Aspek Kebahasaan dalam Penulisan Artikel

by Kontributor Palontaraq | Minggu, Apr 21, 2019 | 54 views
Ilustrasi- Dalam penulisan artikel harus teliti soal aspek kebahasaan. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi- Dalam penulisan artikel harus teliti soal aspek kebahasaan. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Wahya, Staf Pengajar Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung

1. Pendahuluan

Dunia pendidikan tinggi identik dengan dunia keilmuan dan penelitian ilmiah dalam berbagai disiplin, baik sebagai syarat kelulusan jenjang studi maupun untuk kepentingan lainnya.  Hasil penelitian pun kemudian disajikan dalam beragam bentuk publikasi ilmiah, diantaranya artikel, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Semaraknya penelitian ilmiah, yang disertai dengan penyajian hasil laporannya berupa artikel ilmiah, selayaknyalah diikuti peningkatan kualitas penulisan artikel,  terkait mutu penyajian dan aspek kebahasaan.  Artikel ilmiah yang baik dan berkualitas tidak hanya menyajikan topik aktual,  bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga memperlihatkan kecermatan penggunaan bahasa.

Bahasa artikel ilmiah harus menggunakan ragam tulis baku, meliputi tata tulis atau ejaan baku, tata bahasa, yakni bentuk kata dan kalimat baku, dan kosakata baku. Penulis tidak hanya dituntut menguasai aspek kebahasaan,tetapi juga  harus menguasai penulisan komposisi, dalam hal ini, penulisan paragraf.

Tulisan ini menyajikan aspek kebahasaan  dan masalah paragraf.  Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kesalahan pada materi tersebut dalam penulisan artikel ilmiah. Termasuk masalah kosakata,  istilah, diksi, ejaan, bentuk kata, kalimat, dan paragraf.

Lihat juga:  Filsafat Komunikasi dalam Menulis

2. Aspek Kebahasaan

Aspek kebahasaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aspek lain penulisan artikel ilmiah, yaitu topik bahasan, sistematika, dan perwajahan.  Tulisan ini secara berurutan akan mengurai aspek kebahasan, seperti:  ejaan,  bentuk kata,  pilihan kata, kalimat, dan paragraf.

2.1 Ejaan

Sebagai karya tulis, artikel yang baik tecermin dari penggunaan ejaan yang benar. Berikut ini  disajikan beberapa contoh penggunaan ejaan yang benar dalam penulisan artikel ilmiah.

a. Penulisan kata depan

Kata depan dipisahkan dari kata yang menyertainya.
Contoh:
di antaranya
di samping ‘selain’, ‘di sebelah’
ke atas
dari bawah

b. Penulisan partikel pun

Partikel pun, yang berarti ‘juga’, harus dipisahkan dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
penelitianpun
mengamatipun
sedikitpun
satupun

Akan tetapi, penulisanpun pada kata berikut harus diserangkaikan: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun,meskipun, sekalipun,sungguhpun, dan walaupun.

c. Penulisan Partikel per

Partikel per yang berarti setiap, demi. mulai, dan melalui dituliskan terpisah darikata yang mengikutinya.
Contoh:
per orang ‘setiap orang’
satu per satu ‘satu demi satu’
per November ‘mulai November’
per pos ‘melalui pos’

Akan tetapi, per yang berarti ‘bagi’ dituliskan serangkai dengan kata yangmendahuluinya.

Contoh:
dua per lima ‘dua bagi lima’
satu per tiga ‘satu bagi tiga’

d. Penulisan Gabungan Kata

Gabungan kata ditulis dengan ketentuan sebagai berikut.

(i) Gabungan kata ditulis terpisah jika unsurnya berupa kata dasar atau salah satuunsurnya hanya berawalan atau hanya berakhiran.

Contoh:
beri tahu, beri tahukan, memberi tahu
kerja sama, bekerja sama
tanggung jawab, bertanggung jawab
terima kasih, berterima kasih

(ii) Gabungan kata ditulis serangkai jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus danjika salah satu unsur gabungan kata merupakan unsur terikat. Di samping itu, adabeberapa gabungan kata yang harus ditulis serangkai karena dianggap sudah padu.

Contoh:
memberitahukan
pertanggungjawaban
pascapanen
subsistem
daripada
segitiga

Lihat juga:  Dari ‘Creative Thinking ke ‘Creative Writing’ (1) Dari ‘Creative Thinking ke ‘Creative Writing’ (2)

2.2 Bentuk Kata

a. Peluluhan Bunyi

Bunyi awal, p, t,k, dan s bentuk dasar luluh jika mendapat imbuhan me(N)- dan pe(N)-, tetapi bunyi b,d,g,c,j, dan f tidak. Awalan me(N)- danpe(N)- tidak disertai bunyi ng ketika menempel pada bentuk dasar yang berawal dengan bunyi l dan r. Awalan me(N)-
4danpe(N)-menjadi menge- dan penge- ketika menempel pada bentuk dasar satu suku kata,tetapi awalan di-tetap.

Perhatikan beberapa contoh bentukan kata pada tabel berikut.

Tabel 1. Pembentukan Kata dengan ImbuhanMe(N)-.Pe(N)-, dan Di-

01artikel

b. Hubungan Imbuhan me(N)-/me(N)- + -kan dan pe(N)-  + -ansertabe (R)- dan pe (R)- +-an

Kata kerja berimbuhanme(N)/me(N)- + -kan memiliki hubungan dengan kata benda berimbuhan pe(N)- +-an, sedangkan kata kerja berimbuhan be(R)- memiliki hubungan dengan kata benda berimbuhanpe(R)- +-an.

Perhatikan tabel berikut.
Tabel 2 Pembentukan Kata dengan Imbuhan Me(N)-,Pe(N)-,be(R)- danpe(R)-

02artikel

Lihat juga:  Menyoal Penggunaan Kata “Membonceng”

2.3 Pilihan Kata (Diksi)

Kata yang digunakan dalam artikel ilmiah harus memperhatikan ketepatan dankesesuaian. Ketepatan terkait dengan gagasan yang disampaikan, sedangkan kesesuaian terkait dengan situasi pemakaian. Pemakaian diksi dengan tepat artinya kata yang dipakai harus menyajikan gagasan yang tepat serta bentuk dan pamakaiannya sesuai dengan kaidah bahasa.

Pemakaian diksi dengan sesuai artinya kata yang dipakai sesuai dengan konteks situasi pemakaiannya, resmi tidak resmikah, tulisan atau lisankah. Dalam situasi resmi harus digunakan kata baku, bukan kata tak baku. Dalam penulisan artikel ilmiah biasanya digunakan peristilahan teknis sesuai dengan bidang ilmu, bukan kata umum.

Perhatikanlah tabel berikut.
Tabel 3 Pemakaian Diksi

Lihat juga:  Rocky Gerung tentang Fiksi

2.4 Kalimat

Kalimat dalam artikel ilmiah harus memperhatikan sisi keefektifan. Berikut ini beberarapa ciri kalimat efektif.
a. Subjek tidak didahului kata depan
Contoh:
1.  Untuk krisis kepercayaan terhadap pemerintahan di Indonesia meluas dan mengakar.
2. Dalam penelitian ini bertujuan mempelajari unsur-unsur yang membentuk kompetensi calon perawat profesional.
3. Terhadap studi perubahan sosial di daerah itu berhasil mengungkapkan fenomena yang ada.

Agar subjek kalimat (1)—(3) di atas jelas, kata depan yang mengawali kalimat masing-masing, yaitu untuk,dalam, dan terhadap harus dihilangkan.

b. Kata hubung intrakalimat tidak mengawali kalimat tunggal

Contoh:
4. Di beberapa daerah hujan sudah turun.Sedangkandi beberapa daerahlain belum.
5. Faktor penyebab bobolnya tanggul belum diketahui. Sehingga pemda setempat menunjuk tim khusus untuk menelitinya.

Kalimat yang diawali kata hubung intrakalimat harus digabungkan dengan kalimat sebelumnya agar menjadi padu. Perhatikan kalimat berikut sebagai perbaikan kalimat diatas.

4a. Di beberapa daerah hujan sudah turun,sedangkandi beberapa daerah lain belum.
5a. Faktor penyebab bobolnya tanggul belum diketahui sehingga pemda setempat menunjuk tim khusus untuk menelitinya.

c. Kata hubung kalimat majemuk bertingkat harus diekspilistkan

Contoh:
6. Mendapatkan rekomendasi tim ahli, pemerintah pusat menyatakan daerah tersebut sebagai daerah berbahaya.
7. Tinggal di daerah yang mengalami kemarau panjang, mereka kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Seharusnya:

6a.Setelahmendapatkan rekomendasi tim ahli, pemerintah pusat menyatakan daerah tersebut sebagai daerah berbahaya.

Atau

6b.Karenamendapatkan rekomendasi tim ahli, pemerintah pusat menyatakandaerah tersebut sebagai daerah berbahaya.
7a.Karenatinggal di daerah yang mengalami kemarau panjang, mereka kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

d. Tidak menggunakan kata hubung secara bersamaan yang dapat menimbulkan kerancuan kalimat.

Contoh:
8. Walaupun masyarakat sudah mendapat bantuan langsung tunai dari pemerintah,tetapitingkat daya beli mereka tetap rendah.
9.  Karena belum ada penyuluhan dari petugas kesehatan maka masyarakat belum bertindak apa-apa untuk mengatasi penyakit yang muncul.

Seharusnya:

8a.Walaupun masyrakat sudah mendapatkan bantuan langsung tunai dari pemerintah, tingkat daya beli mereka tetap rendah.

Atau

8b. Masyarakatsudah mendapatkan bantuan langsung tunai dari pemerintah,tetapi tingkat daya beli mereka tetap rendah.

9a.Karenabelum ada penyuluhan dari petugas kesehatan, masyarakat belum bertindak apa-apa untuk mengatasi penyakit yang muncul.

Atau

9b. Penyuluhan dari petugas kesehatan belum adamakamasyarakat belum bertindak apa-apa untuk mengatasi penyakit yang muncul.

7e. Menghindarkan penggunaan kata yang mubazir

Contoh:

10. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan kalimat pasif yang terdapat dalam media massa cetak.

11. Data dikumpulkan hanya dari satu kecamatansaja.

Seharusnya:

10a. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan kalimat pasif yang terdapat dalam media massa cetak.
11a. Data dikumpulkan hanya dari satu kecamatan. Atau
11b. Data dikumpulkan dari satu kecamatan saja.

Lihat juga:  Awalan “me” pada Konsonan yang berdiri sendiri

2.5 Paragraf

Paragraf dalam artikel ilmiah lazimnya berupa paragraf eksposisi dan paragraf argumentasi. Paragraf yang baik memperhatikan faktor kesatuan topik, kepaduan bentuk-makna, dan kelengkapan gagasan.

Satu paragraf hanya menyajikan satu topik atau satugagasan, tidak boleh lebih. Kalimat-kalimat dalam paragraf dapat diikat dengan katahubung, kata ganti, atau kata kunci. Kalimat-kalimat tersebut harus saling mendukung kesatuam gagasan.

Kalimat topik paragraf harus dirinci dengan beberapa kalimat penjelas.Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat topik harus dihindari.

Paragraf 1 dan paragraf 2 merupakan paragraf yang tidak baik. Paragraf 1hanyaterdiri atas satu kalimat topik. tanpa ada kalimat penjelas.
Paragraf 2 memuat dua gagasanyang berbeda.

Oleh karena itu, paragraf 1 harus dikembangkan dengan beberapa kalimatpenjelas. Dua kalimat topik pada paragraf 2 masing-masing harus dikembangkan menjadiparagraf baru yang terpisah.

(1) Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di mana perguruan tinggi sebagai pembinanya merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki tingkat tanggung jawab lebih besar dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya dalam mengubah Sumber Daya Manusia (SDM)  Indonesia menjadi sumber daya yang mampu bersaing di tingkat internasional.

(2) Dalam menghadapi era globalisasi saat ini dan di kemudian hariperanansumber daya manusiasuatu bangsa sangat menentukan keberhasilan bangsa tersebut untuk bersaing dengan Bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Kualitas sumber daya manusia suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana sumber daya manusia tersebut dididik baik oleh lingkungannya maupun oleh lembaga pendidikan mulai Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (PT) untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi persaingan.

Lihat juga: Memaknai Kata ‘Khazanah’

3. Penutup

Menulis artikel ilmiah memerlukan pengetahuan dan pemahaman kaidahkebahasaan di samping pengetahuan teknis lain. Artikel yang baik bukan hanya sekadar mengemas gagasan, tatapi mempertimbangkan keapikan sarana pengemasnya, yakni bahasa, dan kecermatan penyajiannya.

Untuk terampil menulis artikel ilmiah seperti juga terampil menulis artikel lain, perlu sering memanfaatkan kesempatan untuk berlatih.

Selamat berlatih menulis.

Bahan Rujukan

Akhadiah, Sabarti dkk. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Cet. II.Jakarta: Erlangga.Alam, Agus Haris Purnama. 2005.
Konsep Penulisan Laporan Ilmiah (Format dan Gaya).Cet. III. Bandung: YIM Press.Arifin, E. Zaenal. 2004.
Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Cet. V. Jakarta:Grasindo.Hariwijaya, M. 2006.
Pedoman Teknis Penulisan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, danDisertasi. Cet. I. Yogyakarta: Citra Pustaka.Rahmadi, Muhammad dkk. 2008.
Teori dan Aplikasi Bahasa Indonesia di PerguruanTinggi. Surakarta: UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS.

 

————————————————–

(* Aspek Kebahasaan dalam Penulisan Artikel, disampaikan dalam Pelatihan dan Pendampingan Penulisan Artikel Ilmiah pada 15 dan 19 Juli 2010 di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung.

 

Like it? Share it!

Leave A Response