Prof Hamdan Juhannis: Melawan “Takdir”

Buku "Melawan Takdir" - Otobiografi Motivasi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Melawan Takdir” – Otobiografi Motivasi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Judul Buku: Melawan Takdir – Otobiografi Motivasi

Penulis: Hamdan Juhannis

Jumlah halaman: xiv + 354 halaman

Cetakan: 34, Maret 2019

Penerbit: Alauddin University Press

ISBN: 978-602-237-512-8

Related Post: SYL, Mata Air Peradaban dari Sulsel

PALONTARAQ.ID – Bagaimana mungkin dari desa terpencil, yatim, ibu buta huruf, dan sangat miskin mampu S2 dan S3 di luar negeri dan menjadi profesor termuda? Pertanyaan ini tertulis di cover buku, sebagai unsur pemenarik untuk menelusuri dan menuntaskan membaca otobiografi Prof Hamdan Juhannis,  Melawan Takdir.

Prof Hamdan Juhannis memulai penuturan kisah hidupnya tentang kemelaratan hidupnya di masa kecil. Bahwa ia lahir dan dibesarkan dalam kondisi sebagai anak yatim dengan ibu buta huruf. Rumahnya yang lebih tepat disebut gubuk dibeli ibunya hanya dengan seharga Rp5000 dari hasil merajut tenunan. Kisahnya ini bisa dibaca dalam “Hidup Yatim, Ibu Buta Huruf” (h.1-13), Gubuk seharga Rp5000 (14-22), dan Merajut Tenunan (h.23-36).

Prof Hamdan Juhannis (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis dalam suatu seminar motivasi dan bedah buku "Melawan Takdir" di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis dalam suatu seminar motivasi dan bedah buku “Melawan Takdir” di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis menuturkan kisah hidupnya dalam bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Di masa kecilnya, tentang Musibah Traktor (h.37-46) dan lintah di sawah, yang disebutnya hampir saja merenggut kelaki-lakiannya.

Saking miskinnya, sampai dirinya menganggap tak mungkin berulang-tahun karena tidak ditemuinya pencatatan kelahiran, meski begitu dirinya pernah merasakan menjadi Murid Teladan sewaktu di sekolah agama (madrasah). Tentang hal ini bisa dibaca dalam Bab Tidak Mungkin Berulang Tahun (h.60-75) serta sekelumit kisahnya Tinggal Asrama saat bersekolah (h.76-91)

Lihat juga: ‘Waria Sakti’ dari Peradaban Bugis Kuno

Prof Hamdan juga mengisahkan kebanggaannya pernah Masuk Televisi (h.92-109) karena prestasinya di sekolah dan dinonton sekampung, yang ketika itu Televisi ‘barang mewah’ dan hanya ada dua kampungnya. Suatu pengalaman yang sulit terlupakan, bahwa hal tersebut sudah menjadi suatu hal yang ‘mewah’, dapat berprestasi ditengah kemiskinan yang membelit, sebagaimana halnya kisahnya menjadi Penjual Kantong Plastik ke Buruh Bangunan (h.110-122).

Prof Hamdan Juhannis memberi cenderamata buku "Melawan Takdir" kepada Ketua YASDIC IMMIM Pangkep, Dra Hj Sri Hajati Fachrul Islam usai seminar motivasi dan bedah buku. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis memberi cenderamata buku “Melawan Takdir” kepada Ketua YASDIC IMMIM Pangkep, Dra Hj Sri Hajati Fachrul Islam usai seminar motivasi dan bedah buku. (foto: mfaridwm/palontaraq).

Berebut tanda tangan Prof Hamdan Juhannis. (foto: mfaridwm/palontaraq)Berebut tanda tangan Prof Hamdan Juhannis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Berebut tanda tangan Prof Hamdan Juhannis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Berebut tanda tangan penulis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Berebut tanda tangan Prof Hamdan Juhannis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para santriwati yang memegang buku "Melawan Takdir"

Para santriwati yang memegang buku “Melawan Takdir”

Berkat ketekunan belajar dan semangat pantang menyerah, Prof Hamdan mengisahkan kesuksesannya meninggalkan bangku sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA menuju bangku mahasiswa di IAIN. Saat menyandang status mahasiswa itulah, ia menantang teman terdekatnya, teman sekosnya, untuk melakukan petualangan mencari ilmu dan memperdalam kecakapan berbahasa asing, baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab.

Tempat yang dituju adalah Pesantren Modern Gontor Ponorogo di Jawa Timur. Kisah Prof Hamdan ini bisa dibaca dalam Bab Berpetualang ke Pondok Modern Gontor (h.123-139), dilanjutkan dengan ketekunannya memperdalam Bahasa Inggrisnya sampai menjadi Presiden Meeting Club (h.140-147).

Lihat juga: Cho Tae Young dan Aksara Serang yang Terlupakan

Buku “Melawan Takdir” dengan kisah menarik di setiap babnya benar-benar dapat menjadi motivasi bagi siapa saja yang sedang berjuang merebut pendidikan. Dituturkan dari kisah pribadi yang menyentuh serta sesekali diselingi humor yang segar dan bernas. Prof Hamdan telah menuturkan pula kisahnya menjadi Sarjana Terbaik (h.148-157) dan Momen Perubahan (h.158-167) yang telah dilewatinya dalam meniti tangga kesuksesan.

Bagi mereka yang mengimpikan dapat studi ke luar negeri dengan beasiswa penuh, dapat mengikuti dengan seksama kisah berikutnya dalam Buku “Melawan Takdir ini. Tentang perjuangan, kegigihan dalam belajar, kedisiplinan, serta fokus pada tujuan adalah sikap yang harus ada dan melekat dalam setiap langkah pemburu ilmu. Silakan baca kisah Prof Hamdan yang pantang menyerah dalam mengejar beasiswa studi ke luar negeri, dalam Bab Pembibitan: Jalur Studi ke Luar Negeri (h.168-183), Duri Meniti Mimpi Studi ke Kanada (h.184-207).

Foto bersama Santri Putri IMMIM (foto: ist/palontaraq)

Foto bersama Prof Hamdan Juhannis dengan Pembina dan Santri Putri IMMIM (foto: ist/palontaraq)

Foto bersama Prof Hamdan Juhannis dengan Santriwati Putri IMMIM. (foto: ist/palontaraq)

Foto bersama Prof Hamdan Juhannis dengan Pengasuh dan Santriwati Putri IMMIM. (foto: ist/palontaraq)

Proses itulah yang paling penting, kata Prof Hamdan Juhannis. Dan Hasil atau capaian takkan mengkhianati proses yang telah dilewati berdarah-darah, sampai akhirnya mimpi itu nyata adanya setelah menginjakkan kaki di Kanada. Kisah Prof Hamdan menuntut ilmu pada Program Studi S2 di Kanada, dapat diikuti dalam Bab Welcome to Canada (h.208-222) dan Berkah di Tanah Kanada (h.223-246).

Lihat juga: Menyingkap Rahasia Ajaran Syekh Yusuf dan Pertalian dengan Nabi Khidir

Kisah Prof Hamdan dalam menemukan jodohnya, juga merupakan satu kisah menarik tersendiri, justru pada saat dirinya terus berjuang untuk merebut pendidikan yang lebih tinggi. Ikuti kisahnya dan ambil pelajaran dari kisah langka tersebut dalam Bab tentang Pacaran setelah Menikah (h.247-263)

Prof Hamdan Juhannis dan Para Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Foto bersama Prof Hamdan Juhannis dan Para Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis menerima tanda penghargaan dan ucapan terima kasih dari Ketua YASDIC IMMIM Pangkep usai seminar motivasi dan bedah buku "Melawan Takdir". (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Hamdan Juhannis menerima tanda penghargaan dan ucapan terima kasih dari Ketua YASDIC IMMIM Pangkep usai seminar motivasi dan bedah buku “Melawan Takdir”. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Untuk meraih gelar akademik tertinggi, Doktor, tak cukup hanya dengan semangat, tapi butuh perjuangan lebih keras lagi dengan kedisiplinan yang tinggi. Daya juang itulah yang dimiliki Prof Hamdan sampai kemudian mengantarkannya kembali menjelajahi satu bagian wilayah dunia lain yang menantang, yaitu Australia dalam menempuh studi Program Doktor di Australia (h.264-325)

Demikianlah kisah Prof Hamdan dalam meniti perjuangan merebut pendidikan. Ketekunan, kedisiplinan, tak mudah menyerah, dan fokus adalah sikap yang harus hadir dan dihadirkan dalam mencapai kesuksesan, dan pada akhirnya, sekali lagi: tak ada hasil yang mengkhianati proses. “Proses itu lebih penting dari produk,” demikian ujarnya. Dan kini, dialah Profesor Termudanya (h.326), dialah Profesornya (h.338), dan dialah yang membuktikan bahwa “Takdir” bisa dilawan (348).

Hanya dalam waktu 6 Tahun, Buku “Melawan Takdir” ini sudah mengalami cetak ulang sebanyak 34 kali, dan malahan Kisah hidup dan perjuangan Prof Hamdan Juhannis merebut pendidikan ini telah diangkat ke layar lebar.  So, baca bukunya. Jikapun belum cukup, mari saksikan videonya di bioskop-bioskop Kota Makassar. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response