BerandaResensi BukuCho Tae Young dan Aksara Serang yang Terlupakan

Cho Tae Young dan Aksara Serang yang Terlupakan

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Judul Buku: Aksara Serang dan Perkembangan Tamadun Islam di Sulawesi Selatan

Penulis: Cho Tae Young

Pengantar : Dr. Edward L. Poelinggomang

Jumlah Halaman: xx + 214 halaman

Penerbit: Ombak Press

ISBN: 978-602-7544-44-4

PALONTARAQ.ID – CUKUP mengagetkan bagi penulis mendapati buku ini, “Aksara Serang dan Perkembangan Tamadun Islam di Sulawesi Selatan” (Ombak, 2012) diantara ratusan judul buku baru pada sebuah toko buku di Kota Makassar. Kaget karena ditulis oleh peneliti asal Korea Selatan.

Penggunaan Aksara Serang memang identik dengan tradisi tulis yang mengiringi perkembangan cara memahami Islam di tengah masyarakat Bugis Makassar sejak masa awal perkembangan tamadun islam di Sulawesi Selatan.

Lantas mengapa mengagetkan? Ya, karena para peneliti sejarah dan budayawan di Sulawesi Selatan seperti ikut melupakan Aksara Serang dan tak ada satupun kajian, penelitian, terlebih pengembangan agar Aksara Serang ini tetap terpakai dan tidak terlupakan seperti saat ini sampai kemudian buku ini terbit sebagai hasil penelitian seorang Cho Tae Young, Research Professor di Institute for East Asian Studies, Universitas Sogang, Korea Selatan.

Buku yang diangkat dari Disertasi Cho Tae Young saat menyelesaikan studi S3-nya di Jurusan Linguistik Universitas Hasanuddin (UNHAS) patut diapresiasi dengan baik dan tentu saja penelitian tentang Aksara Serang dari aspek Studi Grammatology (Kajian Aksara) ini menambah khazanah kepustakaan sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan.

Terkait Aksara Serang sebagai salah satu variasi dari aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Bugis dan Makassar, penulis buku ini mengulasnya lebih lengkap dalam hubungannya dengan perkembangan Tamadun (Peradaban) Islam di Sulawesi Selatan.

Buku ini terdiri atas 10 Bab, yaitu Bab I Pendahuluan (halaman 1-15) yang memuat Latar Belakang Masalah dan penjelasan tentang isi buku.

Cho Tae Young mengungkap bahwa kedudukan Aksara Serang di Sulawesi Selatan tidak dapat diabaikan, selain karena telah bermunculan variasi grafem dan sistem abjadnya, hal tersebut sebagai akibat dari penyesuaian bahasa dan budaya setempat yang menerimanya, dalam hal ini masyarakat Bugis Makassar.

Sayangnya, dibanding empat sistem tulisan lainnya yang ada di Sulawesi Selatan, yakni Jangang-jangang, Lontaraq, Bilang-bilang, Serang dan Latin, aksara Serang tidak terlalu luas penggunaannya sehingga sebagian besar rakyat Sulawesi Selatan tidak lagi mengingat dan mengetahui aksara Serang.

Jadi, hampir pasti aksara ini akan punah jika tidak dipelajari oleh generasi pesantren di Sulawesi Selatan sebagaimana juga diakui oleh Dr. Edward L. Poelinggomang (Sejarawan UNHAS) dalam pengantarnya di buku ini.

Cho Tae Young - Aksara Serang
Cho Tae Young – Aksara Serang dan Perkembangan Tamadun Islam di Sulawesi Selatan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada Bab II Tinjauan Pustaka (hal. 16-27), penulis yang belajar Bahasa Indonesia pada Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Jurusan Malay-Indonesian ini menjelaskan tentang grammatologi, Landasan teori, dalil dan Hipotesis, Hasil Penelitian Relevan, dan Definisi Operasional, sedang Bab III Metode Penelitian (hal. 28-38) membahas tentang Jenis penelitian, lingkup penelitian dan sumber data.

Pada Bab IV Perkembangan Aksara di Dunia (halaman 39-60), Cho Tae Young yang pernah meneliti sistem ejaan tulisan Jawi atas ejaan Rumi antara Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia dalam studi S2-nya di Jurusan Southeast-South Asian Studies, HUFS ini mengurai tentang Definisi dan Pengertian Aksara, Penggolongan Aksara secara Genealogis dan Tipologis, Peminjaman dan Penyesuaian Aksara, dan Aksara Pinjaman dan Identitasnya.

Pada Bab V Aksara-aksara di Indonesia (halaman 61-80), mengurai variasi-variasi aksara dari India, Arab, Latin dan Hangeul. Cho Tae Young mencatat bahwa Indonesia merupakan satu negara yang sulit dicari tandingannya di dunia ini, sebagai yang pernah dan masih (meskipun hampir punah) menggunakan berbagai jenis aksara.

Aksara-aksara itu (Pallawa, Kawi, Sunda, Bali, Kerinci, Batak, Jawi, Pegong, Lontarak, Serang, dan Wolio) semuanya dipinjam dari luar, dan semuanya digolongkan jenisnya ke dalam tiga golongan menurut tamadun asing yang bersangkutan, yaitu India, Arab dan Latin.

Dalam Bab VI Kedatangan Tamadun Islam dan Aksara Arab di Indonesa (hal. 81-91), menjelaskan tentang Kedatangan Tamadun Islam di Indonesia, Penggunaan aksara arab dan penyesuaiannya, dan catatan pertama dalam variasi aksara arab.

Pada Bab VII (halaman 81-91), Cho Tae Young sudah mengerucutkan hasil penelitiannya pada “Penyebaran Islam dan Aksara Serang di Sulawesi Selatan”. Dalam bab ini, peneliti aksara tradisi di Sulawesi Selatan ini mengurai tentang Penyebaran Tamadun Islam di Sulawesi Selatan, Orang Melayu dan Penggunaan Aksara Serang, Definisi dan Asal Usul Istilah Penyebutan Serang.

Sistem Aksara Serang sendiri dijelaskannya pada Bab VIII (hal.108-129), yang terbagi dalam sub Bab Aksara Serang dalam Genealogi, Aksara Serang dalam Tipologi, Grafem Konsonan Aksara Serang, Grafem Vokal Aksara Serang, Variasi Grafem Aksara Serang, dan Aksara Serang dan Variasi Aksara Arab Lain di Indonesia.

Diantara naskah lokal yang terdapat pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), naskah yang berasal dari Sulawesi Selatan berjumlah 4.049 buah, 780 buah diantaranya ditulis dengan aksara Serang (19,26 %). Sebanyak 3.269 naskah ditulis dalam aksara Lontarak, Jangang-jangang, dan Serang sekaligus (80,74 %).

Dari 780 buah naskah beraksara Serang tersebut, 544 naskah diantaranya berbicara tentang Islam sebagai bukti Aksara Serang ini lebih sering digunakan dalam lingkungan Budaya Islam dibanding dalam lingkungan tradisi Bugis dan Makassar.

Bab IX, Peranan Aksara Serang di Masyarakat Sulawesi Selatan (halaman 130-144),  Cho Tae Young  membagi sub bab Kedudukan dan Fungsi Aksara Serang di Masyarakat, Aksara Serang Hubungannya denga Jenis Aksara Lain di Sulawesi Selatan, Aksara Serang sebagai wadah pembinaan tamadun Islam di Sulawesi Selatan. Bab X Penutup (hal. 145-153).

Buku Cho Tae Young ini juga dilengkapi 12 Tabel dan 29 Gambar sebagai pelengkap pembahasan tentang perkembangan aksara tradisi di Indonesia dan terkhusus Aksara Serang di Sulawesi Selatan.

Buku ini jelas menambah khazanah intelektual tradisi lokal yang pernah berkembang seiring dengan penerimaan Islam dalam masyarakat Bugis Makassar sejak zaman kerajaan masih berlansung.

Akhirul Kalam, Penulis memandang bahwa buku ini patut dibaca dan dikaji oleh generasi muda, terkhusus bagi mereka pemerhati dan pegiat kajian sejarah budaya Bugis Makassar di Sulawesi Selatan. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT