Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Detik-detik Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah
PALONTARAQ.ID – Tanggal 11 Ramadhan ini mungkin tidak sepopuler 17 Ramadhan (Perang Badar) atau 21 Ramadhan (Wafatnya Ali bin Abi Thalib), namun ia menyimpan catatan emas mengenai ekspansi dakwah, keteguhan hati, dan wafatnya sosok-sosok penting.
Bulan Ramadhan sering kali dijuluki sebagai Syahrul Futuhat (Bulan Kemenangan). Sepanjang sejarah, umat Islam tidak menjadikan puasa sebagai alasan untuk berpangku tangan. Sebaliknya, energi spiritual yang memuncak justru menjadi bahan bakar bagi penaklukan-penaklukan besar dan lahirnya peradaban baru.
Berikut adalah uraian mendalam mengenai peristiwa bersejarah pada 11 Ramadhan beserta hikmahnya.
1. Wafatnya Sayyidah Khadijah binti Khuwaylid (619 M)
Salah satu peristiwa paling menyentuh hati dalam tarikh Islam terjadi pada tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Menurut beberapa riwayat sejarah, Sayyidah Khadijah r.a., istri tercinta Rasulullah SAW, wafat pada bulan Ramadhan, dan sebagian sejarawan merujuk pada kisaran tanggal 10 atau 11 Ramadhan.
Khadijah bukan sekadar istri; beliau adalah pilar pendukung pertama dakwah Islam. Beliau adalah orang pertama yang beriman ketika wahyu turun, menyelimuti Rasulullah saat ketakutan, dan menginfakkan seluruh kekayaannya demi tegaknya kalimat Allah di tengah boikot kaum Quraisy yang kejam.
Ummu Khadijah adalah bukti Loyalitas Tanpa Batas terhadap perjuangan dakwah Nabi. Ya, perjuangan agama memerlukan dukungan logistik dan emosional. Khadijah mengajarkan bahwa pengorbanan harta dan jiwa adalah kunci keberhasilan dakwah. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kesedihan adalah manusiawi, namun tidak boleh melumpuhkan langkah untuk terus berjuang di jalan Allah.
2. Kemenangan Islam di Wilayah Maroko dan Afrika Utara
Pada 11 Ramadhan tahun 92 Hijriah, sejarah mencatat pergerakan besar pasukan Islam di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nusair. Tanggal ini sering dikaitkan dengan fase krusial dalam stabilisasi kekuasaan Islam di Afrika Utara sebelum akhirnya menyeberang ke Andalusia (Spanyol).
Pasukan Muslim saat itu berhasil mematahkan perlawanan suku-suku lokal yang belum menerima dakwah dan menyatukan wilayah Maroko di bawah panji Khilafah Umayyah. Ini adalah batu loncatan penting bagi masuknya Islam ke Benua Eropa.
Berperang di padang pasir Afrika Utara saat berpuasa menunjukkan kekuatan fisik yang lahir dari kekuatan iman. Penaklukan ini bukan bertujuan menjajah, melainkan membebaskan rakyat dari tirani penguasa lokal dan mengenalkan keadilan Islam.
3. Wafatnya Al-Mansur bin Abi Amir (392 H)
Pada 11 Ramadhan 392 H, wafatlah Al-Mansur bin Abi Amir, seorang panglima perang dan menteri besar (Hajib) di masa kekhalifahan Umayyah di Andalusia. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah kalah dalam pertempuran. Selama masa kepemimpinannya, Cordoba mencapai puncak kejayaan militer, melakukan lebih dari 50 ekspedisi militer untuk mempertahankan kedaulatan Islam dari serangan kerajaan-kerajaan Kristen di utara.
Khalifah Al-Mansur membuktikan bahwa kepemimpinan yang tegas dan strategi yang matang dapat membawa peradaban pada posisi puncak. Selain militer, ia sangat memperhatikan keamanan masyarakat, sehingga ilmu pengetahuan dapat berkembang pesat di Andalusia pada masanya.
