Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Tema Lokal dan Kuliner Tradisional dalam Liputan Khusus Ramadhan
PALONTARAQ.ID – Siapa disini yang tiap Ramadhan selalu saja terkenang dengan masakan ibu di kampung, saat kita masih kanak dan remaja? Ya, keharuman asap dari dapur panggung rumah kayu, suara desis minyak di wajan yang menghitam dimakan usia, serta aroma kunyit dan asam yang menyeruak ke seluruh penjuru rumah adalah melodi pembuka simfoni kasih sayang Amma, masakan ibu yang penuh cita rasa tak tergantikan.
Di tengah hiruk pikuk peradaban digital 2026, di mana makanan bisa dipesan hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel, ada satu ruang di sudut hati kita yang tetap kosong. Ruang itu hanya bisa diisi oleh sesuatu yang mengharukan kala mengenangnya. Ya, Pallu-palluna I Amma—masakan ibu di kampung. Ini bukan sekadar tentang nutrisi yang masuk ke lambung, melainkan tentang perjalanan waktu dari sejak masa kanak dan remaja, sebuah masa di mana kebahagiaan diukur dari seberapa hangat pelukan ibu dan seberapa nikmat aroma masakannya yang selalu hadir menemani kasih sayangnya.
Bagi kita yang besar di kampung, dapur adalah pusat gravitasi rumah. Sosok Amma (Ibu) adalah penyejuk jiwa yang sampai kapanpun tak ada yang mampu menggantikannya. Tanpa buku resep, tanpa timbangan digital, dan tanpa pengukur suhu yang canggih, tangan ibu cakap bergerak memasak dan menyuguhkan makanan bernutrisi dan kandungan kasih sayang yang tak pernah kurang.
Saat Ramadhan tiba, dapur menjadi lebih hidup dari biasanya. Masih di waktu dinihari, Amma telah berkutat dengan asap dan api. Masakan ibu adalah manifestasi dari nilai Sipakalabbiri (saling memuliakan)—tindakan memuliakan keluarga melalui hidangan yang diolah dengan kesabaran luar biasa. Setiap menu yang keluar dari tangan ibu memiliki narasi tersendiri yang tak pernah diungkapkannya dengan kata-kata.
Ada Pallubasa Juku, adapula Juku Tunu. Pallubasa Juku olahan ibu memiliki kekentalan kuah yang pas, berpadu dengan gurihnya kelapa sangrai (pappa’) yang ditumbuk halus. Sementara Juku Tunu (ikan bakar) yang dibakar di atas bara tempurung kelapa, aromanya meresap hingga ke serat daging terdalam, dinikmati bersama raca’ mangga atau cobek-cobek jeruk nipis.

Terkadang hadir pula Kambeng Doang dan Gangang (Sayur) Kambu Paria. Kambeng Doang yang dikekinian disebut bakwan udang tak tergantikan. Buatan ibu selalu terasa berbeda. Udangnya segar, diambil langsung dari tambak atau pasar tradisional, dibalut tepung yang renyah namun lembut di dalam. Lalu ada Gangang Kambu Paria (sayur paria isi remahan daging ikan dibalut telur), di mana pahitnya paria seolah sirna oleh gurihnya isian kelapa dan ikan yang telah dibumbui dengan rempah rahasia ibu. Sajian ini seakan mengajarkan bahwa sesuatu yang pahit pun bisa menjadi nikmat jika dikelola dengan ketulusan, sebagaimana pahit dalam hidup, tetap harus dinikmati dan dijalani.
Dua maestro kuah kuning dari masakan ibu adalah teman setia di meja makan, yaitu Pallu Kacci dan Pallumara’. Selalu dibuat berbeda meski bahan dasar ikan yang dimasak sama saja. Dengan rasa asamnya yang menggigit namun menyegarkan, membawa kehangatan dari rempah yang diolahnya, membangkitkan selera makan, terutama saat raga terasa lelah setelah seharian berpuasa.

Dan Siapa pula yang bisa melupakan Boddong-boddong Tunu’ (Terong Bakar)? Lauk sederhana ini membawa nuansa pedesaan yang kental, yang jika dipadukan dengan Gangang Keloro (sayur daun kelor) yang bening dan segar, masakan ini adalah obat rindu paling ampuh bagi anak rantau yang sedang merindukan suasana kampung halaman.
Jangan lupa, ada pula Bayao Dadara Kaluku Sanggara’ dan Pallu Bayao Nicambai. Telur (Bayao) di tangan ibu bertransformasi menjadi hidangan mewah. Bayao Dadara Kaluku Sanggara’—telur dadar yang dipadukan dengan kelapa sangrai—memberikan tekstur dan rasa gurih yang unik. Sementara Pallu Bayao Nicambai yang dimasak dengan bumbu berkuah asam, menjadi hidangan yang selalu dinanti saat sahur karena sifatnya yang lembut tapi mengenyangkan.
***
Di bulan Ramadhan, masakan ibu mencapai puncak maknanya. Menyiapkan hidangan berbuka dan sahur adalah bentuk ibadah fisik bagi seorang ibu. Ia rela tidur paling akhir dan bangun paling awal. Makan sahur dengan menu Pallumara’ atau Pallu Kacci buatan ibu bukan hanya soal mengisi tenaga agar kuat berpuasa hingga maghrib. Itu adalah momen Sipakainge’ (saling mengingatkan) dalam kebaikan.
Di bawah temaram lampu ruang tengah, seluruh keluarga berkumpul dalam sunyi yang khidmat. Tak ada gangguan notifikasi pesan singkat, tak ada distraksi media sosial. Yang ada hanyalah suara sendok yang beradu dengan piring dan petuah-petuah ringan ibu yang menyelip di sela suapan.
Salah satu alasan mengapa Pallu-palluna I Amma begitu membekas adalah karena ia dinikmati dalam kondisi kehadiran yang utuh. Di kampung dahulu, meja makan adalah tempat suci di mana gadget belum merampas perhatian kita. Saat kita menyantap Juku Tunu atau Gangang Kambu Paria, mata kita menatap mata ibu. Kita melihat gurat kelelahan namun ada binar kebahagiaan saat beliau melihat anak-anaknya makan dengan lahap.
Kita mendengarkan cerita tentang asal-usul bahan makanan, tentang bagaimana beliau belajar memasak dari nenek kita, atau tentang harapan-harapannya untuk masa depan kita. Interaksi ini memberikan “rasa tambahan” pada masakan tersebut—sebuah rasa yang tidak bisa diproduksi oleh rumah makan dan restoran manapun.
Kini, saat kita telah dewasa dan mungkin berada jauh dari rumah panggung itu, kenangan akan Pallu-palluna I Amma seringkali datang menyapa di sela-sela kesibukan. Rasa Pallu Kacci yang segar. Kadang ada menyelip Sanggara’ Unti yang manis adalah kompas yang selalu mengarahkan jiwa kita kembali ke rumah.
Kini, meskipun raga kita berada di era digital, biarlah lidah dan hati kita tetap terikat pada nilai-nilai luhur Pangadereng yang diajarkan lewat sepiring nasi dan sayur olahan ibu. Karena pada akhirnya, seberapa jauh pun kita melangkah, kita akan selalu merindukan rasa yang tidak pernah mengkhianati: kasih sayang ibu yang tak berbatas, yang tertuang abadi dalam setiap suapan Pallu-palluna I Amma.
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya/Tinggal di Biraeng, Minasatene-Pangkep.



