Menelusuri Obyek Wisata Sejarah Budaya di Barru

Rumah Adat Saoraja Lapinceng. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Rumah Adat Saoraja Lapinceng di Kecamatan Balusu. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

KABUPATEN Barru bukan hanya kaya akan sumber daya alam (SDA) di daerah pesisir, dataran rendah, dan pegunungannya, tetapi juga cukup banyak ruang sejarah yang tercipta, sejak zaman pemerintahan kerajaan masih berlangsung maupun pada saat pemerintahan kekaraengan, sebelum dan sesudah kedatangan Belanda, serta dinamika politik kekuasaan yang mewarnainya.  Itulah sebabnya cukup banyak peninggalan sejarah di daerah ini, dan beberapa diantaranya sudah menjadi destinasi wisata sejarah.

Lihat juga:  Menelisik Sejarah Kelahiran Pemerintah Kabupaten Barru

Ada banyak obyek wisata sejarah budaya di Kabupaten Barru yang mencerminkan dinamika pemerintahan di masa lampau, ketika para raja dan karaeng berkuasa.  Ada Rumah Adat Saoraja Lapinceng di Kecamatan Balusu, Kompleks Makam We Tenri Olle dan We Pancaitana di Pancana Tanete Rilau, Makam Karaeng Lipukasi La Makkarumpa Daeng Parani di Lipukasi Tanete Rilau, dan Kompleks Makam La Maddusila di Pancana Tanete Rilau.

Penulis di dalam rumah adat Saoraja Lapinceng. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dan pemerhati sejarah lain di dalam rumah adat Saoraja Lapinceng, Balusu, Barru. (foto: ist/palontaraq)

makam La Maddusila datu tanete

Makam La Maddusila Datu Tanete di Pancana Tanete Rilau (foto: ist/palontaraq)

makam La Maddusila datu tanete

Makam La Maddusila Datu Tanete Matinroe ri  Dusung-dusung. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga: Tantangan Penulisan Sejarah Daerah Sulawesi Selatan

Selain itu, ada pula Kompleks Makam We Tenrileleang, Lempang, Bungi, Lalabata Tanete Rilau.  Juga ada  Kompleks Makam Petta Pallase-lase’e, Lempang, Bungi, Lalabata, Tanete Riau, Batu Allantireng, Barru. Makam tokoh sejarah di Barru cukup terpelihara dengan baik dan dapat menjadi obyek kunjungan studi wisata sejarah selain yang telah disebutkan, ada pula Kompleks Makam Petta Bondeng.

Destinasi lainnya adalah Kompleks Makam Abdul Rahman Syekh Bojo, Bojo, Mallusetasi serta Kompleks Makam Raja-raja Nepo,  di Nepo, Mallusetasi dan Kompleks Makam Abdul Rahman Syekh Bojo di Bojo, Mallusetasi.

tenriolle-01

Dok. Foto We Tenriolle (KITLV Belanda)

tenriolle-02

Makam We Tenriolle di Pancana, Tanete Rilau

Di Allakuang,  ada Makam Puattau, Manuba, Mallusetasi serta  di Palanro, ada Makam Palanro, Mallusetasi.   Selain itu, ada lagi Kompleks Makam Arung La Bonggo, Nepo dan Kompleks Makam Buludua, di Balusu.  Sedang Makam Petta Landore, berada di Kajuara, Seppe’e, Barru dan Makam Arung Alekale, di Pujananting.

Lihat juga: Celebes Canyon, Wisata Alam Tersembunyi di Tanete Riaja

Untuk bangunan bersejarah bisa ditemukan di Lempung Bungi, Lalabata Tanete Rilau dalam bentuk bangunan Masjid Tua Lailatul Qaderi,  selain Masjid Tua Masdarul Birri di Barru.  Ada pula Masjid Tua Mutaqaddiman di Pancana, Tanete Rilau serta Situs Batu Gores Mattirowalie di Parenring, Mattirowalie, Tanete Riaja.

Para penikmat wisata sejarah budaya dapat pula mengunjungi Situs Batu Dakon Mattirowalie di Parenring, Mattirowalie, Tanete Riaja.

Penulis di Kompleks Makam Sumpang Ralla.

Penulis di Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Kec. Tanete Riaja, Barru (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kompleks Makam Sumpang Ralla.

Makam Megalitikum Sumpang Ralla di Barru (foto: mfaridwm/palontaraq).

Sejarah melukiskan tentang perjalanan penentu kehidupan saat ini, menjelaskan tentang perjuangan panjang menjelang kematian sampai direbutnya genggaman kemerdekaan sebagai pengakuan untuk menjalani setiap silsilah kehidupan di  zaman berikutnya.

Makam Megalitik Sumpang Ralla di Ralla, Lompo Riaja, Tanete Riaja adalah bukti peninggalan prasejarah yang masih bisa dilihat sampai sekarang.  Megalitik adalah bentuk-bentuk praktik kebudayaan yang dicirikan oleh pelibatan monumen atau struktur yang tersusun dari batu-batu besar sabagai ciri utamanya.

Lihat juga: Sumpang Ralla, Sejarah Zaman Megalitikum dalam Kompleks Makam

Di sisi Barat Makam Megalitik tersebut, terdapat  makam Tampung Lebba. Tak ada mengetahui berapa jenazah yang dimakamkan disana berdasar cerita penduduk setempat,  Latoanging,  yang menyebutkan ada perkelahian massal dengan cara baku tikam, dan semua yang meninggal langsung dimakamkan disitu.

Sang penutur cerita lisan, Latoanging, hanya menjelaskan bahwa perbedaan tinggi dan pendek nisan menunjukkan  perbedaan ilmu dan latar belakang kekuasaan dari orang yang dikuburka disitu.

Penulis di Kompleks Makam Sumpang Ralla.

Kompleks Makam Megalitikum  Sumpang Ralla (foto: mfaridwm/palontaraq).

Penulis di Kompleks Makam Sumpang Ralla.

Inikah Tampung LebbaE, sebagai dampak peristiwa baku tikam massal di tempat ini? (foto: ettaadil/palontaraq)

Penulis di Kompleks Makam Sumpang Ralla.

Makam Amirullah Dg Mamalu daam  Kompleks Makam Sumpang Ralla. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tampung LebbaE hanya sepenggal cerita yang tersisa.  Ada pula makam yang  berada pada posisi tengah tepat didalam pohon besar, merupakan makam Orang Bone bernama Amirullah Dg Mamalu.

Dahulu memang daerah Tanete merupakan salah satu wilayah lili Bone, meski begitu tak jelas cerita yang sebenarnya tentang sosok  Amirullah Dg Mamalu, ada yang mengatakan sebagai bangsawan tinggi Bone, yang memerintah, menikah dan menetap disitu, namun ada pula yang mengatakan tokoh tersebut adalah Ulama Penyebar Agama Islam.

Dahulu di wilayah Tanete, masyarakatnya pernah hanya mengenal satu Datuk yang menguasai Tanete,  disebut Petta Latitti.  Datuk inilah yang kemudian mewariskan transisi kekuasaan  Tanete Riaja, Tanete Rilau dan Pujananting.

Hanya ada tiga tanah tertua di Tanete yaitu Jalanru, Pangi dan Lakale,  ketiganya pun diakui oleh Kerajaan Bone.  Kompleks Makam Sumpang Ralla menurut penduduk setempat harus dijaga dan dipelihara karena makam tersebut bukti Sejarah Kelahiran Tanete (Barru). (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response