yang lumrah sambil berbisik malu: “ini sudah kehendak Allah”, “ini pasti yang terbaik untuk bangsa kita”, “toh siapapun presidennya nasib kita ngga akan berubah”.

Loh kok Allah  SWT yang disalahkan?

Kalau maling bisa masuk rumah anda, jangan menyalahkan Allah, salahkan pagar dan jendela anda yang kurang baik keamannya, salahkan anda sendiri yang kurang berhati-hati menjaga keamanan lingkungan anda.

Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir).

Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’, Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.” (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)

Ikat dulu untamu, baru bertawakkal. Perang belum selesai kok udah mau nyerah.

Apa jadinya nasib kita sekarang kalau dulu para pejuang bangsa kita tidak berseru MERDEKA ATAOE MATI, melainkan merdeka atau menyerah. Kita tidak jadi budaknya penjajah sekarang ini karena orang-orang tua kita dulu TIDAK MAU MENYERAH SAMPAI BERHASIL…

Inilah efek yang dituju dengan QC abal-abal atau diplesetkan TV itu, untuk menghancurkan semangat dan militansi pendukung Prabowo yang sebelumnya sudah jelas jauh mengungguli kubu jokowi.

Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya dan di sinilah sang jenderal menujukkan kepemimpinannya. dia tahu bahwa DIA HARUS MENGANGAT MORAL PENDUKUNGNYA DI SELURUH INDONESIA !!

Maka berbekal dengan data real count elektronik dari 320.000 TPS se-Indonesia, sang jenderal maju dan berkata dengan lantang “KITA TIDAK KALAH, KITA MENANG… INI BUKTINYA!!!!!” Seolah-oleh dia rengkuh semua pendukungnya, dia pegang semua tangan pendukungnya, dan dia tarik semuanya untuk maju terus.

Lihat juga: Quick Count itu adalah Match Fixing (Pengaturan Skor)

Itu adalah sebuah strategi militer yang sangat krusial. Semua panglima perang tahu persis bahwa dia harus mengangkat dan menjaga moral dan semangat juang pasukannya sampai titik darah terakhir. itulah mengapa di perang dunia ke-2 pasukan jepang begitu amat sangat sulit dikalahkan, sampai-sampai Amerika harus mengeluarkan senjata pamungkasnya, bom atom. baru ketika moral dan semangat pemimpin tertingginya runtuh, jepang bisa dikalahkan.

Jadi tindakan Prabowo mendeklarasikan kemenangannya DENGAN DIDUKUNG BUKTI NYATA PERHITUNGAN C1 DARI 320.000 TPS adalah bukan sebuah tindakan serampangan. itu adalah sebuah manuver strategis militer yang sangat penting.

Dan hasilnya? Kubu Prabowo yang sempat lunglai mulai bengkit lagi dan meneruskan pengawalannya kepada TPS-TPS se-Indonesia.

Para pendukung Jokowi ramai menyinyiri dan membully Prabowo karena manuvernya itu.

Loh, so what? Bukankah mereka itu dari dulu memang selalu begitu, dan hanya bisa begitu? menyinyiri dan membully itu adalah statndar operating procedure mereka. ngga ada lagi.

Spapun yang dilakukan Prabowo pasca QC gadiungan itu PASTI AKAN MENGHASILKAN EJEKAN DARI KUBU JOKOWI.

Kalau Prabowo diam tidak melakukan apa apa, mereka akan menyoraki dan mengejek bahwa prabowo sudah kalah lagi.

Kalau Prabowo hanya berkata “ya kita tunggu saja perhitungan KPU”, mereka akan mengejek bahwa Prabowo tidak paham teknologi QC yang pasti akurat dan benar.

Ketika Prabowo menunjukkan bukti dari real countnya, mereka akan menuduh Prabowo tidak legowo, bermental pecundang, tidak mau mengakui kekalahan.

So, jadi kenapa harus takut dengan bullyan mereka?

Apa sih ruginya dibully cebong? Tidak ada! Sama sekali tidak ada!

Tapi yang jelas akan sangat merugikan adalah kalau berpikir bahwa Prabowo sudah kalah,  Pertandingan sudah berakhir hanya karena QC gadungan itu.  Itu yang pasti merugikan!

“Kenapa sih Prabowo ngga sabar menunggu pengumuman resmi KPU aja?” beberapa teman saya mengeluh.

Ini bukan hanya soal mendengar pengumuman resmi KPU. Pada saat itu moral pendukung Prabowo se-Indonesia harus diselamatkan dulu secepatnya. Asap.  Cito.  Double Time.  Pronto!

Keputusan KPU biar saja nanti belakangan, toh QC dan RC sama-sama bukan statement resmi.  Maka jangan sampai QC abal-abal itu dibiarkan unchallenged, tanpa lawan. RC dari kubu Prabowo harus langsung digunakan sebagai amunisi melawan QC gadungan itu. Toh mengumpulkan data C1 se-indonesia itu memerlukan kerja dari sangat banyak orang. Buat apa kalau cuma didiamkan sambil menunggu KPU? Dan manuver itu persis yang dilakukan Prabowo.

Sebagai pemimpin, Prabowo memang mengambil risiko ketika mendeklarasikan kemenangannya. dia menjadi bahan ketawaan dan bullyan cebong se-indonesia yang masih mabuk euforia palsu.

Tapi itulah risiko pemimpin. Itulah risiko panglima.

Lebih baik dia yang menerima badai bullyan daripada pasukannya kehilangan moral juang.

Inilah kualitas seorang panglima, seorang pemimpin.

Tidak seperti jokowi yang selalu menyalahkan bawahannya dan orang lain kalau ada yang tidak beres.

Comprende?

Priyadi Setiawan
19 April 2019

Like it? Share it!

Leave A Response