BerandaTelaah PuisiKasih Ibu dalam Puisi Nurdin Abu

Kasih Ibu dalam Puisi Nurdin Abu

sumber foto: slideshare.net
sumber foto: slideshare.net

Oleh: Etta Adil

—Catatan dari “Tadarrus Sastra” di Pangkep—

IBU

Telah bertahun-tahun kau pahatkan
Di kening wajah matahari
Lelah hidupmu meleleh kepada tujuh mutiara hatimu
Menuntut kami memecah belenggu kemiskinan

Zikir dan doa lirih membahana ke langit arasy
Juga air mata tumpah diam-diam disela tahajud pengaduan
Lalu tenggelam bersama tangan kurusmu
Menggetarkan separuh isi jiwa bumi ini
Meski matamu kelam, cahaya semangat

Tak pernah redup di sana
Ketulusan cintamu mampu meredam
Semua kelok getiran hidup tanpa suami disisimu
Masih kudengar suaramu samar dipagi dini hari
Bercampur dingin dan selimut menuntun shalat dan sekolah

Mata dan telingaku masih terasa basah
Oleh percikan air untuk segera gegas menyibak pagi
Sementara aku masih setia pada warna mimpi
Dan bermain petak umpet bersama teman sebaya
Masa itu bertahun lama berlalu

Kini cahaya dari lipatan kerut di wajahmu
Kau kisahkan diantara cucu dan cicitmu
Separoh hidupmu tumpah ruah membesarkan putra putri yang masih kecil-kecil
Sepertiga malam kau habiskan bekal esok hari
Sepertiga malam kau hambakan pengaduan di depan sang khalik

Sepertiga siang kau habiskan menjual sop ubi
Sepertiga sore kau habiskan di lumpur kebun warisan sang suami
Lalu kapan nenek istirahat tanya cucu suatu hari?
Matamu menerawang jauh
Dengan lirih terucap kata Nenek istirahat pada saat bekerja

Di depan Ka’bah Al Mukarrama jelas tergambar wajah syukurmu
Saat putra putrimu berebut kursi roda
Menuntun bertawaf mengelilingi pusaran pusat bumi
Di tiang langit matahari lantunan zikir dan syukur menggema sepanjang safa dan marwa

Rabbigfirli wali walidayya warhamhuma kama rabbayani sagira.

Mekkah, 5 Februari 2012
—————-

Puisi diatas terpublish di facebook pada wall group “Komunitas Sastra Pangkep”, ditulis oleh seorang penyair dan perupa Pangkep, Nurdin Abu.

Keseharian pak Haji Nurdin Abu, begitu saya menyapanya, adalah sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bungoro Pangkep.

Adalah sastrawan, esais dan seniman Asdar Muis RMS yang mula-mula berinisiatif untuk membedah puisi IBU karya Nurdin Abu tersebut. Jadilah kami melakukan kegiatan —sebut saja namanya “Tadarrus Sastra”—pada Rabu malam (1/8) Pukul 23.00 sampai Jelang sahur, Kamis (2/8) Pukul 03.15 di kediaman Nurdin Abu di Labakkang Pangkep, salah satu agendanya adalah membedah “IBU”, puisi karya Nurdin Abu tersebut.

Pertemuan pertama Tadarrus Sastra di rumah penyair Nurdin Abu di Labakkang Pangkep, Rabu (1/8). (foto : ist/badauni ap). Hadir pada malam “Tadarrus Sastra” tersebut selain tuan rumah H. Nurdin Abu, Asdar Muis RMS, Yusri Yusuf (seniman dari Maros), Abdul Kadir (seniman dan perupa dari Barru), Ahmad Anshari (seniman dan perupa dari Pangkep), Silmi Jafar (Praktisi Pendidikan), Alfian Muis (mantan Anggota DPRD Pangkep), kru redaksi Majalah Sastra Lentera Pangkep dan saya sendiri, seorang penikmat sastra.

* * *

Menulis puisi, boleh jadi gampang boleh jadi pula susah. Puisi bisa menjadi mudah karena tidak ada dan tidak perlu ada pembatasan tentang bagaimana itu puisi. Sedang susahnya sangat tergantung dari bagaimana proses kreatif itu terjadi.

Puisi bisa lahir secara spontan karena adanya desakan emosional yang mendorongnya, namun dapat pula memakan waktu yang sangat lama karena aspek logika bahasa dan kekangan rasa yang menyelimutinya.

Puisi merupakan kristalisasi dari tulisan yang panjang, yang mewakili pikiran dan rasa terhadap sesuatu, dan itu adalah salah satu bentuk ekspresi jiwa dari penulisnya. Hal tersebut diungkapkan H. Nurdin Abu menanggapi penanya usai membacakan puisinya.

Sementara Asdar Muis RMS menanggapi bahwa suatu puisi tidak perlu penjelasan dari penulisnya tentang makna dari puisi yang dilahirkannya.

“Puisi tidak perlu penjelasan. Ketika suatu puisi sudah terpublish, di media apapun itu, maka puisi tersebut sudah milik publik dan biarkanlah pembaca atau pendengarnya sendiri yang memaknainya”, ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan Silmi Djafar. Guru Bahasa Indonesia di salah satu SMA Negeri Pangkajene ini mengungkapkan bahwa ketika suatu puisi sudah terpublish, maka sudah tidak ada alasan lagi untuk mengatakan puisi tersebut belum jadi atau masih perlu disempurnakan.

Ketika sudah terpublish, puisi tersebut sudah jadi dan sempurna. Mengenai makna dan rasa yang terkandung didalamnya, itu bukan lagi milik penulis atau penyairnya, tapi sudah menjadi milik publik” tambahnya.

Mendengar puisi IBU, saya lebih banyak diam. Pikiran saya menerawang ke ibu saya dan membungkam rasa saya. Disaat orang lain telah mampu membahagiakan dan menghajikan ibunya, saya masih sering terjerat dalam ego tinggi, teringat kenakalan yang selama ini saya perbuat, masih sering mendebatkan apa yang pantas dan tidak pantas buat ibu.

Duh, pun kuteringat dosa di masa lalu. Bukankah seharusnya, bagi seorang anak, apapun yang terbaik seharusnya kita persembahkan buat seorang Ibu.

Ketika dimintai komentar, saya hanya sanggup berkata, “Terima kasih telah mengingatkan. Puisi ini apresiasi tinggi terhadap seorang Ibu”.

Ya iyalah, bukankah memang seorang anak harus mengapresiasi dan membalas segala kasih ibu, sekalipun seorang ibu takkan pernah memintanya.

Puisi “IBU” karya Nurdin Abu adalah ibu personal, ibu yang ia saksikan serta rasakan kasih sayang dan kisah hidupnya.

Nurdin Abu dengan sendirinya telah mampu meski tanpa disadarinya memosisikan diri  sebagai seorang penyair, menghanyutkan dirinya dalam telaga kehidupan.

Dengan bekal kejujuran nurani seorang penyair, ia akan mampu menghayati dan memberi kesaksian atas hidup, khususnya hidup jiwanya yang personal dan komunal.

Kalimat /Lelah hidupmu meleleh kepada tujuh mutiara hatimu/ dan /Sepertiga siang kau habiskan menjual sop ubi/ tentu sangat personal bagi Nurdin Abu namun disisi lain bisa pula menghadirkan refleksi komunal bagi orang lain.

Itulah obyektifitas bisa hadir apa adanya dalam puisi, sedang kalimat lainnya menari ekspresif, mimetik dan kadang pragmatik.

Nyanyian kalbu Nurdin Abu dalam puisinya tersebut menurut saya berhasil mengolah rasa untuk pembaca dan pendengarnya untuk kembali ke pangkuan ibu, merasakan setiap belaian kasihnya, dan tak sekalipun meragukan cintanya seberat apapun perjuangannya, termasuk /memecah belenggu kemiskinan/ yang menjeratnya.

Perjuangan hidup Ibu sebagaimana diungkapkan Nurdin Abu itu, dilukiskannya secara apik pada rentetan kalimat /Sepertiga malam kau habiskan bekal esok hari/Sepertiga malam kau hambakan pengaduan di depan sang khalik/Sepertiga siang kau habiskan menjual sop ubi/Sepertiga sore kau habiskan di lumpur kebun warisan sang suami/.

Jika menyimak dengan baik empat bait puisi ini, Nurdin Abu berhasil mewariskan pesan, bahwa dalam hidup harus ada do’a dan tawakkal sebelum dan sesudah bekerja.

Itulah yang dilakukan dan secara tidak langsung mendidik anak cucunya lewat itu, do’a, bekerja setelah itu bertawakkal, dan kita kemudian tahu bahwa salah satu pencapaian kebahagiaan itu adalah ketika berada /Di depan ka’bbah Al Mukarrama/Jelas tergambar wajah syukurmu/Saat putra putrimu berebut kursi roda/Menuntun bertawaf mengelilingi pusaran pusat bumi. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT