Kelebihan dan Keutamaan Menjadi Santri

by Etta Adil | Selasa, Des 25, 2018 | 59 views
Santriwati lebih dari sekadar siswi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Santriwati lebih dari sekadar siswi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BAGI orangtua mungkin akan bingung memikirkan tempat pendidikan yang cocok untuk anaknya. Banyak lembaga pendidikan yang bagus, berprestasi, dan unggulan, namun masih saja ragu. Kenakalan remaja semakin mewujud dalam berbagai bentuknya dan tak jarang justru lahir dari sekolah yang mendapatkan label sebagai “sekolah unggulan” atau “sekolah favorit”.

Kini saatnya membuang keraguan itu. Pesantren bisa menjadi solusi terbaik. Menjadi santri adalah salah satu jalan mempelajari dengan baik ajaran dan perintah agama.

Tidak sepatutnya bagi orang orang mu’min itu pergi semuanya ke medan perang, mengapa tidak pergi dari tiap tiap golongan diantara mereka untuk memperdalam agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu menjaga dirinya”. (QS At Taubah : 122).

Menjadi seorang santri ialah memiliki hari hari yang penuh untuk belajar agama dan mendekat kepada Allah, hal tersebut akan membuatnya memiliki derajat yang lebih tinggi sehingga dalam kesehariannya ia selalu mendapat petunjuk karena selalu bersemangat mencari ilmu dan hidayahNYA.  “Barang siapa menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya dia melapangkan dadanya untuk memperdalam islam”. (QS Al An’am : 125).

Berikut ini keutamaan dan kelebihan menjadi santri (menuntut ilmu) di Pondok pesantren, yaitu diantaranya:

Pertama, Disiplin dalam Menuntut Ilmu

Barang siapa yang keluar dalam rangka menuntut ilmu maka ia dalam jalanNya Allah SWT hingga ia kembali”. (HR Muslim). Jelas dari hadist tersebut bahwa seorang yang berkeinginan dan telah menjadi santri ia selalu bepergian atau berada di suatu tempat dalam rangka untuk beribadah kepadaNya dan urusan yang dilakukannya tersebut menjadi jalan untuknya untuk senantiasa mendekat pada Allah sehingga baginya adalah jalan yang lurus.

Jika di rumah seorang anak hanya mendapat kasih sayang orangtua saja maka di pesantren para santri akan mendapat kasih sayang dan didikan dari para guru dan kiai, pembina dan pengasuh. Betapa tidak, sejak subuh para santri sudah dibangunkan untuk beraktivitas. Mulai bersih-bersih, shalat subuh berjamaah, berdoa, dan berolahraga.

Jika seorang santri melanggar aturan, akan diganjar oleh kiai dengan takzir (hukuman). Ganjaran itu akan membentuk mental dan karakter lebih baik. Terkadang disuruh membaca 1 juz Alquran dengan berdiri, disuruh menyapu halaman seluruh pondok, menguras kamar mandi, shalat di shaf  awal selama sebulan penuh, dan lain-lain.  Setiap ganjaran dari pelanggaran aturan pesantren juga mendapatkan pahala karena masih dalam kerangka pembinaan dan pembentukan akhlakul karimah, adab dan ilmu. Para santri senantiasa menutup kesalahan dan pelanggaran yang dibuatnya dengan segala kegiatan yang berpahala seperti menuntut ilmu sehingga ia mendapat ampunan dari dosa dosanya. “Dan sesungguhnya penghuni langit dan di bumi, sampai ikan ikan di lautpun memohonkan ampun untuk orang orang yang berilmu”. (HR Tirmidzi).

Seorang santri akan  dibiasakan menjalankan rutinitas sehari hari sesuai jadwal, ia akan fokus beribadah dengan sendirinya sebab telah terbiasa disiplin yakni terbiasa fokus shalat 5 waktu tepat waktu, fokus berpuasa, shalat malam, juga membaca Al Qur’an. Hal ini akan menjadi kebiasaan baik yang selalu terterap dalam dirinya hingga ia dewasa.

Kiai dan Para santrinya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kiai dan Para santrinya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kedua, Sahabat Sepanjang Masa

Orang yang pernah menempuh pendidikan di pesantren pasti ia akan punya banyak sahabat. Berbeda dengan yang hanya menempuh pendidikan di dunia formal, mereka hanya saling kenal sebatas wilayahnya saja dan sekadar teman bukan sahabat erat. Bagaimana tidak, para santri akan berinteraksi satu sama lain selama 24 jam full. Mereka akan makan bersama, mencuci bersama, berolahraga bersama, belajar bersama, sampai tidur pun bersama. Alhasil, suka dan duka mereka alami bersama.

Di samping itu, para santri berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka memiliki budaya, bahasa, serta bentuk fisik yang heterogen sehingga rasa ingin berkenalan dan bersahabat erat akan semakin terjalin. Maka tak heran, ketika mereka sudah keluar pesantren tetap mereka bersahabat dan silaturrahim tetap terjalin dengan baik.

Ilmu lebih baik dari harta sebab ilmu selalu menjagau sedangkan engkau yang selalu menjaga harta”. (Ali bin Abi Tholib). Dari hadist tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ilmu memang lebih baik dari harta, memiliki ilmu yang banyak akan selalu berada dalam jiwa dan terus berkembang pahalanya jika diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan, tetapi memiliki harta hanya akan habis dan menguap jika dalam penggunaannya tidak sesuai jalan Allah serta harta tidak akan dibawa mati.

Tidak ada suatu amal perbuatan yang lebih utama daripada menuntut ilmu kalau ia niatnya benar”. (Miftah Daaris Saa’dah). Banyak amal perbuatan yang bernilai mulia di sisi Allah, salah satu amalan yang paling utama ialah beribadah dengan cara belajar dan mempelajari agama Allah sebanyak banyaknya seperti yang dilakukan para santri, mereka melakukan amalan yang utama yang diperintahkan oleh Allah. “Barang siapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya dengan hal itu Allah mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR Abu Dawud).

Ketiga, Berpotensi Jadi Multitalenta

Alumnus pesantren tak harus semuanya menjadi ahli agama. Artinya, para santri mampu menjadi apa saja dan berkiprah di mana saja. Hal ini tak lain karena di dalam pesantren mereka digembleng banyak disiplin keilmuan, baik teori maupun praktik. Bagi yang menyukai ilmu eksakta, maka akan bertemu dengan komunitasnya, Begitu juga mereka yang menyukai dunia seni, musik, sastra, beladiri, dan sebagainya.  Tak perlu ditanya tentang kemampuan mereka membaca Alquran, memahami kitab kuning, berdialog bahasa Arab, dan berpidato, itu sudah menjadi lauk-pauk sehari-hari.

Menjadi seorang santri dan mampu memahami ilmu agama islam merupakan salah satu anugrah yang wajib disyukuri sebab mendapatkan kebaikan, hidayah dan petunjuk Allah SWT.  “Barang siapa dikehendaki Allah dengan kebaikan dunia dan akherat maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama”. (HR Bukhari). Alumnus Pesantren akan berpotensi menekuni apa saja dan menjadi tokoh di masyarakat karena kedisiplinan yang telah tertanam selama menjadi santri.  Setiap hari terbiasa berpuasa,  shalat berjamaah, shalat malam, tadarrus Al Qur’an, dan kegiatan lainnya.

Para santri bersama pembina dan pengasuhnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para santri bersama pembina dan pengasuhnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Keempat, Insan Berakhlak Mulia

Hidup di pesantren bersama banyak orang dari berbagai latar belakang membuat kesadaran bagaimana cara bergaul dan bersosialisasi yang benar,  saling menghargai, saling membantu, saling mengingatkan dalam kebaikan, juga saling menjaga satu sama lain agar senantiasa berada dalam jalan Allah yang lurus. Karena itu, para santri terbiasa mengedepankan akhlak mulia dan adab yang baik dalam bergaul. Pernah mendengar pesantren terlibat aksi tawuran atau terjerat kriminal? Pasti tidak. Jika iya, hal itu sangat jarang bahkan langka dari jumlah pesantren dan santri yang ratusan ribu.

Ya, di pesantren para santri ditekankan adab, akhlak atau sopan santun. Baik untuk dirinya sendiri, maupun kepada orang lain terlebih kepada yang usianya lebih tua. Bahkan, di pesantren mereka juga dikenalkan dengan ilmu tasawuf yakni adab atau tata krama seorang hamba kepada Tuhannya dalam beribadah dan kehidupan sehari-hari. “Kebutuhan manusia terhadap ilmu itu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum sebab ilmu dibutuhkan sepanjang tarikan nafasnya”. (Imam Ahmad bin Hambal).

Para santri dalam kehidupan kesehariannya selalu belajar. Ilmu memang dibutuhkan untuk memperbagus akhlak dan adab. Di pondok pesantren seorang santri akan terbiasa makan bersama dengan teman teman dengan makanan yang sederhana namun tetap diperhatikan kesehatannya, hal demikian akan mencegah dari sifat boros yang dapat menghancurkan diri sendiri serta membuat kesadaran untuk belajar sederhana walaupun mungkin memliki kemampuan lebih untuk membeli banyak makanan.

Kelima, Mewarisi Ilmu Nabi

Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian banyak”. (HR Ibnu Majah). Menjadi seorang santri yang selalu belajar sepanjang hidupnya bagaikan mewarisi ilmu Nabi karena dengan menjadi santri  belajar mengenai semua hal tentang agama dalam lingkup yang luas.

Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah adalah taqwa kepadaNya, mengkajinya adalah tasbih, mencarinya adalah ibadah, menelitinya adalah jihad dan mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah”. (Mu’adz Jabal). Menjadi seorang santri yang hanya berniat untuk mengharap ridho Allah di sepanjang hidupnya ia akan dilihat sebagai orang yang bertaqwa karena telah mengabdikan dirinya untuk belajar dan memahami tentang islam.

Ini adalah satu hal yang menjadi pembeda antara pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, yaitu adanya sanad atau mata rantai guru dan murid sebagai satu kesatuan genealogi keilmuan.  Seorang santri akan menerima ijazah sanad tersebut setelah mereka berhasil mengkhatamkan kitab yang dikaji. Semisal mempelajari Kitab Shahih Bukhari, mereka akan menerima keterangan bahwa sang guru belajar dari gurunya dari guru selanjutnya hingga sampai sang pengarang kitab bahkan Rasulullah SAW.

Niscaya Allah akan meninggikan orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS Al Mujadilah: 11).  Seorang santri yang rajin menuntut ilmu agama karena Allah mendapat derajat yang lebih tinggi di mata Allah jika ilmu tersebut dicari dan dipergunakan dengan niat semata karena Allah SWT.

Ada 7 golongan yang mendapat naungan Allah di hari akhir… remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid…”. (HR Muslim). seorang santri identik dengan remaja yang senantiasa taat dengan Allah dan orang orang yang senantiasa dekat dengan masji dimana kegiatan di pondok pesantren hampir semuanya berhubungan dengan masjid sehingga mereka akan mendapat ketenangan di hari akhir nanti.

Demikian tulisan ini mengenai kelebihan dan keutamaan  menjadi santri, semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bis-shawab. (*)

(*Etta Adil adalah nama pena dari Muhammad Farid Wajdi,  Pengasuh pada Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM, Minasatene, Pangkep. Penulis dapat dihubungi via email: palontaraq@gmail.com

 

Like it? Share it!

Leave A Response