BerandaArtikelJejak Emas 23 Ramadhan: Kemenangan Militer, Kelahiran Ilmu, dan Puncak Spiritual

Jejak Emas 23 Ramadhan: Kemenangan Militer, Kelahiran Ilmu, dan Puncak Spiritual

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Ibnu Sina dan Metode Mengatasi Wabah

PALONTARAQ.ID – Tanggal 23 Ramadhan bukanlah sekadar deretan angka dalam kalender Hijriah. Dalam lembaran sejarah peradaban Islam, tanggal ini mencatatkan berbagai peristiwa besar yang mengubah peta geopolitik dunia, melahirkan tokoh jenius yang karyanya masih dipelajari hingga hari ini, serta menjadi titik fokus pencarian spiritual bagi jutaan Muslim di seluruh dunia.

Artikel ini akan mengupas tiga pilar utama yang terjadi pada 23 Ramadhan: Kemenangan militer umat Islam di Makkah (Fathu Makkah), runtuhnya berhala-berhala besar di tanah Arab, kelahiran ilmuwan besar Ibnu Sina, serta kedudukannya dalam malam-malam ganjil Lailatul Qadar.

1. Puncak Fathu Makkah: Runtuhnya Simbol Kemusyrikan

Meskipun pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah) secara umum tercatat dimulai pada tanggal 10 atau 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah, tanggal 23 Ramadhan menandai fase krusial dalam konsolidasi kemenangan tersebut.

Setelah Rasulullah SAW memasuki Makkah tanpa pertumpahan darah yang berarti, tugas berikutnya adalah membersihkan Ka’bah dari 360 berhala yang mengelilinginya. Pada tanggal-tanggal setelah penaklukan, termasuk tanggal 23 Ramadhan, dilakukan pembersihan total terhadap sisa-sisa paganisme di sekitar Hijaz.

Salah satu peristiwa spesifik yang sering dikaitkan dengan rentang waktu ini adalah pengiriman Khalid bin Walid oleh Rasulullah SAW untuk menghancurkan kuil Al-Uzza di Nakhla. Al-Uzza adalah salah satu dari tiga berhala terbesar bangsa Arab jahiliyah selain Al-Lat dan Al-Manat.

Penghancuran ini melambangkan Kedaulatan Tauhid, dalam artian berakhirnya era politeisme yang telah mengakar selama berabad-abad di Semenanjung Arab. Masyarakat Makkah melihat bahwa simbol-simbol yang selama ini mereka sembah tidak mampu membela diri mereka sendiri, memicu gelombang masuk Islam secara massal (fathun mubin).

2. Kelahiran Sang “Prince of Physicians”: Ibnu Sina (Avicenna)

Secara historis, tanggal 23 Ramadhan tahun 370 Hijriah (bertepatan dengan Agustus 980 Masehi) mencatat lahirnya salah satu otak paling cemerlang dalam sejarah manusia: Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina, atau yang lebih dikenal di Barat dengan nama Avicenna.

Ibnu Sina, dikenal di Barat dengan nama Avicenna. (foto: ist/palontaraq)
Ibnu Sina, dikenal di Barat dengan nama Avicenna. (foto: ist/palontaraq)

Lahir di Afshana, dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan), Ibnu Sina adalah perwujudan dari masa keemasan Islam (The Islamic Golden Age). Kontribusinya pada 23 Ramadhan bukan sekadar angka lahir, melainkan pengingat akan pentingnya integrasi antara wahyu dan akal.

Kontribusi Abadi Ibnu Sina, diantaranya adalah karya Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine). Buku ini menjadi standar kurikulum kedokteran di universitas-universitas Eropa (seperti Montpellier dan Leuven) hingga abad ke-17. Begitu pula Kitab al-Shifa (The Book of Healing), sebuah ensiklopedia filsafat dan sains yang mencakup logika, matematika, fisika, dan metafisika.

