Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Brunei akan Terapkan Hukuman Rajam bagi Para Pezina
PALONTARAQ.ID – Dalam lembaran sejarah Asia Tenggara, nama Sultan Syarif Ali menempati posisi yang sangat istimewa. Jika Sultan Muhammad Syah adalah penguasa pertama yang memeluk Islam, maka Sultan Syarif Ali adalah tokoh yang membangun sistem, hukum, dan identitas keislaman Brunei secara komprehensif. Beliau bukan sekadar seorang pemimpin politik, melainkan seorang ulama, mujahid, dan keturunan langsung Rasulullah SAW yang membawa visi besar untuk menjadikan Brunei sebagai “Darussalam” (Negeri Damai).
Profil beliau merupakan perpaduan antara kearifan spiritual seorang Sayyid dan ketegasan seorang sultan, yang fondasi pemikirannya tetap menjadi rujukan utama Brunei hingga hari ini. Sultan Syarif Ali, yang sebelum naik takhta dikenal dengan gelar Syarif Ali bin Syarif Ajlan, berasal dari wilayah Taif di Jazirah Arab. Berdasarkan Tarsilah Brunei (Silsilah Raja-Raja Brunei), beliau adalah keturunan Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.
Kedatangan beliau ke Brunei pada akhir abad ke-14 bukanlah untuk ekspansi militer, melainkan bagian dari jaringan dakwah para Syarif (keturunan Nabi) ke wilayah Nusantara. Syarif Ali dikenal sebagai seorang ulama yang sangat alim dan memiliki karomah. Sebelum menetap di Brunei, beliau diyakini telah melakukan perjalanan dakwah di berbagai wilayah pesisir Kalimantan dan Kepulauan Sulu.
Setibanya di Brunei, kecemerlangan ilmu dan kemuliaan akhlak Syarif Ali menarik perhatian penguasa Brunei kedua, Sultan Ahmad. Karena kedalaman pemahaman agamanya, beliau diangkat menjadi Qadhi (Hakim Agung) di Kesultanan Brunei. Kedekatan ini kemudian berlanjut pada ikatan kekeluargaan, Sultan Ahmad menikahkan putrinya, Puteri Ratna Kesuma dengan Syarif Ali. Karena Sultan Ahmad tidak memiliki putra mahkota, maka Syarif Ali secara sah ditunjuk sebagai pewaris takhta Brunei.

Gelar Sultan Barkat (1425–1432 M) dan Penamaan “Darussalam”
Syarif Ali naik takhta pada tahun 1425 M sebagai Sultan Brunei ketiga. Beliau adalah penguasa pertama dari garis keturunan Arab (Syarif) yang memerintah Brunei. Penobatan beliau membawa perubahan simbolis dan praktis yang sangat besar.
Rakyat memberikan gelar Sultan Barkat kepada beliau karena masa pemerintahannya dianggap membawa keberkahan (barokah) luar biasa bagi kemakmuran dan kedamaian negeri. Di bawah kepemimpinannya, syiar Islam tidak lagi hanya terbatas di lingkungan istana, melainkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok pedalaman.
Salah satu jasa monumental Sultan Syarif Ali adalah menambahkan kata “Darussalam” di belakang nama Brunei. Hal ini bukan sekadar penamaan geografis, melainkan sebuah pernyataan ideologis bahwa Brunei adalah sebuah wilayah hukum Islam yang memberikan keamanan dan ketenangan bagi seluruh penghuninya.
Sultan Syarif Ali melakukan serangkaian kebijakan fundamental yang mengubah wajah sosial-politik Brunei secara permanen. Beliau menyadari bahwa masjid adalah jantung dari peradaban Islam. Sultan Syarif Ali memprakarsai pembangunan masjid agung pertama di Brunei. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat literasi, diskusi hukum, dan koordinasi pemerintahan. Pembangunan masjid ini menandai dimulainya tradisi Brunei sebagai pusat studi Islam di Borneo Utara.
Sebagai mantan Qadhi, Sultan Syarif Ali sangat mementingkan aspek hukum. Beliau mulai menerapkan hukum Islam secara lebih formal dalam administrasi negara. Beliau menekankan pentingnya keadilan sosial berdasarkan Al-Qur’an dan memerangi praktik-praktik adat yang bertentangan dengan tauhid. Prinsip-prinsip hukum yang beliau letakkan menjadi embrio dari apa yang kemudian berkembang menjadi Hukum Kanun Brunei.
Sultan Syarif Ali diyakini sebagai pencipta beberapa simbol kedaulatan Brunei yang bernuansa Islami. Beliau memperkenalkan penggunaan bendera dan panji-panji yang mencerminkan identitas kemelayuan yang Islami. Beliau juga memantapkan gelar “Sultan” sebagai gelar resmi bagi penguasa, menggantikan gelar-gelar kuno bercorak Hindu-Buddha.
Pertahanan, Arsitektur Kota, dan Legasi Spiritual
Keamanan negara merupakan prioritas utama Sultan Syarif Ali untuk menjamin kelancaran dakwah. Beliau memperkuat pertahanan Brunei dengan membangun benteng di Kota Batu. Beliau memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan batu-batu besar demi membangun dinding pertahanan yang kokoh guna melindungi ibu kota dari ancaman perompak dan kekuatan asing. Kota Batu kemudian tumbuh menjadi pusat pemerintahan yang megah dan menjadi simbol ketangguhan Brunei di mata dunia internasional.
Sultan Syarif Ali menata ulang struktur masyarakat Brunei dengan menempatkan para ulama dan keturunan Nabi (Syarif/Sayyid) pada posisi yang terhormat sebagai penasihat negara. Beliau berhasil menciptakan harmoni antara adat Melayu dengan syariat Islam, sebuah konsep yang di kemudian hari mengkristal menjadi filosofi “Melayu Islam Beraja” (MIB).
Warisan terbesar Sultan Syarif Ali bukanlah kekayaan materi, melainkan “ruh” Islam yang beliau tiupkan ke dalam sanubari rakyat Brunei. Seluruh Sultan Brunei yang memerintah setelah beliau hingga Sultan Haji Hassanal Bolkiah saat ini adalah keturunan langsung dari Sultan Syarif Ali. Ini memberikan legitimasi religius yang sangat kuat bagi monarki Brunei sebagai keturunan Ahlul Bait.
Beliau mendorong penulisan silsilah dan sejarah kerajaan yang jujur, yang kemudian menjadi tradisi penulisan Tarsilah yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan sejarah Asia Tenggara. Ketaatan mutlak rakyat Brunei terhadap Sultan yang dianggap sebagai pelindung agama ( Zillullah fil Ardh) bermula dari kepribadian agung Sultan Syarif Ali yang mampu memadukan otoritas politik dengan kesucian spiritual.
Jadi, Sultan Syarif Ali adalah “Bapak Pembangunan Islam” di Brunei Darussalam. Tanpa kehadirannya, sejarah Brunei mungkin akan mengambil arah yang berbeda. Beliau berhasil mengubah sebuah kerajaan maritim menjadi sebuah kesultanan teokratis yang modern pada jamannya.
Fondasi yang beliau letakkan—masjid sebagai pusat kegiatan, hukum Islam sebagai panduan, dan kedaulatan yang dijaga dengan benteng fisik maupun mental—tetap bertahan melintasi waktu lebih dari lima ratus tahun. Sultan Syarif Ali bukan hanya sejarah; beliau adalah identitas hidup yang terus berdenyut dalam setiap doa dan zikir di bumi Brunei Darussalam.
Bahan Bacaan:
Haji Awang Mohd Jamil Al-Sufri. (1990). Tarsilah Brunei: Sejarah Awal dan Perkembangan Islam. Bandar Seri Begawan: Pusat Sejarah Brunei. (Rujukan utama mengenai biografi Sultan Syarif Ali).
Hussainmiya, B.A. (2006). Brunei: Revival of 1906 Order. Bandar Seri Begawan: Brunei Press.
Saunders, Graham. (2002). A History of Brunei. London: RoutledgeCurzon. (Membahas transisi sosial-politik di masa Sultan Syarif Ali).
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana. (Membahas konteks migrasi para Syarif ke Nusantara).
Pusat Sejarah Brunei. (2015). Sultan-Sultan Brunei. Bandar Seri Begawan: Jabatan Pusat Sejarah.
Brown, D.E. (1970). Brunei: The Structure and History of a Bornean Malay Sultanate. Monograph of the Brunei Museum Journal.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1972). Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: UKM. (Konteks peran keturunan Nabi dalam Islamisasi wilayah Melayu).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


