Konstanta Hati Seorang Guru
Pedagogi ia jadikan pijakan, mendidik bukan sekadar mengajar,
Usaha menuntun nalar dengan sabar, seperti bilangan mencari dasar.
Tegas dalam rumus, lembut dalam tutur,
Rasionya jernih, hatinya tetap makmur.
Ia guru matematika, menyulam logika dengan cinta.
Nyala pikirnya setinggi posturnya—menjulang seperti harapan,
Untuk jodoh yang sepadan dalam iman dan ketetapan.
Relasi baginya bukan sekadar himpunan tanpa makna,
Untuk itu ia menolak dijodohkan tanpa perhitungan jiwa.
Layaknya persamaan yang harus seimbang di kedua sisi.
Ia punya pilihan, dan hitungan sendiri,
Mengukur bukan dengan tergesa, melainkan refleksi diri.
Ada prinsip yang ia genggam dalam sunyi:
Namun ia sadar—tak semua yang bisa dihitung dapat diperhitungkan pasti.
Seperti integral yang luasnya tak selalu tampak di awal,
Ada takdir yang melampaui kalkulasi rasional.
Rumus kehidupan kadang tak linier jalannya,
Jika variabel tak dikenal datang menyapa.
Antara logika dan doa ia menata harap,
Nilai tertinggi baginya bukan sekadar genap.
Akhlak dan visi, itulah konstanta yang tetap.
Peduli pada amanah administrasi keuangan sekolah,
Efisien dan teliti, tiap angka ia olah.
Neraca ia jaga agar seimbang dan terang,
Demi integritas yang tak boleh goyah atau hilang.
Ia pun mendampingi siswi program ADEm Repatriasi,
Dari Malaysia dan Arab Saudi kembali mengukir prestasi.
Insaf ia bahwa mendidik bukan hanya soal angka di papan,
Karena setiap anak adalah semesta harapan.
Antusias membimbing dengan sabar dan bijak,
Nurani dan nalar berpadu—itulah Putri Nurul Iman Sarjana Pendidikan yang tegak.