Rocky Gerung tentang Fiksi

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Feb 2, 2019 | 212 views
Rocky Gerung (foto: tribunjabar)

Rocky Gerung (foto: tribunjabar)

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – ROCKY Gerung (RG) semakin melambung namanya seiring semakin seringnya tampil di Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One tiap selasa malam.  Apa saja yang keluar dari mulut seorang RG,  selalu dinantikan, khususnya komentarnya terkait peristiwa sosial politik yang terjadi.

Beberapa pendapat RG menjadi viral karena dianggap meluruskan akal sehat publik dan anti mainstream, diluar kebiasaan pendapat umum. Salah satu pendapatnya yang viral dan bahkan berbuntut pada adanya laporan polisi terhadap dirinya adalah pernyataannya bahwa ‘Kitab Suci itu Fiksi’.

Siapa Rocky Gerung? Apa dan Bagaimana Fiksi itu Sebenarnya? Benarkah pendapat Rocky Gerung bahwa “fiksi” adalah kata yang baik, dalam artian berfungsi mengaktifkan imajinasi, sedangkan “fiktif” adalah kata yang buruk, karena bermakna sebagai sesuatu kebohongan atau mengada-ngada?

Apa benar? kedua kata ini “Fiktif” dan “fiksi” sebenarnya adalah istilah yang berbeda dalam makna dan tujuan.  Meski kedua  istilah ini bertalian karena mempunyai akar kata yang sama, namun kelahiran keduanya berbeda waktu cukup jauh. Istilah “Fiktif” sebenarnya diserap dari Bahasa Belanda, yaitu “fictief” yang bermakna “karangan” (verzonnen) atau “rekaan” (bedacht).

Pada Abad ke 20, lahirlah istilah Bahasa Inggris, yaitu “fiction” yang istilah ini dipakai khusus untuk “literatur yang bersifat rekaan”. Dari kata Inggris ini, “fiction” kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia menjadi  “Fiksi”.

Dalam Bahasa Inggris, kemudian lahir tiga kata sifat (adjective), yaitu “fictional”, “fictive”, dan “fictitious” yang memiliki nuansa makna tersendiri, sedangkan pada Bahasa Belanda tetap cuma ada satu kata sifat yaitu “fictief”.

Lihat juga: Rocky Gerung penuhi Panggilan Polisi terkait ‘Kitab Suci Fiksi’

Sebetulnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak menyatakan perbedaan kedua istilah ini, fiksi dan fiktif secara tegas.  Dua kata ini masih berkonotasi cukup netral.  Kalau sampai “fiktif” berubah menjadi kata peyoratif (melecehkan), maka hal ini dipandang sebagai  pengaruh dari media massa di dalam mengaplikasikan kata “fiktif”.

Menurut RG, bahwa kita  seringkali kehilangan keseriusan untuk membahas sesuatu karena dibelenggu oleh semacam tuntunan palsu bahwa kata itu terikat pada kamus.

www.socialzon.me

Awal Polemik “Kitab Suci Fiksi” di ILC TVone (foto: socialzon.me)

“Tentang kata ‘fiksi’, saya ingin kata itu dikembangkan supaya kita dapat energi positif. Kebetulan pada waktu saya menyebutkan kata itu, fiksi itu kata yang dihina sebetulnya diucapkan oleh politisi. Hanya karena Prabowo membawa itu dalam percakapan politik, yaitu novel yang sedang dibaca itu. Yang memang statusnya bahwa itu fiksi dalam kesusastraan, namun kemudian dihubungkan dengan kecemasan terhadap masa depan. Padahal sebenarnya di dunia ada dua energy yang menghidupkan dunia, satu Energi fiksi, dan dua Energi humor,” ungkap RG dalam suatu acara TV yang dipandu Jaya Suprana.

Lebih lanjut Akademisi dan Pakar Filsafat ini menguraikan bahwa  Energi bumi itu, kan energi yang diatur hukum fisika, dan itu standar, tapi ada hukum lain yang membuat kita hidup. Bayangkan kalau tanpa fiksi dan humor, kita akan seperti statusnya seperti batu, meja, mati, tanpa imajinasi.

“Tentang upaya memberikan pemahaman yang benar tentang Fiksi, saya kemudian berusaha untuk meradikalisasi, sampai di ujung-ujungnya, dengan mengambil contoh Kitab suci,  dalam arti positif.  Fiksi itu, juncto humor menghidupkan dunia, menghasilkan imajinasi, sehingga kita mendapatkan energi positif,” urai RG.

“Kitab suci itu mengandung energi fiksional, didalamnya ada imajinasi tentang sesuatu yang belum terjadi, namun kita yakini itu dan mendapatkan energi positif dari situ sehingga kita termotivasi untuk melakukan perbuatan yang baik,” jelas RG. (*)

RG Penuhi Panggilan Polisi terkait ‘Kitab Suci Fiksi’

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response