Laporan: Ummu ‘Adil
PALONTARAQ.ID – Sebanyak 60 Peserta Study Comperative (Stukom) Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep, terdiri dari 25 Santriwati kelas XI, 28 santriwati kelas VIII, 2 dari orang tua santriwati, serta 5 pendamping dari pihak yayasan, dilepas secara resmi oleh Ketua Yayasan Dana Islamic Center (YASDIC) IMMIM Pangkep, Dra Hj Sri Hajati Fachrul Islam di Aula Mini pesantren yang berlokasi di Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep tersebut, Sabtu (2/3/2019).
Kegiatan Stukom ini merupakan agenda rutin setiap tahun santriwati Pesantren Modern Putri IMMIM yang dimasukkan ke dalam Program Umum OSIS/ISPM. Untuk Stukom 2019 ini, dilaksanakan selama sepekan, dari tanggal 3-9 Maret 2019 dengan kunjungan ke Surabaya – Malang – Solo – Yogyakarta.
Lihat juga: Mengapa harus mondok di Pesantren?


Rombongan Stukom Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep ini dipimpin langsung oleh Direktur Pendidikan, Dr. Hj. Amrah Kasim, MA dengan target kunjungan sekolah adalah Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah, di Malang dan Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) “Assalam” di Solo, Surakarta.
“Kepada anak-anakku yang akan melakukan Studi Comparative agar tetap menjaga adab, sopan santun, dan akhlak sebagai santriwati. Silakan mengambil pelajaran dari setiap perjalanan yang dilakukan, baik di lokasi wisata maupun di sekolah atau pesantren yang dikunjungi,” ujar Dra Hj Sri Hajati Fachrul Islam, Ketua YASDIC IMMIM Pangkep saat melepas Rombongan Stukom Santri Putri IMMIM ini.

Berikut ini Profil Pesantren yang dikunjungi Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, yaitu:
Ponpes Al-Ishlahiyah, Kota Malang
Ponpes Al-Ishlahiyah, Malang didirikan pada tahun 1955 oleh Almarhum KH. Mahfudz Kholil bersama istri dia Hj. Hasbiyah Hamid (putri Almarhum KH. Abdul Hamid Hasbullah (adik kandung pendiri NU, KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tambakberas Jombang ).
KH. Mahfudz adalah adik ipar KH. Masykur, Menteri agama RI era Presiden Soekarno. KH. Masykur juga telah menjadi sahabat KH. Abdul Wahab Hasbullah sebelum lahirnya jam’iyah Nahdlatul ‘Ulama.



Lihat juga: Kelebihan dan Keutamaan menjadi Santri
Cikal bakal pondok pesantren putri Al-Ishlahiyah adalah rumah almaghfurlah KH.Kholil Asy’ari yang beristrikan Nyai Halimah (putri alm. Mbah Tohir Bungkuk) yang menjadi tempat mengaji para remaja putri di sekitar Bungkuk, Singosari, Malang, di bawah bimbingan Nyai Halimah yang wafat mendahului suaminya.
Setelah seratus hari wafatnya Nyai Halimah tahun 1953, salah satu putra KH.Kholil Asy’ari (H. Mahfudz) dinikahkan dengan putri Jombang keponakan mbah Wahab bernama Hasbiyah yang pada saat itu berusia 16 tahun.
Belakangan, Ibu Hasbiyah meneruskan peran Nyai Halimah mengajar ngaji remaja putri dan kerabat-kerabat di sekitar Bungkuk. Setelah menikah dan berputra dua, keluarga H. Mahfudz berpindah rumah di seberang rumah orang tuanya, tepatnya di Jalan Kramat, Singosari. Sebagian santri pun ikut pindah bersama keluarga H. Mahfudz-Hasbiyah.




Pada perkembangan berikutnya, seiring dengan didirikannya PGANU (Pendidikan Guru Agama Nahdatul Ulama’) di lingkungan perguruan Nahdatul Ulama’ Singosari (kini dikenal sebagai Yayasan Pendidikan Almaarif) oleh KH. Masykur, banyak murid PGANU dari luar Singosari yang mengaji ke Ibu Hasbiyah sekaligus tinggal menetap di keluarga H. Mahfudz.
Lihat juga: Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama
Bersamaan dengan gairah pergerakan Nahdatul Ulama’ saat itu, maka H. Mahfudz mengorganisir para santri yang mengaji di rumah dia dengan membentuk komisariat IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama’) yang diberi nama Al-Ishlah (yang berarti maju/damai). Sejak saat itulah kediaman keluarga H. Mahfudz mulai dikenal dengan sebutan pesantren putri Al-Ishlah, dengan santri yang menetap sekitar 50 orang.
Belakangan, nama Al-Ishlah diubah menjadi Al-Ishlahiyah. Dari waktu ke waktu jumlah santri bertambah. KH.Mahfudz terus berpikir bagaimana sistem belajar mengajar di Pesantren Putri Al-Ishlahiyah bisa terus maju.
Sehingga pada Tahun 1983 mulailah dirintis model pengajian klasikal dalam bentuk Madrasah Diniyah. Dan pada tahun yang sama KH. Mahfudz mengupayakan penguatan lembaga pesantren dengan mencatatkannya kepada notaris.


Maka sejak saat itu Yayasan Pesantren Al-Ishlahiyah tertuang dalam akta notaris no.171/YPP/YYf/III/1983, E.H. Wijaya, SH. Dua tahun kemudian KH.Mahfudz Kholil berpulang ke rahmatullah saat menunaikan ibadah haji tahun 1985, dengan meninggalkan beberapa rencana pengembangan unit-unit kegiatan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah.
Sepeninggal KH.Mahfudz, Ibu Nyai Hasbiyah Hamid bersama putra-putrinya bertekad untuk melanjutkan cita-cita almarhum. Dan kini, Yayasan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah telah berkembang dengan berbagai unit kegiatan sebagaimana yang di cita-citakan pendiri.
Unit-unit kegiatan yang sekarang diselenggarakan di Yayasan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah adalah :
1. Pondok Pesantren Putri Al-Ishlahiyah (sejak tahun 1955)
2. Pondok Pesantren Putra Al-Ishlah (sejak tahun 1986)
3. Madrasah Diniyah Putri Al-Ishlahiyah (sejak tahun 1987)
4. Madrasah Diniyah Putra Al-Ishlah (sejak tahun 2005)

5. PUAN Amal Hayati (Woman Crisis Centre) Al-Ishlahiyah (sejak tahun 2002)
6. SMK Terpadu Al-Ishlahiyah (sejak tahun 2005)
7. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Al-Ishlah (sejak tahun 2006)
8. Play Group Al-Ishlah (sejak tahun 2007)
9. Sekolah Kesetaraan “Nawa Kartika” (sejak tahun 2007)
Disamping unit-unit kegiatan tersebut, secara berkala Yayasan Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari juga menyelenggarakan program pendidikan ketrampilan praktis bagi santri dan masyarakat sekitar, disamping juga menyelenggarakan bakti sosial kepada masyarakat.



Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Sukoharjo



Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam adalah sebuah pondok pesantren Islam yang berlokasi di Desa Pabelan kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. PPMI Assalaam merupakan lembaga pendidikan swasta Islam yang berada di bawah naungan Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta (YMPIS), didirikan oleh H. Abdullah Marzuki dan Hj. Siti Aminah Abdullah.
PPMI Assalaam berdiri pada tanggal 17 Syawal 1402 H bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1982 M, berlokasi di Jalan Yosodipuro No. 56 Punggawan Surakarta menempati tanah seluas 2.845 m, wakaf dari keluarga H. Abdullah Marzuki dan Hj. Siti Aminah Abdullah, pemilik percetakan PT. Tiga Serangkai Solo.



Sebelum PPMI Assalaam berdiri kegiatan pendidikan yang dilakukan adalah kegiatan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), kemudian atas tuntutan masyarakat YMPI mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan sistem asrama yang merupakan cikal bakal berdirinya Pondok Modern yang waktu itu diberi nama Pondok Pesantren Punggawan, meminjam nama desa dimana kegiatan pendidikan dipusatkan.
Pada tanggal 20 Juli 1985 nama Assalaam secara resmi digunakan, serta sekaligus menandai awal mula digunakannya kampus baru di desa Pabelan Kartasura Sukoharjo di atas areal tanah wakaf seluas 5,6 Ha dari keluarga H. Abdullah Marzuki (alm) dan Hj. Siti Aminah Abdullah. Bangunan yang terdapat pada saat itu terdiri dari ruang kelas, gedung olah raga (GOR), asrama santri, perumahan guru dan pengasuh, dapur, dan lain-lainnya.



Lihat juga: Khutbah Jumat: Tiga Wasiat Al-Qur’an ketika Kaum Muslimin lemah
Bersamaan dengan itu pula didirikan Madrasah Aliyah (MA) sebagai kelanjutan dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Assalaam, serta sebagai jawaban dari tuntutan masyarakat terhadap PPMI Assalaam. Pada tahun 1986/1987 didirikan Madrasah Takhasush sebuah kelas persiapan untuk calon santri yang akan melanjutkan ke MA Assalaam yang berasal dari SLTP umum di luar Assalaam.



Selanjutnya pada tahun 1988/1989 didirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Assalaam dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengikuti perkembangan pendidikan yang terjadi di luar Assalaam.
Memasuki tahun pelajaran 2005/2006, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) didirikan dengan mengambil program keahlian Komputer serta Jaringan dan Persiapan Grafika, sebagai upaya mencetak tenaga profesional berwawasan Nilai-nilai Keislaman.
Pada perkembangan selanjutnya, Yayasan MPI Surakarta memperluas areal pondok dengan membeli tanah di Desa Gonilan Kartasura seluas 38.600 m dan lokasi ini sekarang telah dikembangkan bangunan kelas 3 lantai untuk belajar, Lapangan Olah Raga serta perumahan guru dan pengasuh.



Dengan demikian sekarang ini PPMI Assalaam menempati areal seluas 10 hektare lebih dengan berbagai fasilitas pendukung yang lengkap dan modern. Saat ini PPMI Assalaam telah mencetak ribuan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai negara di dunia. Para alumni Assalaam ini terwadahi dalam IKMAS (Ikatan Keluarga Ma’had Assalaam Surakarta) dan Alumni Assalaam Community.
Lihat juga: Adab-adab Penuntut Ilmu dan Kalam Para Ulama
Bahasa Arab dan bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan, kecuali mata pelajaran tertentu yang harus disampaikan dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Arab dimaksudkan agar santri memiliki dasar kuat untuk belajar agama mengingat dasar-dasar hukum Islam ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Inggris merupakan alat untuk mempelajari pengetahuan umum.
Pengasuhan santri adalah bidang yang menangani kegiatan ekstrakurikuler dan kulikuler. Setiap siswa wajib untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Keterampilan, kesenian, dan olahraga tidak masuk kedalam kurikulum tetapi menjadi aktivitas ekstrakurikuler.
Siswa diajarkan untuk bersosialisasi dengan membentuk masyarakat sendiri di dalam pondok menggunakan organisasi yang ada. Mulai dari ketua asrama, ketua kelas, ketua kelompok, organisasi intra/ekstra, ketua regu pramuka, hingga ketua konsulat. Jam belajar di PPMI Assalaam dimulai pada jam 04.30 saat salat shubuh dan berakhir pada pukul 22:00. Pendidikan formal dimulai dari pukul 07:00 – 12:40. Pengasuhan/kesantrian dimulai pukul 22.00 WIB. (*)
(* Dra Nurhudayah, Pengasuh pada Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. Penulis dapat dihubungi via email: immimpangkep@gmail.com


