‘Waria Sakti’ Dari Peradaban Bugis Kuno

by Penulis Palontaraq | Jumat, Jul 6, 2018 | 638 views
Buku "Manusia Bissu" (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Manusia Bissu” (foto: mfaridwm/palontaraq)

Judul Buku          : Manusia Bissu

Penulis                  : M. Farid W Makkulau

Foto Cover           : Intisari

Cetakan                : Pertama, 2008

Penerbit                : Pustaka Refleksi

ISBN                     : 979-3570-82-2

DALAM kehidupan sosial, pria feminim atau pria yang bertingkah laku sebagaimana layaknya perempuan biasa disebut waria, wandu, banci atau bencong. Dalam Bahasa Bugis, waria disebut calabai, berasal dari kata sala bai atau sala baine, yang artinya bukan perempuan atau calalai, bukan laki-laki.

Ungkapan tersebut merujuk kepada kondisi dimana seorang terlahir sebagai pria, tetapi bertingkah laku seperti perempuan atau sebaliknya (galle). Tentunya pandangan masyarakat Bugis Makassar mengenai calabai atau calalai ini adalah negatif, bahkan seringkali mengundang ejekan atau cemoohan.

Buku "Manusia Bissu" dan "Sejarah Kekaraengan di Pangkep" di TB. Grahamedia, Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Manusia Bissu” dan “Sejarah Kekaraengan di Pangkep” di TB. Grahamedia, Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lalu, bagaimana dengan waria yang ‘ditakdirkan’ menjadi Bissu. Apakah pandangan masyarakat tentang Bissu sama dengan waria pada umumnya. Kata “Bissu” itu sendiri diyakini berasal dari kata “bessi” atau “mabessi”, yang berarti bersih, suci, tidak kotor, karena mereka tidak berpayudara dan tidak mengalami menstruasi. Selain waria, ada pula bissu perempuan, yaitu mereka yang menjadi bissu setelah mengalami masa tidak subur lagi atau menopause (Makkulau, 2007).

Dalam khazanah Budaya Bugis masa silam, bissu mempunyai kedudukan yang sangat terhormat dan disegani, sebagai penyambung lidah raja dan rakyat. Bissu juga merupakan perantara antara langit dengan bumi, hal ini dimungkinkan karena kemampuannya menguasai  ‘bahasa langit’ yang hanya bisa dimengerti sesama Bissu dan para Dewa.

Dalam naskah Sureq Galigo dikisahkan bahwa Bissu pertama yang ada di Bumi bernama Lae-Lae, yang diturunkan bersama dengan Batara Guru. Batara Guru berasal dari Boting Langi (dunia atas) terobati dengan pertemuannya dengan We Nyili Timo dari Bori Liung (dunia bawah). Keduanya bertemu dan hidup secara turun temurun di Ale Kawa (dunia tengah). Dari sinilah diyakini tradisi Bissu berawal (di tanah Luwu) dan menyebar ke berbagai daerah Sulawesi Selatan.

Buku "Manusia Bissu" karya M. Farid W Makkulau. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Manusia Bissu” karya M. Farid W Makkulau. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada masa kerajaan, pernah hidup 40 bissu yang disebut Bissu Patappuloe yang dipersyaratkan sebagai jumlah bissu yang harus hadir (sebagai pelaksana) dalam Upacara Adat Mappalili.  Pada masa keemasan kerajaan dan pemerintahan kekaraengan di Sulawesi Selatan, tidak satupun upacara adat yang dapat dianggap lengkap dan sah tanpa keterlibatan waria sakti ini.

Komunitas Bissu merupakan pelestari tradisi dan pemelihara benda kebesaran kerajaan (kalompoang/arajang) dan keagamaan pada masa itu. Umumnya masyarakat, yang menggantungkan hidupnya sebagai petani dan nelayan masih mengapresiasi dengan baik upacara adat dan pemujaan terhadap dewata yang dilaksanakan komunitas ini.

Komunitas Bissu Dewatae, sebutan bagi komunitas Bissu di Pangkep, hidup dalam suatu aturan dan disiplin yang tinggi dalam menjalankan kepercayaan dan tradisinya. Hal ini tampaknya sulit dipahami apalagi dijalankan bagi mereka yang tidak mampu melihat gaya hidup semacam ini sebagai suatu “panggilan suci”.

Seorang waria (calon bissu) yang memenuhi syarat untuk menjadi bissu membutuhkan serangkaian proses masa belajar yang tidak mudah, perlu waktu bertahun-tahun untuk menjadi bagian dari komunitas ini. Bissu yang tergolong pintar dapat lulus dalam masa 3-5 tahun.

Dalam pendidikannya, seorang bissu tidak saja mempelajari tentang etika kebissuan dan pematangan dalam menjalankan tradisi upacara adat, mereka juga harus memahami dengan baik ‘bahasa langit, bahasa yang mereka jadikan media berkomunikasi dengan para dewata atau leluhurnya.

Kehebatan para Bissu tampak saat melakukan atraksi maggiri, dalam kondisi pikiran bawah sadarnya, Bissu sama sekali tak mempan senjata tajam. Kini mereka lebih banyak memosisikan diri sebagai traditional event organizer, memenuhi undangan pentas atau pesanan hajatan baik dari masyarakat maupun dari pemerintah, tanpa melepas kerja harian mereka sebagai perias pengantin atau ahli tata rias di salon.

Buku "Manusia Bissu" karya M. Farid W Makkulau. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Manusia Bissu” karya M. Farid W Makkulau. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulisan buku “Manusia Bissu” ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan pengetahuan kita tentang Komunitas Bissu dalam konteks kesejarahan dan kebudayaan sebagai komunitas yang sangat dihormati dan disegani dalam perannya sebagai pendeta Bugis pra-Islam pada zaman kerajaan.

Kehadiran Bissu, dalam perjalanan sejarahnya di Pangkep tentunya tak lepas peran sentralnya pada masa Kerajaan Segeri, masa yang lebih tua lagi, yaitu pada masa kejayaan dan kemasyhuran Kerajaan Siang. Menarik untuk disimak kekhasan komunitas bissu ini dengan segala nilai dan kepercayaan yang dianutnya, pengetahuan budaya, bahasa serta kemampuannya membaca tanda-tanda kehidupan pada setiap ritual adat yang digelarnya.

Semoga dengan kehadiran buku ini, “Manusia Bissu” mendapatkan gambaran dan pemahaman yang utuh mengenai eksistensinya, konsep kepercayaan, ajaran dan tradisinya dalam konteks kebudayaan daerah yang perlu mendapatkan perhatian. Pada akhrinya penulis mengucapkan selamat membaca. Semoga bermanfaat adanya. (*)

 

 

Like it? Share it!

1 Comment so far. Feel free to join this conversation.

Leave A Response