Tentang Kata “serasa” yang jadi tak “terasa”

by Penulis Palontaraq | Senin, Sep 16, 2019 | 49 views
"Hukuman yang tak terasa". (foto: ist/*)

“Hukuman yang tak terasa”. (foto: ist/*)

Oleh: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: ‘Psikosastra’, Belajar Psikologi dari Karya Sastra

PALONTARAQ.ID – Banyak yang keliru dalam mengungkapkan rasa, baik dalam bahasa lisan, terlebih dalam bahasa tulis. Adakah rasa memang sulit diungkapkan? Ataukah hanya karena “rasa” seringkali terperangkap dalam pemaknaan logika?

Kata “rasa” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memang tidak terserap secara utuh. Hal ini pernah pula diungkapkan oleh seniman kawakan asal Sulsel, almarhum Asdar Muis RMS. Menurutnya kara “rasa” memiliki pemaknaan “logika” yang tidak terserap secara utuh dalam KBBI.

Dalam KBBI, “Rasa” artinya 1) “tanggapan indra terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa”, 2) “apa yang dialami oleh badan”, 3) “sifat rasa suatu benda”, 4) “tanggapan hati terhadap sesuatu (indra)”, 5) “pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar”.

Penjelasan lanjutan, “merasa” yaitu 1) “mengalami rangsangan yang mengenai (menyentuh) indra (seperti yang dialami lidah, kulit, atau badan)”, 2) “mengalami rasa di hati (batin)”.

Juga ada kata “terasa” yakni “dapat dirasa(i); sudah dirasa(i); berasa dengan tiba-tiba”, serta “serasa” ialah “sama rasanya dengan; seakan-akan; seolah-olah”.

Kata ini, “merasa” itu juga dapat bermakna “mengakui sesuatu yang tidak sama atau lain”, misalnya “saya merasa perempuan …” (artinya saya bukan perempuan) atau “saya merasa kaya” (saya tidak kaya) yang hanya berbentuk “pembanding” atas “sesuatu yang dirasakan”.

Mari kita lihat kata lainnya untuk kata yang memiliki kata dasar “rasa”, yaitu kata “Serasa” yang bisa berada pada pemaknaan lain, adalah “sirih”. Di jalur “rasa”, kata ini (serasa) hampir sama artinya dari era KUBI hingga KBBI terakhir.

Hanya saja, “serasa” (se-rasa) dapat berarti “satu rasa”. Jika “satu rasa”, bagaimana mungkin bisa sama jika makna sebenarnya “seakan-akan” dan “seolah-olah”, walau telah ditegaskan “sama rasanya dengan”.

Apalagi jika “serasa” itu ditenggerkan pada kalimat yang justru berarti “terasa” yang dapat dirasakan secara tiba-tiba seperti pada tembang “Sabda Alam” yang dinyanyikan Chrisye: “Serasa pagi tersenyum mesra …”. Mestinya “serasa” di tembang ini adalah “terasa”.

Begitu pula pada banyak tulisan di koran yang gagal membedakan kata “serasa” dengan “terasa”. Misalnya dituliskan “serasa berada di kampung halaman …” yang sangat jelas “beda rasa” tetapi hanya “terasa”.

Jadi, bijaklah menempatkan kata dalam ungkapan, “serasa dihukum” atau “hukuman tak terasa”, dan tentu yang lebih penting lagi adalah bagaimana bisa “merasa”, tak sekadar mengungkapkan “rasa” yang “terasa”. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response