BerandaCerita RakyatCerita Rakyat: Sitti Naharira (11)

Cerita Rakyat: Sitti Naharira (11)

Oleh: H. Djamaluddin Hatibu

Tulisan sebelumnya: Cerita Rakyat: Sitti Naharira (10)

PALONTARAQ.ID – Setelah tiba di rumah tukang kebun, Sitti Naharira tetap dirundung duka. Selang beberapa hari barulah dia berpikir untuk menata hidupnya kembali.

“Takdir mengatakan bahwa kita harus menjalani hidup bersama. Nakhoda Husen sudah menyerahkan saya kepadamu namun nanti sah kalau kita sudah melakukan akad nikah. Tunggulah sampai masa iddah saya selesai baru kita ke penghulu.” ujar Sitti Naharira.

Demikianlah hari-hari duka dilalui Sitti Naharira menunggu masa iddahnya berakhir.  Tak pernah sekalipun terlewat dalam  setiap salatnya doa keselamatan dunia akhirat, dikuatkan menjalani setiap takdirnya.

Setelah masa iddah berakhir maka mereka pun menikah di penghulu.

Sitti Naharira harus belajar menerima keadaan suaminya yang hanya tukang kebun. Dia tidak tinggal diam di rumah tapi ikut membantu suaminya mencari hasil kebun yang bisa menjadi uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Melihat ada hasil kebun yang bisa menghasilkan produk kerajinan tangan, mulailah muncul kembali bakat keterampilan Sitti Naharira.

Dikumpulkannya daun lontar lalu dianyam menjadi tutup bosara, tudung saji, bakul, tikar dan aneka barang kebutuhan rumah tangga yang memiliki nilai seni tinggi. Suaminya takjub melihat hasil karya istrinya yang begitu indah.

Hingga pada suatu kesempatan di hari pasar Sitti Naharira mempersilakan suaminya membawa hasil kerajinan tangan itu ke pasar untuk dijual.

“Jangan Kanda menjual tapi persilakan orang membeli” pesan Sitti Naharira pada suaminya.

Mendengar pesan itu suaminya malah terlihat bingung. Sitti Naharira segera tersadar lalu menjelaskan maksud pesan itu.

“Maksud ucapanku tadi jangan Kanda yang menentukan harganya tetapi pembeli yang diminta menentukan harganya” kata Sitti Naharira sedikit tersipu.

Berangkatlah suami Sitti Naharira membawa aneka hasil kerajinan tangan istrinya. Saat itu  pasar sudah ramai. Tukang kebun itu pun menggelar tikar lalu menata dagangannya.

Tak lama kemudian mampirlah dua orang dara manis. Dilihat dari penampilan dan gerak-geriknya kalau bukan anak raja pasti anak hartawan. Kedua dara itu memilih barang kesukaan masing-masing lalu menanyakan harganya.

“Sebenarnya saya tidak menjual tapi Andalah yang membeli” jawab tukang kebun.

Kedua dara itu tertawa mendengar jawaban tukang kebun.

“Apa maksudnya? Bukankah setiap penjual menetapkan harga pada barang dagangannya” kata salah seorang dara.

Melihat sang dara yang keheranan, tukang kebun hanya tersenyum.

Kedua dara itu terus memilih dan tak henti-hentinya memuji keindahan hasil karya tersebut. Mereka saling berbisik bahwa kalau dilihat dari keindahan bentuknya  pasti bukan buatan si tukang kebun. Mendengar itu tukang kebun hanya tersenyum.

Kedua dara itu tak mau menyia-nyiakan kesempatan dapat barang yang indah begitu langsung memborong semua hasil kerajinan Sitti Naharira.

Betapa girang hati tukang kebun karena baru kali ini mendapatkan uang sebanyak itu. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur lalu dibelinya semua pesanan Sitti Naharira. Setelah itu bergegaslah dia pulang ke rumahnya.

Begitu sampai di rumah langsung dia ceritakan kepada istrinya perihal yang baru dialaminya. Sitti Naharira pun berucap syukur akan rezeki yang Allah berikan kepada mereka.

“Istirahatlah dulu, minumlah kue dan makanlah teh yang sudah saya siapkan ini” kata Sitti Naharira disertai senyum bahagia.

Sitti Naharira ingat pesan orang tuanya bahwa berhemat dan cermatlah selagi kau mendapatkan rezeki. Maka ditabunglah setiap ada kelebihan rezeki yang diperoleh.

Hingga pada akhirnya mereka mampu membangun rumah yang persis sama dengan rumah yang pernah dibangun oleh Nakhoda Hasan dan Nakhoda Husen. Soal isi dan penataannya jauh lebih indah karena memang Sitti Naharira dianugerahi keterampilan.

 

Bersambung  ……

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT