Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Sultan Syarif Ali: Sang Arsitek Peradaban Islam Brunei Darussalam
PALONTARAQ.ID – Brunei Darussalam merupakan salah satu negara terkecil namun paling stabil secara politik dan ekonomi di Asia Tenggara. Keunikan utama Brunei terletak pada identitas nasionalnya yang secara mutlak berlandaskan pada filosofi Melayu Islam Beraja (MIB).
Islam di Brunei bukan sekadar agama mayoritas, melainkan nyawa dari konstitusi, sumber hukum, dan panduan hidup bermasyarakat. Sejarah Islam di Brunei adalah narasi tentang sebuah kerajaan maritim kuno yang berhasil mempertahankan kedaulatan identitas keislamannya di tengah gelombang kolonialisme Barat, hingga akhirnya memproklamirkan diri sebagai negara yang menjalankan Syariat Islam secara komprehensif di abad ke-21.
1. Asal-Usul dan Sejarah Masuknya Islam di Brunei
Penentuan waktu yang tepat mengenai masuknya Islam ke Brunei merupakan tantangan historis yang menarik, dengan bukti-bukti yang merujuk pada rentang waktu antara abad ke-10 hingga abad ke-14 Masehi.
Catatan Dinasti Song di Cina menyebutkan adanya hubungan dagang dengan sebuah wilayah bernama “Poni” (Brunei) pada tahun 977 M. Sejarawan berpendapat bahwa pedagang Muslim dari Arab dan Persia telah singgah di Brunei dalam perjalanan mereka menuju Cina. Penemuan batu nisan seorang Muslimah bernama Puwali di Rangas, Brunei, yang bertarikh 1048 M, menunjukkan bahwa komunitas Muslim kecil sudah menetap di wilayah tersebut jauh sebelum penguasa resminya memeluk Islam.
Titik balik paling krusial terjadi pada abad ke-14. Menurut catatan sejarah lokal Tarsilah Brunei, penguasa Brunei pertama yang memeluk Islam adalah Awang Alak Betatar. Setelah menikah dengan putri dari Kesultanan Johor (atau menurut versi lain dari Samudera Pasai), ia memeluk Islam dan mengambil gelar Sultan Muhammad Syah (1363–1402 M). Peristiwa ini menandai transisi Brunei dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha menjadi kesultanan Islam yang berdaulat.
2. Zaman Keemasan dan Penguatan Identitas (Abad ke-15 – ke-16)
Di bawah kepemimpinan sultan-sultan berikutnya, Islam mengalami institusionalisasi yang sangat kuat di Brunei. Sultan ketiga Brunei, Sultan Syarif Ali, merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah SAW dari Hadramaut yang sebelumnya menjabat sebagai Qadhi di Brunei. Di masa pemerintahannya, Islam benar-benar menjadi fondasi kenegaraan. Ia membangun masjid pertama di Brunei dan memperkenalkan penerapan hukum Islam yang lebih sistematis. Gelar “Darussalam” (Abadi dalam Perdamaian) ditambahkan ke nama Brunei pada masa ini, mempertegas visi negara yang Islami.
Pada masa Sultan Bolkiah (Sultan kelima), Brunei mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya mencakup seluruh pesisir Kalimantan hingga kepulauan Filipina Selatan (Sulu dan Manila). Brunei berperan sebagai episentrum penyebaran Islam di wilayah utara Borneo dan Filipina, menjadi tandingan bagi pengaruh kolonial Spanyol yang mulai masuk dari arah Pasifik.
3. Menghadapi Kolonialisme: Bertahan dengan Iman
Kedatangan bangsa Eropa (Spanyol, Portugis, dan Inggris) membawa tantangan besar bagi Kesultanan Brunei. Spanyol mencoba menaklukkan Brunei dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Castille. Spanyol berhasil menduduki ibu kota Brunei untuk sementara dan membakar masjid agung. Namun, kegigihan perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Sultan Saiful Rijal berhasil mengusir Spanyol. Kemenangan ini dianggap sebagai simbol ketangguhan iman rakyat Brunei dalam membela kedaulatan Islam dari intervensi asing.
Di bawah Perjanjian Perlindungan 1888 dengan Inggris, Brunei kehilangan banyak wilayahnya tetapi berhasil mempertahankan kedaulatan domestiknya, termasuk urusan agama. Inggris memperkenalkan sistem hukum sipil (Common Law), sementara hukum Islam dibatasi pada urusan keluarga dan personal. Periode ini menciptakan dualisme hukum yang kemudian menjadi tantangan bagi Brunei untuk dikembalikan ke sistem Islam murni di masa depan.
4. Modernisasi dan Filosofi Melayu Islam Beraja (MIB)
Pasca penemuan minyak pada tahun 1929 dan kemerdekaan penuh pada tahun 1984, Brunei di bawah kepemimpinan Sultan Haji Hassanal Bolkiah melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap identitas nasional.
Pada hari kemerdekaan, Sultan memproklamirkan filosofi Melayu Islam Beraja sebagai identitas nasional yang tunggal, Menjaga kebudayaan dan bahasa Melayu dan Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah (Ajaran Islam) sebagai pedoman tertinggi. Adapun Beraja berarti Sistem monarki Islam sebagai pelindung rakyat.
Langkah paling fenomenal dalam sejarah modern Brunei adalah pengenalan Perintah Kanun Hukuman Syariah secara bertahap mulai tahun 2014. Langkah ini menjadikan Brunei sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan hukum jinayah Islam di tingkat nasional. Meskipun mendapat kritik dari dunia Barat, pemerintah Brunei tetap teguh pada prinsip bahwa penerapan Syariat adalah kewajiban agama yang tidak dapat dinegosiasikan.
5. Karakteristik Perkembangan Islam di Brunei Saat Ini
Islam di Brunei saat ini dicirikan oleh keterpaduan antara tradisi, kesejahteraan, dan teknologi. Pemerintah mendorong gerakan “Negara Zikir”, di mana setiap aktivitas publik dan pemerintahan selalu diawali dan diakhiri dengan mengingat Allah.
Sistem pendidikan Brunei mewajibkan pendidikan agama Islam bagi seluruh siswa Muslim dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi melalui Sekolah Agama. Melalui pengelolaan zakat yang profesional dan dana negara, Brunei menjamin kesejahteraan rakyatnya sebagai bentuk implementasi nilai keadilan Islam (bebas pajak, kesehatan dan pendidikan gratis). Brunei berambisi menjadi pusat keuangan Islam global dan memimpin dalam standarisasi produk halal internasional.
Jadi, Sejarah Islam di Brunei Darussalam adalah bukti keberhasilan integrasi antara kekuasaan politik monarki dengan nilai-nilai ketuhanan. Dari kedatangan pedagang Arab hingga penerapan hukum Syariah yang komprehensif, Brunei tetap konsisten pada jalurnya sebagai “Darussalam”. Keberhasilan Brunei menjaga identitasnya membuktikan bahwa modernitas dan kemakmuran ekonomi tidak harus mengorbankan akar keimanan. Islam di Brunei bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan sistem yang hidup dan terus berevolusi untuk menghadapi tantangan zaman.
Bahan Bacaan:
Haji Awang Mohd Jamil Al-Sufri. (1990). Tarsilah Brunei: Sejarah Awal dan Perkembangan Islam. Bandar Seri Begawan: Pusat Sejarah Brunei. (Sumber primer sejarah kesultanan).
Saunders, Graham. (2002). A History of Brunei. London: RoutledgeCurzon.
Hussainmiya, B.A. (1995). Sultan Omar Ali Saifuddin III and Britain: The Making of Brunei Darussalam. Oxford University Press.
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.
Muller, Dominik M. (2014). Islam, Authoritarianism, and Confrontation in Southeast Asia: Indonesia and Malaysia. (Membahas konteks Brunei dalam stabilitas regional).
Pusat Sejarah Brunei. (2014). Brunei Darussalam: Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Bandar Seri Begawan.
Brown, D.E. (1970). Brunei: The Structure and History of a Bornean Malay Sultanate. Brunei Museum Journal.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.



Catatan Dinasti Song di Cina mengatakan ada sebuah wilayah memiliki hubungan dagang dengan Brunei pada tahun 977 M. Sejarawan berpendapat bahwa pedagang dari Arab dan persia singgah di Brunei dalam perjalanan menuju China. Penguasa Brunei yang pertama kali memeluk Islam adalah Awang Alak Batatar.
dibawah perdagangan arab, india dan tiongkok islam sudah ada namun masih didalam komunitas kecil abada ke 14 awang balatek memeluk islam dan menjadi sultan pertama dan gelaar suktan muhammad shah
-Masuknya islam dibrunai Darusslam pada abad ke 10 hingga abad ke 14 melalui perdagangan.
-Pada masa Sultan Syarif Alif merupakn keturunan Rasulullah SAW dari Hadramaut yng sebelumnya menjabat sebagai Qadhi di brunei
-sejarah brunei darussalam adalah bukti keberhasilan integritas antara integritas antara kekuatan politik monarki dengan nilai nilai ketuhana.
tanggapan saya, islam masuk pada abad 10 dan berkembang pesat pada abad 14-15 melalui jalur perdagangan dan dakwah para pedagangan, dan diperkuat setelah sultan brunei memeluk islam dan menjadikannya dasar pemerintahan
Raisatuzzakinah
Kelas 12
Tanggapan : Sejarah Islam di Brunei Darussalam menunjukkan hubungan kuat antara agama dan negara melalui konsep Melayu Islam Beraja.
Brunei berhasil mempertahankan identitas islamnya sejak masa kesultanan hingga sekarang, termasuk dalam penerapan hukum syariah