Beranda Sosial Budaya Narasi Budaya Narasi Ebi Keturunan Melayu di Pangkep

Narasi Ebi Keturunan Melayu di Pangkep

Berbuka Puasa. (foto: ist/palontaraq)
Bagi keturunan melayu, pantang baginya makan olahan udang kecil yang disebut Ronto. (foto: ettaadil/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya:  Ince’: Identitas Keturunan Melayu di Pangkep

PALONTARAQ.ID – Makan malam penulis menjadi kurang nyaman karena diatas meja tersaji irisan mangga muda dicampur dengan udang kecil (ebi) sebagai teman makan ikan laut masakan khas Bugis Makassar yang disebut “pallu ce’la”.

Udang kecil itu dalam kosa kata Makassar sering pula disebut pula Ambaring dan olahannya disebut Ronto’. Selera makanku sedikit berkurang seraya mengatakan kepada istri, “Ini bisa tidak diganti. Irisan mangga mudanya tidak perlu pakai campuran ronto”, ujarku. “Karena nenek lagi ya?”, jawabnya seraya mengumbar senyum.

Perbincangan soal lauk diatas meja makan ini sebenarnya adalah bermula dari cerita yang dipesankan oleh nenek saya usai pesta pernikahan kami dua belas tahun lalu. Katanya, “Jangan kamu sajikan makan ambaring suamimu, Nak!”

Mendengar larangan itu, penulis hanya bisa berujar, “Ini bukan soal pesan nenek. Tetapi karena Ambaring atau Ronto’ itu memang saya tidak suka”, jawabku. Cerita tentang Ebi (makassar : Ambaring) atau Ronto’ ini memang sudah menjadi narasi tutur tersendiri bagi mereka yang punya darah keturunan orang Melayu.

Narasi Ebi ini mengacu kepada tradisi lisan yang diterima Orang Pangkep keturunan melayu bahwa mereka bisa sampai di perairan Pangkep (Kerajaan Siang) karena kapal yang membawanya terselamatkan oleh sekumpulan udang kecil.

Dikisahkan oleh leluhur mereka bahwa saat akan berlabuh di Perairan Siang, kapal melayu itu bocor dan jutaan udang kecil itulah yang kemudian menempel atau menutupi lubang kapal yang bocor tersebut.

Kini, keturunan melayu itu secara turun temurun banyak mendiami Kampung Lempangan dan Bontomangape Kelurahan Tumampua, KampungTekolabbua di Kelurahan Tekolabbua, Kampung Paccelang, Boddong-boddong, dan Parang-parang di Kelurahan Anrong Appaka ketiga kelurahan itu berada dalam lingkup Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep.

Kampung Lempangan boleh dikatakan Kampung Melayu karena sembilan puluh persen penduduknya adalah asli keturunan melayu. Orang Melayu yang saya maksudkan disini berasal dari kawasan Semenanjung Malaka, Sumatera Barat, Riau, Malaysia saat ini hingga Patani, Thailand selatan.

Dalam sejarah lokal diketahui bahwa gelombang kedatangan orang Melayu ini semakin gencar kedatangannya ke semenanjung barat jazirah Sulawesi Selatan paska jatuhnya Kerajaan Malaka di tangan Portugis, Tahun 1511. (lihat. Makkulau, 2005 dan 2007).

Narasi Ebi ini berimbas sampai juga ke saya. Dari pihak ibu, saya mewarisi darah keturunan melayu, sekalipun dalam struktur sosial masyarakat Bugis Makassar, pihak ayahlah yang “mappabate” (menjadi penentu). “Ambo Emmi Mappabate”, artinya hanya pihak ayahlah yang mewariskan darah.

Ayah penulis berdarah bugis, dari kalangan bangsawan menengah yang asal usulnya dari Kerajaan Bone. Itulah sebabnya suatu hari ayah penulis dimasa hidupnya pernah mengatakan, “Kamu tidak kena. Kamu bisa makan ambaring atau Ronto’ kalau kamu suka. Kamu tetap berdarah bangsawan bugis, bukan melayu”.

Atas dasar penjelasan itu, penulis mengungkapkan kepada istri, “Saya tidak makan ronto’ bukan karena berdarah melayu dari pihak ibu, tetapi karena memang tidak suka”.

Yang paling penting bagi penulis adalah, “jangan makan ambaring atau ronto’ di depan orang Pangkep keturunan Melayu, karena bisa saja hal tersebut mengakibatkan ketersinggungan atau anggapan bahwa mereka tidak dihargai sekalipun mereka tidak mengungkapkannya”.

Di Pangkep sendiri, sangat mudah mengenali mereka yang berdarah keturunan Melayu dari pihak ayahnya yaitu dari namanya. Selain umumnya nama mereka mengambil Nama-nama Islam sesuai agamanya, juga mereka menambahkan gelar “Ince” di depan namanya. Orang-orang tua mereka familiar dipanggil dengan sebutan Unda atau Dato’.

Gelar Ince merupakan penyesuaian lidah orang Makassar terhadap kata “Enci”, Bahasa Melayu yang berarti paman. Untuk kata “Unda” kemungkinan penyesuaian dialek Makassar untuk kata “Uda”, yang dalam Bahasa Melayu berarti Kakak, sedang Dato’ adalah penyebutan gelar ulama Melayu atau bisa juga berarti seseorang yang sangat dihormati.

Demikianlah, dari penolakan terhadap makanan Ebi (makassar: ambaring atau ronto’) kita bisa mengetahui sedikit tentang Sejarah atau sosial budaya masyarakat setempat. Semoga bermanfaat adanya. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...