BerandaNarasi SejarahSejarah Barus (Batak) - Bagian 1

Sejarah Barus (Batak) – Bagian 1

Oleh: HG Sutan Adil

PALONTARAQ.ID – Ini tentang Kerajaan Batak Tua. Berdasarkan informasi data yang dapat dikumpulkan, baik yang berasal dari cerita rakyat, sejarahwan, kepustakaan dan riset; konon sekitar abad pertama Masehi telah berdiri Kerajaan Batak (Pa’ta) berkedudukan di Batahan (sekitar kota Natal sekarang).

Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh pantai barat Sumatera, dahulu disebut pulau Andalas (Baca: Adda las) sampai ke bagian barat pulau Jawa yang dihuni oleh suku Badui. Sebutan/istilah Badui berasal dari bahasa Austronesia purba yang masih banyak dipergunakan oleh orang Batak sekarang, terdiri dari dua suku kata, Ba-niadui (nun jauh disana).

Pada masa itu, diperkirakan bangsa Batak menganut suatu kepercayaan yang disebut Agama Malim (Dharma), yaitu kepercayaan kepada tuhan yang satu, yang sama dengan kepercayaan di wilayah Kedatuan Srivijaya di daerah Kampar saat itu.

Malim ini diperkirakan adalah Malim Leman atau salah satu malim penasehat Bundo Dewi yang selamat saat terjadi gempa dahsyat di Kedatuan Srivijaya yang mengakibatkan amblasnya Biaro Muotakui (Candi Muara Takus). Selanjutnya sebagai pemimpin selanjutnya disebut Raja Malim, dibantu oleh para pembantunya yang disebut Panurirang, dan selanjutnya para pengikutnya disebut Parmalim.

Berkaitan dengan pemerintahan, Raja Malim bertindak sebagai penasehat dan disebut Paniroi/Sitiroi. (ahli ilmu bumi dari Iskandariah, bernama Claudius Ptolomeus, menyebutnya Satyroy). Kepala pemerintahan yang disebut Sirajai Jolma bertindak sebagai Pemangku adat/Penegak hukum (Executip).

Saat itu Kerajaan Batak Lama ini sudah menjadikan Barus sebagai wilayah pelabuhan yang sangat ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa dan kerajaan lain, seperti ; Kerajaan Cola (India), Kerajaan Ming (Cina).

Saat itu banyak terdapat pedagang dari india/Tamil yang berdagang dan menjadi perantara, sehingga mereka membentuk semacam persekutuan dagang yang disebut “Ayyavole-500” yang artinya “Yang Ke Lima Ratus Dari Seribu Arah”. Hal ini disebutkan dalam sebuah Prasasti Tamil yang ditemukan di daerah Lobu Tua (Barus) yang menyebutkan bahwa mereka membayar semacam jasa pengamanan dari dari Kerajaan Cola.

Diperkirakan Raja Malim inilah yang melanjutkan ajaran dari ajaran dharma sebelumnya untuk membina umat diwilayahnya dan juga semacam cabang perguruan tinggi di Muara Takus tang disebut disini sebagai ajaran Parmalim (Paramalim) di Gunungtua, dimana masih terdapat sisa-sisa peninggalannya hingga sekarang, antara lain:

Candi Portibi
Biaro Bahal I,II,III
Sitopaon (Sitopayan)
Candi Bara
Candi Pulo
Candi Sipamutung
Candi Tabdidat (Sijoreng Belangah)
Candi Tandihat II
Candi Tandihat III
Candi Sisangkilon
Candi Manggis

Sebelumya Barus juga sudah dikenal di banyak bangsa. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2 Masehi juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang di kenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan, dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir’aun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.

Juga dikenal saat adanya Ekspedisi dari bangsa Mesir ke Tanah Punt yang terkenal dengan sebutan “Hatsepsut’s Expedistion:” pada sekitar abad ke 15 SM dan tergambar di relief yang sangat rinci didinding kuil kamar mayatnya di Deir El-Bahari, Mesir.

Barus di sebut sebagai kota tertua di Nusantara, karena mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya.

Raja2 dari Kedatuan Srivijaya yang muncul kemudian dan berkuasa di pantai timur pulau Sumatra, tidak pernah mengganggu keberadaan Kerajaan Batak di bagian barat; hal ini dikarenakan dianggap mereka masih ada hubungan kekeluargan satu sama lainnya.

Pada tahun 1025, Raja Rajendra Cola Dewa dari negeri Cola menyerbu negeri Batak, hal ini kabarnya disebabkan ketersinggungan Raja Cola Dewa I atas hubungan dagang antara Kerajaan Batak Tua dengan Kerajaan Cina (Ming) pada waktu itu, dan juga mereka menyerang Kedatuan Srivijaya untuk mengambil alih kekuasaan sebagai pusat ajaran dharma dan memindahkannya hanya ada di Nalanda saja.

Pada tahun 1029 Kerajaan Batak Tua dapat Kerjaan Cola kembali menyerang Barus dan Kerjaan Batak Tua dihapuskan dan secara de facto mereka menguasai Barus bersama kelompok Ayyavole-500, tetapi rajanya tidak dibunuh.

Kerajaan Barus

Selanjutnya setelah jatuhnya Kerajaan Batak Tua (Batahan) sekitar tahun 1030, berbareng dengan munculnya kerajaan-kerajaan baru, pecahan dari Kerajaan Batak Tua, Raja Malim (Pimpinan Ajaran Malim) dari Gunungtua, menobatkan menantunya menjadi raja, Sirajai Jolma (Kepala Pemerintahan) berkedudukan di Barus. Untuk menunjukkan bahwa dialah yang mula-mula/pertama menjadi raja di Kerajaan Batak Barus, maka dinamakanlah Raja Mula.

Barus di sebut sebagai kota tertua di Nusantara, karena mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya.

Selanjut Kerajaan Barus berjalan normal seperti biasanya sebuah kerajaan. Raja Mula digantikan oleh anaknya, yaitu Raja Donia, kemudian Raja Donia digantikan oleh anaknya Raja Sorimangaraja Batak I (Sorimangaraja = Sri Maharaja). Raja Sorimangaraja Batak I digantikan oleh anaknya yang kedua bernama Nasiak Dibanuadan Nasiak Dibanua digantikan oleh anaknya, bergelar Sorimangaraja Batak II.

Tradisi awal para Raja Batak Barus selalu mengambil isteri dari keluarga Raja Malim; kebiasaan ini bertujuan demi menjaga keserasian pemerintahan (Konstelasi politik); Raja Sorimangaraja Batak II memperistrikan putri Raja Malim juga, yang melahirkan lima orang putra baginya;

Siraja Bahar
Sinambeuk
Si Pakpak
Jonggolnitano
Raja Mangisori yang juga disebut Nagaisori.

Dari 5 orang putra Raja Sorimangaraja Batak II, hanya Sinambeuk yang mengambil isteri dari keluarga Raja Malim, yaitu saudara perempuan dari Raja Malim Mutiaraja. Dari perkawinannya itu, Sinambeuk memperoleh seorang putra yang dinamakan Si Raja Batak; dia inilah yang kelak dikemudian hari mendirikan perkampungan Sianjur Mulamula di tanah Toba.

Pada masa pemerintahan Raja Sorimangaraja Batak II, terjadi pertikaian dan keributan dalam penguasaan pelabuhan Barus, Orang Melayu dan Pedagang Gujarat dengan Kerajaan Batak Barus, keributan ini memakan banyak korban.

Melihat situasi yang tidak menguntungkan itu, Raja Sorimangaraja Batak II telah memperhitungkan, bahwa keadaan sudah tidak menguntungkan lagi bagi Kerajaan Barus, maka dengan cepat dialihkan kekuasaan pemerintahannya kepada Raja Malim Mutiaraja keponakannya (Paraman), dengan perjanjian setelah situasi sudah kondusif, kerajaan itu harus dikembalikan kepada ahli waris.

Mereka mengikat perjanjian itu dengan suatu ikhar tanda barang pusaka, yang mereka namakan “Tabutabu sitara pullang, ia sian i dalanna ro, ingkon tusi do dalanna sumuang,” (Dari mana datangnya, harus kesitu juga kembalinya).

Sejak peristiwa pengalihan kekuasaan itu, Raja Mutiaraja memegang dua tampuk kepemimpinan, yaitu: selaku pimpinan agama disebut Raja Malim dan selaku Kepala pemerintahan (Sirajai Jolma), disebut Raja Uti.

Pada awalnya, gelaran Kepala pemerintahan itu disebut Raja Unte (baca: Utte), hal ini berkaitan dengan kebiasaan Raja Mutiaraja selaku pimpinan agama (Raja Malim) yang selalu mempergunakan Jeruk purut (Unte pangir) didalam upacara-upacara keagamaan. Disebut juga Mutiaraja itu dengan sebutan Raja Mangalambung yang arti harfiahnya, menyamping/dari samping, karena dia bukan dari ahli waris.

Seirama dengan penggelaran itu, muncullah kebiasaan sesajenan yang membedakan pimpinan agama dengan Kepala pemerintahan; Jika seseorang ingin berhubungan dengan pimpinan agama Raja Malim, maka sesajenannya adalah kambing warna putih (Hambing sibontar), tetapi jika ingin berhubungan dengan Kepala pemerintahan Raja Uti, maka sesajenannya adalah kambing warna hitam (Hambing silintom).

Perkiraan Sorimangaraja Batak II tentang kekacauan itu menunjukkan kebenarannya; dan bersama anaknya Sinambeuk, mati terbunuh dalam keributan itu. Pada zaman itu sudah menjadi kebiasaan, bahwa semua keturunan raja yang kalah, harus dibunuh agar tidak muncul kerajaan baru yang akan balas dendam; maka demi keselamatan, setelah Raja Sorimangaraja Batak II terbunuh, para keluarga raja melarikan diri. Konon kabarnya, setelah beberapa generasi kemudian, terbetiklah berita, bahwa:

Keturunan Si Raja Bahar bermukim di Desa Garo (Garo = Pisang) Karo.

Keturunan Si Raja Batak, anak dari Sinambeuk, bermukim di Toba.

Keturunan Si Raja Pakpak, bermukim di Dairi (Dai Ri).

Keturunan Jonggol ni Tano yang memperanakkan Raja Pandudu dan Raja Mante (Mantela) bermukim di Aceh Pidie.

Keturunan Nagaisori (Raja Mangisori), bermukim di Daerah Singkil & Tapak Tuan.

Selanjutnya, perkembangan Agama Islam di Barus sangat pesat. Orang Batak yang pertama masuk agama Islam di Barus adalah seorang guru pencak silat, bernama Guru Marnangkok; dan banyaklah orang Batak masuk memeluk agama Islam di Barus. Setelah penaklukan Kerajaan Barus, penguasa negeri itu dan para saudagar Islam negeri baru berbasis Islam yang mereka namakan Negeri Fansur, orang Batak meyebutnya Pansur.(baca: Paccur).

(bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT