Dari ‘Creative Thinking’ ke ‘Creative Writing’ (2 – Habis)

Menulis bisa dimana saja dan kapan saja. (foto: archut)

Menulis bisa dimana saja dan kapan saja. (foto: archut)

Tulisan Sebelumnya:

Dari ‘Creative Thinking’ ke ‘Creative Writing’ (1)

BERPIKIR Analogi (comparative thinking) merupakan salah satu ciri yang menonjol dari orang yang senang berpikir kreatif. Berpikir kreatif (Creative Thinking) haruslah memenuhi tiga syarat. Pertama, melibatkan respons atau gagasan baru yang secara statistik jarang terjadi, tetapi kebaruan saja tidak cukup. Kedua, memecahkan persoalan secara realistis. Ketiga, mempertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin.

Ketika seseorang terbiasa berpikir kreatif, maka akan mengarahkan tulisannya untuk mengangkat gagasan baru dan realistis. Berpikir kreatif dapat pula disamakan dengan Berpikir Evaluatif dalam menulis, yaitu menilai suatu gagasan secara kritis. Sangat penting disini untuk membedakan berpikir kreatif dan tak kreatif dengan konsep berpikir konvergen dan divergen.

sumber foto: writemysite.co.uk

Berpikir Konvergen dan Divergen diperlukan untuk menghasilkan Tulisan Kreatif. (sumber foto: writemysite.co.uk)

Berpikir Konvergen (convergen thinking) erat kaitannya dengan kecerdasan sedang Divergen dengan kreatifitas. Berpikir Divergen dapat diukur dengan fluency, flexibility dan originality. Bila saya sebagai seorang penulis meminta saudara menyebutkan sebanyak mungkin potensi SDA Batubara Indonesia dengan kemungkinan akan habis dieksploitasi kurang dari 100 tahun lagi. Hal ini berarti saya sedang mengukur fluency anda. Jika jawaban anda bukan saja panjang tetapi juga menunjukkan keragaman dan hal yang luar biasa, berarti anda memiliki skor tinggi dalam fleksibility dan originality.

Orang kreatif memiliki kebiasaan yang tidak umum. Kreatifitas juga tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman sosial. Itu pula sebabnya kehebatan menulis tidak dipengaruhi oleh tingginya tingkat pendidikan, malah lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman dalam dunia tulis menulis. Orang kreatif ternyata berpikir analogis dan mampu melihat berbagai hubungan yang tidak terlihat orang lain.

Orang biasa sering berpikir analogis, tetapi berpikir analogis orang kreatif ditandai oleh sifatnya yang luar biasa, aneh dan kadang-kadang dianggap irasional, oleh orang yang berbeda taraf pemahamannya. Yang pasti, orang kreatif berpikir tidak konvensional dan ketika menulis, tulisannya bukan tulisan yang lazim, dari segi ide dan gaya penuturan.

Orang kreatif melakukan loncatan pemikiran yang memperdalam pemikiran dan memperluas cakrawala pandangan. Bila pemikir kreatif menganalogikan A dengan B, maka semua sifat A dipindahkan ke B, sehingga lebih kaya konseptual. Tulisan dengan pemikiran kreatif seperti itu biasa disebut berpikir ‘analogis-metaforis’ dengan lima tahapan proses berpikir kreatif.

Pertama, Orientasi. Pada tahap ini masalah dirumuskan dan aspek masalah diidentifikasi.

Kedua, Preparasi. Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.

Ketiga, Inkubasi. Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai jalan pemecahan menghadapi jalan buntu. Pada tahap ini proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar.

Keempat, Iluminasi. Masa inkubasi berakhir dan pemikir (penulis) memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah dan menimbulkan ‘Aha Erlebnis’. “Surprise”. Pada tahap ini pemikir (penulis) mengalami pencerahan seketika dengan kesadaran baru dan perspektif baru.

Kelima, Verifikasi. Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan.

Walaupun demikian, Terdapat beberapa faktor yang secara umum menandai Orang kreatif atau penulis yang berpikir kreatif, yaitu Pertama, Kemampuan kognitif. Termasuk disini kecerdasan diatas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan yang berlainan serta fleksibilitas kognitif. Kedua, Sikap yang terbuka. Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal, ia memiliki minat yang beragam dan luas. Ketiga, Sikap yang bebas.

Dalam arti otonom dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang ‘digiring’, penulis yang kreatif selalu ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat pada konvensi sosial. Peneguhan sikap seorang penulis kreatif merupakan hasil dari kemampuan kognitif, sikap yang terbuka dan bebas. Berpikir kreatif hanya berkembang pada masyarakat yang terbuka, toleran terhadap ide-ide cemerlang dan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mengembangkan potensi dirinya.

Penulis yang terbiasa berpikir kreatif akan mampu menyuguhkan tulisan dari sudut pandang yang berbeda, gagasan yang tidak lazim bahkan bisa dianggap nyeleneh atau ‘gila’. Penulis kreatif mengajak pembaca melihat sesuatu dari pandangan yang tidak umum sehingga mampu mencerdaskan dan mencerahkan, meski jelas, dianggap berbeda. Karena itu, mari menulis berbeda. Kreatiflah. Buatlah tulisan yang berbeda dari kelaziman. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response