Vonis Hakim yang Berempati terhadap Terdakwa

Vonis hakim (foto: kaskus)

Vonis hakim (foto: kaskus)

Fiksi yang Menginspirasi

Suatu hari di Negeri Wkwkwkland, Seorang Nenek yang mencuri singkong karena kelaparan akhirnya membawanya sampai ke ruang pengadilan dengan status sebagai terdakwa.  Sang Nenek dituntut oleh Manajer Perusahaan PT. Untung Terus  melalui kuasa hukumnya karena singkong berada di lahan perusahaan Mukidi, seorang konglomerat.

Diruang sidang pengadilan, Hakim Andi Adil duduk tercenung menyimak tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Sang Nenek itu berdalih bahwa hidupnya sangat miskin, anak lelakinya sakit, sementara cucunya kelaparan. Namun Manajer Perusahaan tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim Andi Adil menghela nafas. Sang hakim memutus diluar tuntutan JPU.

“Maafkan saya”, katanya sambil memandang Sang Nenek pencuri singkong itu.

“Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum. Hukum tetap hukum! Jadi, nenek  harus dihukum. Saya mendenda nenek sebanyak 1 (satu) juta rupiah dan jika nenek tidak mampu membayar maka nenek masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan Jaksa Penuntut Umum”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara Hakim Andi Adil mencopot topi, membuka dompetnya kemudian mengambil dan memasukkan uang sejumlah  satu juta rupiah ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin.

“Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini untuk membayar minimal 50 ribu rupiah, sebab menetap di kota ini, namun  membiarkan seorang nenek kelaparan sampai harus mencuri singkong untuk memberi makan anak dan cucunya.”

”Saudara Panitera,  Tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

Sampai palu diketuk dan Hakim Andi Adil meninggalkan ruang sidang, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5 juta rupiah, termasuk uang 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT. Untung Terus yang tersipu malu karena telah menuntut sang nenek miskin tersebut. Sungguh sayang kisahnya luput dari Pers. (*)

Kisah Para Perindu Keadilan 

Kisah diatas merupakan hanya fiksi saja, cerita rekaan saja. Negeri wkwkwkland adalah negeri imajinasi penulis, tempat dimana kita menertawakan ketakberdayaan menghadirkan imajinasi dan impian yang baik, sehingga kisah yang ada didalamnya hanya dianggap bahan tertawaan saja. Kisah tentang nenek pencuri singkong dan hakim yang berempati terhadapnya telah tersebar di banyak media, personal blog, sosial blog dan sosial media, dan bahkan media mainstream yang memiliki media online juga memuatnya. Hanya saja tidak berbasis fakta dan cenderung mencemarkan nama baik orang atau perusahaan tertentu.

Kisah tentang Sang Nenek yang mencuri singkong untuk bertahan hidup dan kemudian berhadapan dengan pengadilan memang ada dalam kenyataannya, namun ujung dari persidangan dan vonis hakim tidak seperti dalam ceritaan diatas. Mengapa sampai banyak yang share cerita rekaan tentang Sang Hakim yang berempati terhadap terdakwa, tentu hal tersebut harus dipahami sebagai suatu kerinduan terhadap hadirnya keadilan dari sang aparat hukum.

Keadilan dan Persamaan Hak di depan hukum menjadi kerinduan semua orang, itulah sebabnya ketiadaannya menjadi kerinduaan semua orang, sehingga lahirlah cerita imajinatif tentang hakim yang hebat, hakim yang berempatu terhadap terdakwa, dan bahwa seharusnya Pengadilan berpihak kepada terdakwa yang melakukan ‘kejahatan’ karena keterpaksaan, karena pemerintah tak menghadirkan kesejahteraan dan keberpihakan terhadap masyarakat miskin.

Apapun itu kisahnya, semoga menginspirasi kita semua untuk tetap mencari dan merindu keadilan, dan khususnya bagi aparat hukum agar benar-benar komitmen menghadirkan kepastian dan keadilan hukum.  Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Begitu pula dengan Pers, agar berpihak kepada kebenaran. “Membela yang benar, dan bukannya yang membela yang bayar”.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response