Beranda Bahasa Menyoal Penggunaan Kata “Membonceng”

Menyoal Penggunaan Kata “Membonceng”

Yang manakah yang dimaksud membonceng dan pembonceng?
Yang manakah yang dimaksud membonceng dan pembonceng? (sumber foto: bellisuma.blogspot.com)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – PEMAHAMAN  umum tentang kata “ Membonceng” dengan kata dasar “bonceng” ini seringkali hanya dikaitkan dengan pemakaian kendaraan roda dua secara bersama-sama.

Pengendara motor atau sepeda yang duduk di depan seringkali disebut membonceng, sedang yang duduk di belakang disebut dibonceng. Padahal yang benar justru yang duduk di belakang itulah yang sebenarnya disebut membonceng. Kesalahan penggunaan kata membonceng ini bukan hanya terjadi dalam pengucapan, tetapi lebih banyak lagi terjadi dalam banyak penulisan.

Adalah Sastrawan dan seniman Asdar Muis RMS yang getol mengoreksi kesalahan pengucapan dan penulisan kata membonceng ini. Beberapa waktu lalu dalam Tadarrus Sastra di Pulau Karanrang (10-11 Agustus) mengingatkan kepada para pegiat sastra di Pangkep bahwa penggunaan kata membonceng yang tepat adalah orang yang duduk di belakang, yang selama ini dalam persepsi masyarakat awam bahwa yang duduk di belakang itu disebut dibonceng oleh yang duduk di depannya (pembonceng).

“Jika kalian membaca dengan baik Sejarah Nasional, disitu disebutkan bahwa ‘Belanda membonceng Sekutu’ sebagai salah satu strategi Belanda untuk masuk kembali menjajah Indonesia. Disini kata membonceng berarti ikut serta atau mengikut, yang berarti Belanda memanfaatkan Sekutu untuk ikut serta (membonceng) masuk kembali ke Indonesia”, jelas Asdar Muis RMS.

Dalam tulisan berseri Malu (107) di wall facebooknya, Esais kawakan Asdar Muis RMS secara tidak langsung menunjukkan penggunaan kata membonceng sebagai berikut:

Malu (107): Masih terbilang sangat pagi, aku mulai menggenjot sepeda motor butut dari pemukiman transmigran asal Bali ke Rahanggada, Tanggetada, Kabupaten Kolaka, menuju Anaiwoi.

Jalanan berkerikil, tanpa aspal. Berdebu. Pun aku tak peduli walau sesekali harus berhenti sejenak membetulkan kendaraan yang mesinnya tiba-tiba mati.

Lebih satu jam, perjalanan yang jaraknya hanya belasan kilometer dan dipenuhi rimbunan pepohonan pinus itu, aku tempuh dengan tubuh gigil. Jemariku kaku dan tetap keram setelah berlama-lama memegang setir.

Kala tiba di tepi pantai tujuan, kubuka laptop. Aku langsung mengetik. Namun .. saat modem kupasang, tak ada jaringan. Bingung. Ke mana harus mencari jaringan internet? Aku memutari kelurahan yang tak jauh dari bandara. Dan akhirnya menemukan sebuah warung internet. Pun aku mulai menjelajahi dunia maya dengan fasilitas payah.

Setelah hampir satu jam, aku kembali ke jalanan – mencari ikan-ikan segar di dekat pantai untuk dibawa pulang ke rumah keluarga yang menampung kami: aku, istri, dan anakku. Dan betapa bahagianya aku melihat begitu banyak ikan segar dengan harga terbilang murah.

Aku kemudian memborong ikan. Puluhan ekor baronang dari ukuran sedang hingga super, dan ikan jenis lainnya, kemudian dipangku oleh anakku yang membonceng di belakangku.

Di perjalanan pulang, masih sempat mandi dan buang hajat di kali yang tinggi air mengalirnya sekitar 15 centimeter. Tentang gaya mandi dan urusan terkait, bisa dibayangkan susahnya.

Ketika perjalanan sisa, aku membayangkan rencana mengolah ikan. Di rumah, aku disambut keluarga dan si pemilik rumah. Pun sekantong besar ikan kuserahkan. Si pemilik rumah menggeleng bingung.

Mengapa? “Maaf, kami tak punya kulkas karena di sini tak ada listrik …”. Aku sungguh bego, apalagi kala kulihat di meja makan: tersaji bebek goreng dan kari yang sangat kusuka. (Kolaka, 22 Agustus 2012)

sumber foto: beritagar.id
sumber foto: beritagar.id

Perhatikan kalimat: kemudian dipangku oleh anakku yang membonceng di belakangku. Kata membonceng yang dimaksud disini adalah turut serta atau ikut serta.

Pemakaian kata membonceng sebagaimana contoh diatas sudah tepat. Hal ini sesuai dengan pengertian membonceng sebagaimana disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka, Cetakan pertama Edisi III Tahun 2001.

Pada halaman 162 KBBI (2001), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Membonceng adalah:

1. Ikut naik (kendaraan beroda dua). Contoh: ia naik sepeda motor dan adiknya membonceng di belakang.

2. Ikut naik tanpa membayar. Contoh: Masih banyak orang yang membonceng bus kota.

3. Ikut serta (makan, bertamasya, membaca koran, dan sebagainya) dengan tidak turut membayar atau mengeluarkan biaya.

4. Ikut-ikutan (menepuk dada, menganggap diri berjasa, mendapat nama, kedudukan, dan sebagainya). Contoh: ada pejabat yang membonceng hasil perjuangan Angkatan ’66.

5. memanfaatkan kekuasaan pengaruh kewibawaan, dan sebagainya) orang lain untuk mencapai tujuannya.

Dengan demikian yang dimaksud dengan memboncengkan adalah mengikutsertakan naik (kendaraan) sebagaimana sudah tepat dicontohkan dalam KBBI (2001), tiap hari ia memboncengkan adiknya ke sekolah, sedang yang dimaksudkan dengan Pembonceng adalah:

1. Orang yang membonceng;

2. Pihak yang ikut ambil bagian dalam suati pergolakan (gerakan, peristiwa, dan sebagainya) yang diprakarsai dan dilaksanakan oleh pihak lain yang dianggap menguntungkan pihaknya;

3. orang atau golongan yang memanfaatkan kekuasaan (pengaruh, wibawa, popularitas, dan sebagainya) orang lain untuk mencapai tujuannya.

Jadi, Pemboncengan dapat berarti proses, cara, atau perbuatan membonceng.

sumber foto: bbc.com
sumber foto: bbc.com

Dalam penulisan, kita seringkali mengerutkan dahi ketika membaca surat kabar terkait penggunaan kata membonceng yang tidak tepat, terkhusus karena kata ini banyak dipakai para pekerja media dalam ulasan politik dan pemilu.  Tidak jelas siapa membonceng siapa, seperti tidak jelasnya Foke yang membonceng PKS atau PKS yang membonceng kepada Foke dalam Pilgub DKI Putaran kedua.

Di Sulawesi Selatan (Sulsel), nama Jusuf Kalla (JK) seringkali dicatut oleh bakal calon Gubernur Sulsel atau oleh tim suksesnya sehingga tak jelas lagi siapa yang membonceng. Bakal Calon Gubernur itu ataukah JK. Semoga kesalahan pengucapan dan penulisan kata “membonceng” ini tidak terulang lagi, khususnya bagi kita yang menghargai khazanah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Semoga bermanfaat adanya. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...