Oleh: La Oddang Tosessungriu
PALONTARAQ.ID – Salah seorang murid To Ciung To Tongeng MaccaE ri Luwu yang taraf kecendekiaannya hampir menyamai gurunya tersebut adalah La Pagala NEnE Mallomo, negarawan Kerajaan Sidenreng yang hidup dalam paruh pertama abad XVI.
NEnE Mallomo yang adalah ahli hukum tata negara dan pakar strategi perang yang amat disegani pada zamannya, sedemikian menghormati gurunya. Hingga pada banyak risalah yang menuliskan kebijaksanaan dan strateginya, kerap didapati kata pembuka yang menyebut dan menjunjung nama gurunya dengan pemuliaan sehormat-hormatnya.
Salah satu diantara kata pembuka tersebut, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :
“Napammanaria’ ada MaccaE ri Luwu, PatokkompulanaEngngi bicaraE ri Ware’, makkedaE : Eppa’i tau tenriala Arung Patuppu Batu ri Tana MarajaE enrengngE Tana Biccu’E. SEuwani, anana’E. Maduanna, makkunraiyyE. Matellunna, tau ujangengngE. Ma’eppa’na, tau bongngo’E”
Artinya: Telah dipusakakan padaku berupa perkataan MaccaE ri Luwu, yakni yang menegakkan keabadian hukum di Ware’, bahwasanya Ada empat macam orang yang tidak bisa dijadikan raja penguasa tahta pada kerajaan besar maupun kerajaan kecil. Pertama, anak-anak. Kedua, perempuan. Ketiga, orang gila. Keempat, orang dungu).
Selanjutnya NEnE Mallomo memohon penjelasan lebih lanjut, seraya berkata, “Tabirittaiyangnga’ lamungna, AnrEgurukku” (Artinya: Mohon petunjuk lebih lanjut perihal pendalaman maknanya, wahai Mahaguruku)
Menjawablah, To Tongeng MaccaE ri Luwu, “Oo.. La Pagala. Mauni anana’ nappau tomatoa, tomatoamui asengna” (Artinya: Wahai.. La Pagala. Meskipun anak-anak, jika ia berpikiran orang tua, orangtua jualah namanya).
Lebih lanjut diuraikannya lagi, “Mauni oraowanE massipa’ makkunrai, makkunrai mui asengna” (Artinya: Meskipun laki-laki jika bersifat/bertingkah seperti perempuan, perempuan jualah namanya)
“Na mau To Lino nappogau’ To Jangeng, to jangeng mui asengna” (Artinya: Meskipun orang waras jikalau tindakannya seperti orang gila, orang gila pulalah namanya)
“Namau tau macca nannawa-nawa sipale’, tau bongngo’ mui asengna” (Artinya: Meskipun ia orang pintar jikalah berpikiran se-telapak tangan (sempit), orang dungu jualah namanya).
Hingga kemudian memohonlah lagi NEnE Mallomo, “Paubbarengpa’ lise’na, AnrEgurukku..” (Artinya: Munculkanlah lagi isinya, wahai Mahaguruku…”
Berujarlah To Ciung selanjutnya, “Issengngi mujeppuitoi, La Pagala. Naiyya riasengngE gau’ anana’, temmisseng ade’ enrengngE tuppu, tettangnga ada, tettangnga gau’” (Ketahuilah serta pahamilah olehmu, La Pagala.
Lihat juga: Sabdo Pandito Ratu dan MakkEadani DatuE
Sesungguhnya yang dimaksud “Perilaku anak-anak”, yakni tidak tahu adat (aturan) serta pula keselarasan, tidak memikirkan maksud perkataan ataupun hikmah kejadian atas suatu perbuatan). Bahwa menurut pandangan To Ciung pada perihal ini, bahwa ada seorang raja yang tidak mengetahui azas aturan adat istiadat.
Aturan adat yang menurutnya benar adalah menurut persepsi egonya sendiri yang senantiasa menuntut ditinggikan lebih dari siapapun. Tak pernah terbersit dalam benaknya, bahwa pokok kemuliaan adat istiadatnya adalah pada kerendahan hati (tawadhu) dengan memanusiakan manusia lainnya, terlebih memahami keselarasan “tuppu’”.
Tuppu’ yang dimaksud disini ialah suatu aturan yang mengatur kedudukan ataupun hubungan bilateral antar sesama raja. Tatkala mengadakan suatu perhelatan adat, diundangnya sesama raja untuk didudukkan lebih rendah dari kedudukannya dengan alasan atas nama hak sebagai tuan rumah.
Perhelatan adat dipandangnya sebagai kesempatan unjuk ketinggian kedudukan pada tamu undangan sesama raja, bukannya suatu kesempatan untuk memuliakan sesama sebagai pertanda kemuliaan adat negerinya yang menghargai tamu.
Ia pula terlalu sulit mendengar pandangan orang lain, terlebih jika orang itu dipandangnya berkedudukan lebih rendah darinya. Ingatannya tertutup akan pemuliaan atas dirinya sebagai tamu agung pada perhelatan raja sepantarannya.