Ibnu Sina juga berhasil menyelaraskan filsafat Aristoteles dengan teologi Islam, membuktikan bahwa iman tidak bertentangan dengan logika rasional. Kehadiran sosok seperti Ibnu Sina yang lahir di bulan suci ini menegaskan bahwa Islam adalah peradaban yang sangat menghargai ilmu pengetahuan.

***

Dalam tradisi Islam, 23 Ramadhan adalah salah satu malam yang paling diantisipasi karena termasuk dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya malam ganjil. Banyak ulama dan sahabat Nabi mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar sering jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir.

Secara khusus, Imam Abdullah bin Unais Al-Anshari meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW memberikan isyarat kuat mengenai malam ke-23. Begitu pula dalam tradisi Syiah, malam ke-23 dianggap sebagai malam yang paling mungkin sebagai Lailatul Qadar (Laylat al-Qadr).

Malam ini dianggap memiliki nilai yang lebih baik dari seribu bulan (sekitar 83 tahun). Pada tanggal ini, atmosfer spiritual mencapai puncaknya di seluruh dunia Islam melalui I’tikaf atau Berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tilawah Al-Qur’an (Mengkhatamkan dan merenungi isi kitab suci), serta memohon ampunan dan keselamatan bagi umat.

Memahami peristiwa-peristiwa di atas memberikan kita perspektif yang kaya tentang bagaimana Islam membentuk karakter manusia dan masyarakat.  Fathu Makkah mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan diraih dengan membalas dendam, melainkan dengan pemaafan. Saat Rasulullah SAW memaafkan penduduk Makkah yang dulu menyiksanya, beliau menunjukkan bahwa tujuan utama Islam adalah islah (perbaikan), bukan penghancuran.

Kemudian kelahiran Ibnu Sina di bulan Ramadhan mengirimkan pesan kuat bahwa mencari ilmu (sains, kedokteran, astronomi) adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian kepada Tuhan. Islam tidak memisahkan antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”; keduanya adalah cara untuk memahami kebesaran sang Pencipta.

Malam ke-23 berada di fase akhir Ramadhan. Hikmahnya adalah ujian bagi umat Muslim untuk tidak kendur dalam beribadah. Banyak orang bersemangat di awal Ramadhan, namun hanya yang terpilih yang tetap teguh hingga malam-malam terakhir. Ini adalah pelajaran tentang ketahanan mental dan spiritual. Penghancuran Al-Uzza pada 23 Ramadhan secara simbolis mengingatkan kita untuk selalu membersihkan hati dari “berhala-berhala” modern—seperti keserakahan, egoisme, dan materialisme—yang seringkali menghalangi hubungan manusia dengan Tuhannya.

Jadi, boleh dibilang Peristiwa 23 Ramadhan adalah perpaduan harmonis antara Kemenangan (Fath), Ilmu (Ilm), dan Spirit (Ruh). Sejarah mencatat bahwa pada tanggal ini, Islam membuktikan dirinya sebagai agama yang mampu menaklukkan kota tanpa darah, melahirkan cendekiawan yang menerangi dunia, dan menyediakan ruang bagi jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian untuk bertemu dengan Tuhannya di malam Lailatul Qadar. (*)

Bahan Bacaan:

Al-Mubarakfuri, Safiur Rahman. (2002). Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar). Riyadh: Darussalam Publishers. (Tentang detail Fathu Makkah dan penghancuran berhala).

Ibnu Katsir. (2004). Al-Bidayah wan Nihayah (The Beginning and the End). Kairo: Dar al-Hadith. (Catatan kronologis peristiwa sejarah Islam).

Nasr, Seyyed Hossein. (1993). An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. New York: State University of New York Press. (Membahas biografi dan kontribusi Ibnu Sina).

Al-Ghazali, Imam. Ihya Ulumuddin (The Revival of the Religious Sciences). (Mengenai keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadhan).

Afnan, Soheil M. (1958). Avicenna: His Life and Works. London: George Allen & Unwin.

The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought. (2013). Edited by Gerhard Bowering et al. Princeton University Press.

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT