BerandaFilsafatFilsafat Komunikasi dalam Menulis

Filsafat Komunikasi dalam Menulis

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – MENULIS sebagaimana halnya berbicara (public speaking) adalah keterampilan mengomunikasikan pemikiran personal menjadi pemikiran publik. Ketika sebuah tulisan terpublish di Media, apakah itu di media mainstream ataukah di media online, itu berarti seorang penulis telah mengambil satu langkah lebih maju dengan resiko. Menulis, di satu sisi bisa membawanya kepada kepopuleran, disisi lain pemikirannya dalam tulisannya tersebut telah menjadi milik publik.

Menulis adalah keterampilan mengomunikasikan pemikiran personal menjadi pemikiran publik. Pikiran dalam sebuah tulisan adalah referensi yang diperlukan masyarakat untuk memberi arah, merasionalisasikan sikap dan tindakan, membantu menemukan pilihan, menjawab pertanyaan dan memberikan solusi.

Untuk mengomunikasikan sebuah tulisan dalam sebuah media, diperlukan sedikit pemahaman tentang filsafat komunikasi, paling tidak seorang penulis harus mengetahui siapa pembacanya. Dengan mengetahui segmen pembaca dari suatu media, seorang penulis bisa mengarahkan gaya penulisan dan teknik mengomunikasikan pemikirannya. Dengan kata lain, jangan menggunakan bahasa gaul khas ABG (anak baru gede)/remaja jika segmen pembaca suatu media adalah lingkungan akademis.

Syarat pertama yang harus kita miliki atau termaktub dalam sebuah tulisan adalah kekayaan pikiran. Dan, ini ditentukan oleh dua hal. Untuk sebuah social blog dan penjelajahan pengetahuan di dunia maya, kekayaan pikiran sangat diperlukan, mengingat beragamnya latar belakang kompasianer, begitu pula pembaca tulisan di social blog/internet.

Yang diperlukan kemudian bagi seorang blogger/penulis adalah: Pertama, kekayaan dan orisinalitas tulisan. Kedua, kemampuan mengekplorasi referensi dan memformulasikannya untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan pembaca. (Makkulau, 2004). Di luar itu, Kompasiana juga bisa menjadi media pembelajaran bagi penulis pemula, paling tidak sebagai media latihan dan menguji pemikirannya sebelum mengirimkan tulisannya di media mainstream.

Buku yang pernah saya tulis ini (terbitan 2004) sedikit menjelaskan tentang Psikologi Komunikasi dalam sosialisasi pemikiran. (ist)
Buku yang pernah saya tulis ini (terbitan 2004) sedikit menjelaskan tentang Psikologi Komunikasi dalam sosialisasi pemikiran. (ist)

Syarat kedua yang diperlukan dalam sebuah tulisan adalah stuktur pemikiran yang kuat dan solid. Kesolidan terbentuk ketika mencakup semua bagian yang inheren didalamnya dan pada waktu yang sama mempunyai daya tahan terhadap kritik dari luar. Sebuah tulisan dengan struktur pemikiran yang solid akan berpengaruh pada tiga hal. Pertama, pada tingkat kejelasan pikiran dan pada keseluruhan susunan kesadaran kita. Kedua, pada tingkat keyakinan kita terhadap pemikiran tersebut, yang biasanya selalu tinggi. Ketiga, pada kemampuan kita membahasakannya atau pada daya ungkap yang tercipta dari kejelasan pikiran tersebut. Semakin jelas pemahaman kita terhadap suatu pikiran, semakin sempurna kemampuan kita membahasakan atau menuliskannya. (Makkulau, 2004).

Syarat ketiga adalah kemampuan meyakinkan publik pembaca, tidak sebatas meyakinkan bahwa apa yang dituliskan tersebut benar tetapi juga mencakup kemampuan meyakinkan bahwa tulisan itu adalah orisinalitas pemikiran penulisnya, bukan copas, saduran atau plagiat. Jika kemampuan ini bisa dieksplorasi dengan baik, maka tulisan kita tersebut sangat berpotensi untuk digulirkan menjadi sebuah opini publik, apalagi track record kita selama ini—yang dalam bahasa ”new media/social blog” disebut ”personal branding” telah terakui bahwa kita kompeten dan kapabel terhadap bidang pemikiran tertentu.

Filsafat komunikasi menganjurkan bahwa untuk memenuhi syarat ketiga ini, sebuah tulisan bertumpu kepada: Pertama, Pada penguasaan teoritis terhadap pikiran yang ingin kita publikasikan. Kedua, Pada penguasaan kita tentang struktur pemikiran orang lain dan berbagaivarianyang membentuknya. Ketiga, Pada kejelian kita dalam menemukan entry point yang tepat untuk melakukan penetrasi terhadap pemikiran orang lain. Keempat, Pada kemampuan menemukan format bahasa yang tepat dengan struktur kesadaran, bentuk logika, kecenderungan estetika kebahasaan, situasi psikologis dan momentum yang mengorelasikan tulisan kita dengan pembaca. (Makkulau, 2004).

Saran yang baik sebagai syarat lahirnya tulisan adalah, “Berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan tingkat pemikiran mereka”. Begitulah pula adanya sebuah Tulisan jika ingin mendapatkan penerimaan. Di laman maya/web blog, kita bisa belajar bagaimana menghargai sebuah tulisan dan penulisnya. Kolom komentar dan penilaian pembaca bisa jadi umpan balik (feedback) untuk ”saling mendewasakan” terhadap suatu pemikiran/tulisan. Mari lestarikan ”Sharing and Connecting” itu. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis dan Pekerja Media

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT