Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – “Alam Takambang Jadi Guru” adalah sebuah pepatah Minangkabau yang mengandung makna mendalam tentang proses pembelajaran. Pepatah ini mengajarkan bahwa alam semesta dengan segala isinya adalah sumber ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Manusia, sebagai bagian dari alam, seharusnya terus belajar dan mengambil pelajaran dari segala fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Deskripsi Buku:
Judul Buku: Alam Takambang Jadi Guru – Kearifan Lokal Minangkabau untuk Keragaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan.
Kata Pengantar: Henny Supolo Sitepu (Ketua Badan Pengurus Yayasan Cahaya Guru)
Kontributor: Era Purnamasari, Sicillia Leiwakabessy
Editor: Ahmad Nurcholish, Mutira Haradeani, Wrenges Widyastuti
Jumlah Halaman: 114 halaman
Cetakan Pertama: November 2016
Penerbit: Yayasan Cahaya Guru, Jakarta Selatan
ISBN: 978-602-60474-0-3
Apa Makna Mendalam dari Ungkapan Budaya “Alam Takambang jadi Guru” ini sehingga dijadikan sebagai Judul Buku ini, yang isinya sebenarnya merupakan hasil kajian dan penelitian mendalam tentang Kearifan Lokal, Multikulturalisme dan Islam di Minangkabau (Lihat: Bagian I, hal 3 -24)
Pada Bagian II, halaman 25-42, dibahas tentang Khazanah Minangkabau, tentang Alam Minangkabau dan Ungkapan Budaya “Alam Takambang Jadi Guru”, sebuah penegasan bahwa sangat penting untuk menjaga dan mengawal Pembelajaran Sepanjang Hayat. Alam tak pernah berhenti berubah dan berkembang. Oleh karena itu, manusia juga harus terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Belajar dari Alam merupakan satu konsepsi kearifan lokal tersendiri bagi masyarakat Minangkabau. Alam adalah guru yang paling sabar dan bijaksana. Melalui pengamatan terhadap alam, manusia dapat memahami hukum-hukum alam, proses kehidupan, dan berbagai fenomena alam lainnya. Pembelajaran yang paling efektif adalah pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung. Dengan berinteraksi langsung dengan alam, manusia dapat memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam dan bermakna.
Pada Bagian III, halaman 43-60, dibahas tentang Temuan, Peluang dan Tantangan Minangkabau dalam Mengelola Keragaman. Pada bagian III, secara spesifik diulas tentang gambaran temuan penelitian, bagaimana pemerintah dan masyarakat nagari dalam mengelola keragaman, dilengkapi dengan cerita dari dua nagari dan satu kampuang.
Konsepsi “Alam Takambang Jadi Guru” menegaskan bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam. Segala tindakan manusia akan berdampak pada lingkungan sekitar. Pandangan ini memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam dunia pendidikan dan lingkungan sosial masyarakat Minangkabau.
Pada Bagian IV, halaman 61-64, dibahas tentang Relevansi Kearifan lokal untuk Pengembangan Pendidikan Keragaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan, serta disertai panduan dan contoh kegiatan praktik.
Filosofi “Alam Takambang Jadi Guru” tetap relevan dengan tantangan pendidikan di era modern. Konsep pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pada keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi sangat sejalan dengan semangat belajar dari alam, menjadi satu kearifan lokal dalam masyarakat dalam mengembangkan pemahaman terhadap keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan.
Konsepsi “Alam Takambang Jadi Guru” adalah sebuah warisan intelektual yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Filosofi ini mengajak kita untuk kembali menghargai alam sebagai sumber ilmu pengetahuan yang tak terbatas dan sebagai tempat kita belajar sepanjang hayat. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, seorang Guru/Pemerhati Budaya.




[…] Alam Takambang Jadi Guru – Kearifan Lokal Minangkabau untuk Keragaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan, diterbitkan oleh Yayasan Cahaya Guru, Cetakan Pertama, November 2016. Lihat Resensi Bukunya: DISINI. […]