Lihat pula: Pangulu dan Tokoh “Kulu-kulu”
Maka demikianlah yang dimaksud “anana’” (Anak-anak) oleh Cendekiawan To Ciung. Selanjutnya dijelaskan lagi, “Naiyya riasengngE gau’ makkunrai, paggelli-gellingngE tenrisseng appongengna, namarakka mpaliri ada enrengngE gau’, naElori mEwai sipappau sipatangngareng makkunraiE”
Artinya: Adapun yang dimaksud perilaku perempuan, yakni mudah ngambek tanpa diketahui sebab musababnya, lalu sedemikian mudah mengingkari perkataan maupun perbuatannya, gemar mengobrol ataupun meminta pertimbangan pada perempuan.
Inilah perilaku melangkolis yang jika diperbuat oleh lelaki, tetap jua dipandang sebagai perempuan oleh To Ciung. Keputusan-keputusannya tergantung apa kata “mood” belaka. Gampang tersinggung hanya dengan informasi sepihak dengan tanpa konfirmasi.
Perilaku melangkolis itu, mendahulukan apa kata perasaan dari dalam dengan mengabaikan pertimbangan rasionalnya. Kemudian dengan karakternya yang “peka” seperti itu, kerap didapati jika orang seperti ini lebih nyambung jika berdiskusi dengan kaum perempuan.
“Naiyya riasengngE gau’ to jangeng, taniaE balinna adaE nabaliangngi, taniaE riEwa ada nadE’tona naissengngi, naiyya mettE’ natenriEwa manguru tangnga’”
(Adapun yang dimaksud prilaku orang gila, menjawab pertanyaan diluar topiknya, bukan ia yang diajak bercakap serta tidak diketahui temanya pula, namun ia yang menimpali padahal bukan ia yang diajak berdiskusi).
Lihat pula: Riwayat Raja Bone (3): Petta Karempalua
Inilah perilaku orang yang terlalu khawatir “tidak dianggap” oleh orang lain. Senantiasa merasa, jangan-jangan ia tidak diketahui betapa tingginya derajat silsilahnya ataupun betapa beraninya ia. Maka tatkala ia bergabung dalam suatu obrolan, segera ia menyergah dengan topik “..menurut saya, sebenarnya saya adalah…”.
Maka inilah yang dimaksud oleh Junjunganku Opu Topapoatakkeng Datu Luwu XL La Maradang Mackulau, berkarakter “tokek”. Setiap kali berbunyi, pasti menyebut namanya sendiri. Maksudnya, Apapun yang dikatakannya, pasti menyebut nama sendiri melulu, tiada lain. Karena terlalu khawatir tidak diakui dan tidak dihargai, sehingga mengagul-agulkan silsilah turunannya selalu pada setiap kesempatan.
Karakter takut menghargai ataupun memuliakan orang lain karena takut jangan sampai kehormatannya berkurang, ataupun jangan sampai orang itu lebih dihormati publik daripada dirinya, demikianlah karakter “tokek”.
Padahal sesungguhnya yang berperilaku sedemikian ini adalah orang-orang yang tidak percaya diri, sehingga menurut pandangan To Ciung adalah perilaku orang gila belaka.
Akhirnya To Ciung menguraikan pula karakter yang keempat, adalah, “Naiyya riasengngE gau’ to bongngo’, maja’E naseng madEcEng, madEcEngngE naseng maja’” (Artinya: Adapun yang dimaksud perilaku orang dungu, yakni hal buruk dianggapnya kebaikan, kebaikan dipandangnya buruk).
Betapa banyaknya kita yang berprilaku seperti ini, yakni tak bisa membedakan baik dan buruk. Bangga dengan keberanian memaki-maki orang yang dimuliakan, tak lain karena hendak disebut pemberani.
Padahal itu sesungguhnya itu kedunguan yang menampakkan betapa rendah taraf kewarasannya. Bangga dengan pengalamannya menikam ataupun membacok orang lain, padahal itu mempertunjukkan betapa rendah taraf kemanusiaannya.
Bangga dengan derajat darah kebangsawanan dengan merendahkan orang lain, padahal sesungguhnya ia mempertunjukkan betapa rendah taraf sifat kemuliaan sejati kebangsawanan dalam dirinya.
Merendahkan nilai-nilai adat istiadat jaman dulu (ade’ toriolo) sementara pada sisi lain ia ingin pula diakui sebagai “Arung” (Raja), bagian dari adat istiadat orisinil itu. Mencela aturan adat istiadat (baca: Pangaderreng) padahal bab aturan itu yang menetapkan ia bangsawan atau tidak.
Menuntut orang lain untuk menghormatinya, sementara ia sendiri tidak tahu atau bahkan enggan menghormati orang lain. Siang dikiranya malam dan malam dikiranya siang. Tembaga dikira emas dan emas dikiranya tembaga. Tennaisseng orai’ alau, pusa nawa-nawa, polo ati na polo polopEng. Naudzubillah Min Dzaliq.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)


