BerandaArtikelMengenal Klasifikasi Sastra Melayu Klasik Islam

Mengenal Klasifikasi Sastra Melayu Klasik Islam

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Bahasa Melayu sebagai Bahasa Diplomasi Raja Inggris-Sultan Aceh 1615

PALONTARAQ.ID – Sastra Melayu Klasik Islam merupakan warisan budaya yang kaya dan berharga, terutama bagi masyarakat Melayu yang mayoritas beragama Islam. Karya-karya sastra ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyebaran ajaran Islam dan nilai-nilai moral.

Klasifikasi Sastra Melayu Klasik Islam umumnya didasarkan pada temanya, yaitu cerita-cerita yang berkaitan dengan Islam. Dengan mencontoh katalogus dari van den Berg, Hollander (1984: 274) mengklasifikasikan Karya Sastra Melayu Klasik Islam ke dalam tiga kelompok tema, yaitu:

  1. Tema Karya Ilmu Tauhid dan Ilmu Hukum Islam;
  2. Tema Legenda yang bernafaskan Islam;
  3. Tema Karya Filsafat dan Budi Pekerti.

Sedangkan R. Roolvink membagi Sastra Islam ke dalam 5 kategori (Fang, 1991: 205), yaitu:

  1. Cerita yang bersumber dari Al-Qur’an;
  2. Cerita Nabi Muhammad SAW.
  3. Cerita Sahabat Nabi Muhammad SAW;
  4. Cerita Pahlawan Islam
  5. Sastra Kitab

Djamaris (1990: 109) mengklasifikasikan Sastra Melayu Islam Klasik ke dalam 6 jenis, yaitu:

1. Kisah Para Nabi (Qisas al-Anbiya, Suratul Anbiya), Merupakan kumpulan kisah para nabi dan rasul yang terdapat dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah ini seringkali diadaptasi dan dikembangkan dalam bentuk hikayat untuk memudahkan pemahaman masyarakat. Gerth van Wijk dalam karyanya De Koranische Verhalen in het Meleisch (Cerita-cerita Melayu yang bersumber dari Al-Qur’an), tidak laion merupakan koleksi kisah-kisah para Nabi, antara lain kisah Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Yakub, dan Nabi Yusuf.

2. Hikayat-hikayat Nabi (Hikayat Anbiya). Selain kisah-kisah umum para nabi, terdapat juga hikayat yang secara khusus menceritakan tentang kehidupan nabi tertentu, termasuk didalamnya Hikayat tentang Nabi Muhammad SAW dan Keluarganya, berupa Sirah Nabawiyah, yaitu biografi Nabi Muhammad SAW dari masa kecil hingga wafat, Kisah Para Sahabat Nabi Muhammad SAW, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.

3. Hikayat Pahlawan Islam, berupa Hikayat-hikayat Perang, yang Mengisahkan tentang perang-perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW dan para khalifah, dan Hikayat Pahlawan Lokal, yang Mengisahkan tentang tokoh-tokoh Islam lokal yang dianggap sebagai pahlawan, seperti Sultan Malik al-Saleh atau Sultan Iskandar Muda.

4. Cerita Tentang Ajaran dan Kepercayaan Islam, berupa Hikayat Tasawuf, yang Mengisahkan tentang perjalanan spiritual dan pencarian hakikat Tuhan, dan Hikayat tentang Hukum Islam, mengandung cerita-cerita yang berkaitan dengan hukum Islam, seperti hukum waris, hukum pidana, dan hukum keluarga.

5. Cerita Fiksi, berupa Hikayat Fantasi, yang Mengandung unsur-unsur khayalan dan keajaiban, seperti kisah tentang jin, peri, dan makhluk gaib lainnya, dan Hikayat Romantis, yang Mengisahkan tentang kisah cinta yang seringkali diwarnai dengan unsur-unsur keagamaan.

6. Cerita Mistik dan Tasawuf, berupa Hikayat-hikayat Sufi, yang Mengandung unsur-unsur mistik dan tasawuf, seperti kisah tentang perjalanan spiritual seorang sufi.

Dilihat dari tema-tema diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Ciri-ciri  Sastra Melayu Klasik Islam adalah:

a. Berbasis Agama Islam. Semua cerita mengandung unsur-unsur ajaran Islam dan nilai-nilai moral. Contoh karya: Hikayat Nabi Yusuf

b. Bahasa yang Indah. Menggunakan bahasa Melayu Klasik yang indah dan penuh dengan kiasan. Contoh karya: Hikayat Hang Tuah

c. Mengandung Unsur Didaktik. Bertujuan untuk mendidik dan memberikan pengajaran kepada pembaca. Contoh karya: Hikayat Bayan Budiman

d. Mengandung Unsur Hiburan. Selain mendidik, cerita-cerita ini juga bertujuan untuk menghibur pembaca. Contoh karya: Hikayat Inderagiri.

Disinilah pentingnya mempelajari sastra Melayu Klasik Islam untuk Memahami warisan budaya. Bahwa Sastra ini merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Melayu sekaligus Meningkatkan pemahaman agama, Menumbuhkan nilai-nilai moral, dan Menghargai keindahan bahasa.

Sastra Melayu Klasik Islam merupakan kekayaan intelektual yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Dengan mempelajari sastra ini, kita dapat lebih menghargai warisan budaya bangsa dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan kita. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Pegiat Seni Budaya Islam/Ketua 1 Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT