Beranda Akademia Awalan "me" pada Konsonan yang berdiri sendiri

Awalan “me” pada Konsonan yang berdiri sendiri

Mengkritik atau mengeritik?
Mengkritik atau mengeritik?

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan konsonan ialah:

konsonan/kon·so·nan/ n Ling 1 bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis; 2 bunyi bahasa yang dapat berada pada tepi suku kata dan tidak sebagai inti suku kata; 3 fonem yang mewakili suatu bunyi kontoid;

ambisilabis Ling konsonan yang menjadi transisi dari dua suku kata;
silabis Ling konsonan yang mendukung puncak kenyaringan dalam suku kata

Banyak sekali kata yang huruf awalnya berupa konsonan yang berdiri sendiri, terasa janggal jika ditambahkan awal “me”, misalnya “kritik”, “protes”, dan lain-lain. Juga ada kata yang hanya satu suku kata, seperti “cap”, “bom”, “lap”, dan lain-lain.

Coba kita lihat kata “kritik” ketika mendapatkan awalan “me” dalam KBBI:

kritik/kri·tik/ n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya;

ekstern tahap penelitian berdasarkan liputan fisik berupa deskripsi bentuk, jenis aksara, bahan, lingkungan, dan lokasi keberadaan prasasti;

film kupasan dalam media massa mengenai film yang dipertunjukkan di sebuah bioskop, ditinjau dari segi kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya yang dilandasi alasan yang logis;

intern tahap kerja yang dilakukan berdasarkan hasil liputan data lapangan, yaitu transliterasi dan transkripsi ke dalam bahasa sasaran melalui analisis perbandingan dengan berbagai terbitan yang ada, baik dari sumber tertulis maupun analogi epigraf;

membangun kritik yang bersifat memperbaiki;

naskah metode dalam filologi yang menyelidiki naskah dari masa lampau dengan tujuan menyusun kembali naskah yang dianggap asli dengan cara membanding-bandingkan naskah yang termasuk dalam satu jenis asal-usul, lalu menentukan naskah yang paling tinggi kadar keasliannya, kemudian mengembalikannya pada bentuk yang asli atau yang mendekati aslinya;

sastra pertimbangan baik buruk terhadap hasil karya sastra;

teks kritik naskah; mengkritik/meng·kri·tik/ v mengemukakan kritik; mengecam;

pengkritik /peng·kri·tik/ n orang yang mengkritik; orang yang mengemukakan kritik.

Disini kata “kritik” ketika mendapatkan awalan “me” menjadi “mengkritik”.

Coba kita lihat kata “protes” ketika mendapatkan awalan “me” dalam KBBI:

protes /pro·tes/ /protés/ n pernyataan tidak menyetujui, menentang, menyangkal, dan sebagainya: sebagian orang melancarkan kecaman pedas dan –keras;

memprotes/mem·pro·tes/ v menyatakan tidak setuju, menyangkal, dan sebagainya; menentang: mereka melancarkan aksi mogok makan untuk ~ penahanan tanpa peradilan;

pemrotes/pem·ro·tes/ n orang yang memprotes.

Disini kata “protes” ketika mendapatkan awalan “me” menjadi “memprotes”.

Agak terasa janggal dan aneh kedengarannya.  Pemerhati Bahasa Indonesia, Asdar Muis RMS (almarhum) pernah menulis edisi Sharing di laman facebook, terkait pemakaian kata konsonan yang berdiri sendiri ketika mendapatkan awalan “me”.  Ada yang berubah menjadi:  “meng….” dan ada yang berubah menjadi “mem….”

Senada dengan Asdar Muis RMS (almarhum), menurut penulis, kata tersebut terasa janggal.  Karena itu,  ini sekadar saran yang apik digunakan pada beberapa kata ketika ditambahkan awalan “me”.

Kata-kata tersebut saat ditambahkan “me” terasa janggal, umpamanya: “kritik” menjadi “mekritik” atau “mengkritik” dan “mengritik”.

Begitupula pada “protes” berubah “memprotes” dan “memrotes”.  Huruf awal luluh berubah “m”, jadinya me+m … .  Juga pada kata “bom” yang berubah menjadi “membom”,  kata “cap” yang berubah menjadi  “mencap”,  dan  kata “lap” yang berubah menjadi “melap”.

Beberapa pemakai kata, khususnya dalam penulisan berita dalam dunia jurnalistik, mulai menggunakan “me+nge” dan “me+me”  dengan meluluhkan huruf awal.

Misalnya, “kritik” yang berubah menjadi “mengeritik”,  kata “protes” berubah menjadi memerotes, serta kata “bom” berubah menjadi “mengebom”,  kata “lap” berubah menjadi “mengelap”, kata “cap” berubah menjadi mengecap,  kata “cat”  berubah menjadi “mengecat,  kata “bor” berubah menjadi “mengebor”,  kata “tes” berubah menjadi “mengetes”.

Layakkah?  Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para ahli bahasa, khususnya sebagai masukan kepada para ahli penyusun KBBI.  (*)

 

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...