4. Kedatangan Pasukan Islam ke Mesir di Bawah Komando Amru bin Ash
Meskipun Mesir mulai ditaklukkan secara bertahap, terdapat catatan bahwa pada 11 Ramadhan, pasukan Islam memperkuat kedudukan mereka di wilayah Fustat (Kairo lama) untuk memastikan stabilitas keamanan setelah jatuhnya benteng Babylon. Ini menandai dimulainya era baru Mesir sebagai pusat peradaban Islam yang kelak melahirkan Universitas Al-Azhar.
Amru bin Ash tidak hanya menggunakan pedang, tapi juga pendekatan kemanusiaan yang membuat rakyat Mesir (Koptik) merasa lebih terlindungi di bawah Islam dibandingkan di bawah kekaisaran Bizantium.
***
Jika kita merenungkan mengapa tanggal-tanggal di bulan Ramadhan, termasuk tanggal 11 Ramadhan ini, sering diwarnai dengan peristiwa besar, kita akan menemukan pola spiritual yang unik. Dalam kondisi lapar dan haus, seorang mukmin diajarkan untuk melepaskan ketergantungan pada materi dan memperkuat ketergantungan pada Sang Khaliq. Hal ini menciptakan mentalitas “tak terkalahkan”.
Sejarah membuktikan bahwa kemenangan militer dan diplomatik Islam sering terjadi saat jumlah pasukan Muslim lebih sedikit, namun memiliki determinasi spiritual yang lebih tinggi. Setiap peristiwa pada 11 Ramadhan—baik itu wafatnya tokoh besar maupun kemenangan perang—selalu membawa pesan reformasi (perubahan).
Wafatnya Khadijah mereformasi struktur dukungan keluarga Rasulullah, sementara penaklukan wilayah mereformasi tatanan sosial dari kegelapan menuju cahaya Islam. Bagaimana kita menerapkan semangat 11 Ramadhan hari ini? Pertama, tentu Transformasi Jihad. Jika dahulu jihad dilakukan di medan tempur, sekarang 11 Ramadhan harus menjadi momentum jihad melawan kebodohan dan kemiskinan.
Hikmah lainnya adalah Meneladani Khadijah dalam Ekonomi. Pengusaha Muslim harus melihat harta sebagai alat dakwah, sebagaimana Ummu Khadijah menggunakannya bagi kelangsungan dakwah Nabi dan sebagaimana ‘Amru bin Ash membangun Fustat, kita harus membangun komunitas yang berbasis pada nilai-nilai masjid: kejujuran, keadilan, dan inklusivitas.
Intinya, Tanggal 11 Ramadhan adalah cermin bagi umat Islam untuk melihat kembali akar kejayaan mereka. Ia adalah hari di mana duka (wafatnya Khadijah) bersanding dengan kemenangan (ekspansi di Afrika Utara). Hal ini mengajarkan bahwa dalam hidup, kesulitan dan kemudahan selalu berjalan beriringan. Sejarah bukan sekadar deretan angka, melainkan guru yang memberikan arah bagi masa depan. Semoga dengan mengenang peristiwa 11 Ramadhan, kita mampu membangkitkan kembali semangat izzul Islam wal Muslimin.
Bahan Bacaan:
Dr. Raghib As-Sirjani. Sumbangan Peradaban Islam bagi Dunia.
Ibnu Katsir. Al-Bidayah wan Nihayah. (Catatan sejarah umum mengenai tahun-tahun penting dalam Islam).
Imam Adz-Dzahabi. Siyar A’lam al-Nubala. (Biografi tokoh-tokoh besar termasuk Al-Mansur bin Abi Amir).
Philip K. Hitti. History of the Arabs. (Mengenai ekspansi Islam di Afrika Utara dan Andalusia).
Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah mengenai wafatnya Sayyidah Khadijah).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


