Tabib dan Prinsip Pengobatannya

Kitab "Thibbun Nabawi" karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kitab “Thibbun Nabawi” karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi, Pegiat Thibbun Nabawi

PALONTARAQ.ID – SAAT  ini istilah Tabib tidak lagi begitu populer setelah dunia medis mengalami perkembangan pesat.  Dunia kedokteran barat mengenalkan dokter sebagai seseorang yang dianggap profesional dalam bidang pengobatan, setelah mendapatkan pengakuan dalam teori dan prakteknya melalui pendidikan formal.

Sebutan Tabib sebagai profesi pengobat hanya dikenal dalam dunia Kedokteran Timur atau Kedokteran Islam. Bidang yang digeluti seorang Tabib atau sekarang lebih trend dengan istilah “Terapis” adalah pengobatan tradisional.

Yang dimasukkan dalam kategori pengobatan tradisional), seperti bekam, akupunktur, pengobatan dengan herba, ruqyah syar’iyyah, gurah, hirudo theraphy, dan lain sebagainya.

Imam Ibnul Qoyyim dalam Kitab “Thibbun Nabawi” berkata, “Seorang tabib yang mahir dalam pengobatan, selalu memelihara dua puluh perkara dalam setiap usaha pengobatannya, yaitu:

1.  Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan jenis penyakit pasien: penyakitnya termasuk jenis apa?

2. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan penyebab penyakit pasien: Dari manakah penyakit itu berasal dan apakah penyebab kerusakan itu?

3.  Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan kondisi fisik pasien: apakah staminanya mampu mengalahkan dan memenangkan pertarungan dengan penyakit yang ia derita ataukah kondisinya lemah. Jika kondisinya mampu, maka penyakitnya dibiarkan saja, jangan membangunkan penyakitnya dengan obat-obatan.

4. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan karakter normal pasien: bagaimanakah karakter normalnya?

5.  Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan kelainan percampuran karakter baru yang tidak seimbang.

Praktek Bekam. (foto by: mfaridwm/palontaraq)

Praktek Bekam adalah keahlian yang harus dikuasai seorang Tabib, Pegiat Thibbun Nabawi (foto by: mfaridwm/palontaraq)

6. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan usia dan kebiasaan pasien.

7. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan musim apa sekarang dan dia juga selalu memperhatikan obat apa yang cocok dengan musim sekarang ini?

8. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan dari daerah mana pasien terjangkiti penyakit dan juga memperhatikan di manakah dia dibesarkan.

9. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan bagaimana keadaan udara saat dia (pasien) jatuh sakit.

10. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan pengobatan yang bertentangan dengan kelalaian diatas.

11. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan perbandingan antara kekuatan obat dengan kekuatan penyakit (dosis obat).

12. Seorang Tabib yang mahir tidak selalu menargetkan hanya menghilangkan penyakit semata-mata tetapi selalu menargetkan bagaimana cara menghilangkan penyakit dengan cara yang paling aman tanpa menimbulkan efek percampuran yang lebih berbahaya.

Karena itu, setiap pengobatan yang dapat menghilangkan penyakit namun diiringi dengan dampak yang lebih menyulitkan daripada sebelumnya maka penyakitnya dibiarkan dalam karakternya dan kalau bisa dikurangi frekuensinya.

Buku Karya Abdul Latief

Seorang Tabib harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai tentang Pemanfaatan Obat-obatan alami (Herba)-foto by: mfaridwm/palontaraq.

13. Seorang Tabib yang mahir selalu mengupayakan terapi yang sederhana mungkin.

Seorang Tabib tidak perlu tergesa-gesa berpindah dari pengobatan melalui makanan ke model Pengobatan Herba selama masih dimungkinkan tercapai dengan makanan, kecuali jika hal itu sudah tidak bisa.

Di antara kebahagiaan Tabib adalah mampu menggantikan pengobatan herba dengan makanan, menggantikan pengobatan kompleks dengan pengobatan sederhana.

14. Seorang Tabib yang mahir selalu memperhatikan kondisi penyakit: apakah mungkin bisa diobati atau tidak? Apabila tidak mungkin diobati maka pasien harus menjaga aktivitas dan menghindari segala pantangannya.

15. Seorang Tabib yang mahir tidak boleh tamak untuk mengobati penyakit yang diperkirakan tidak dapat disembuhkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi pasien.

Adapun apabila penyakit termasuk jenis penyakit yang bisa diobati, maka seorang tabib yang mahir selalu memperhatikan apakah penyakitnya bisa benar-benar dihilangkan ataukah tidak.

Jika dimungkinkan tidak bisa dihilangkan (100%) maka seorang tabib yang mahir selalu memperhatikan apakah penyakitnya bisa diringankan dan diminimalkan atau tidak.

Apabila tidak bisa diminimalkan dan seorang Tabib mempunyai pandangan bahwa kemungkinan tertinggi hanya mampu menghentikan dan mengurangi dampaknya, maka target pengobatan harus difokuskan pada tujuan ini, dengan dibantu penguatan stamina dan melemahkan materinya.

Berbekam. (foto: ist/palontaraq)

Berbekam adalah salah satu metode pengobatan Nabi, harus dikuasai oleh seorang Tabib. (foto: ist/palontaraq)

16. Seorang Tabib yang mahir tidak mengakibatkan karakter baru dengan mengeluarkan penyakit sebelum matang. Namun, dilakukan ialah mematangkan terlebih dahulu. Setelah sempurna kematangannya baru dikeluarkan.

17. Seorang Tabib yang mahir hendaknya memiliki keahlian dalam menangani penyakit jiwa, rohani, dan terapinya. Tiga masalah itu adalah tiga dasar yang pokok dalam mengobati penyakit badan. Hal ini disebabkan adanya hubungan antara badan dengan kesehatan hati dan rohani sangat nyata.

18. Seorang Tabib yang mahir selalu bersikap lemah lembut ke pada orang yang sakit seperti lemah lembutnya terhadap anak kecil.

19. Seorang Tabib yang mahir selalu menggunakan berbagai pengobatan baik pengobatan secara alami, ilahiyah, maupun perkiraan, karena sungguh banyak perkiraan tabib yang mahir mendatangkan hasil yang menakjubkan yang tidak dapat dilakukan oleh obat-obatan.

20. Seorang Tabib yang mahir selalu membantu orang yang sakit dengan berbagai sarana yang membantu dan  menegakkan pengobatan serta perawatannya dengan bertumpu pada poros pengobatan serta senjata para tabib, yaitu:

(1) Menjaga kesehatan yang ada.

(2) Memulihkan kesehatan sebisa mungkin.

(3) Menghilangkan penyakit sebisa mungkin atau meminimalkan penyakit sebisa mungkin.

(4) Memilih pengobatan yang memiliki resiko yang paling rendah dan meninggalkan cara pengobatan yang berisiko tinggi.

(5) Mengorbankan keuntungan yang sedikit demi memperoleh keuntungan yang besar.

Thibbun Nabawi adalah sunnah pengobatan dari Nabi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Thibbun Nabawi adalah sunnah pengobatan dari Nabi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Diantara sebagian pondasi yang pokok dalam mengobati penyakit tubuh adalah berbuat kebajikan, dzikir dan berdo’a, tunduk dan pasrah kepada Allah, dan bertaubat.

Semua tindakan itu mempunyai pengaruh yang besar dalam menolak penyakit maupun kesembuhannya.  Pengaruhnya lebih besar bila dibandingkan dengan pengaruh obat-obatan alami. Karena itu seorang Tabib adalah juga seorang councelor, penasehat kesehatan.

Kalau kedokteran barat hanya memperhatikan aspek fisik dari tubuh saja, maka kedokteran timur diharuskan melakukan diagnosa berdasarkan penyakit jiwa, rohani, dan terapinya.

Itulah sebabnya kedokteran timur sering pula disebut sebagai “pengobatan holistik”.  Masalah penyakit jiwa, rohani, dan terapinya adalah tiga hal  pokok dalam mengobati penyakit badan atau keluhan pada fisik tubuh, dikarenakan adanya hubungan dengan kesehatan hati dan rohani.

Seorang Tabib yang mengetahui perkara penyakit hati dan  jiwa sekaligus cara pengobatannya dianggap tabib yang sempurna, sedang Tabib yang tidak memiliki  keahlian dalam permasalahan ini, meski mahir pengobatan penyakit badan, maka hanya akan dianggap setengahnya tabib.

Setiap tabib yang tidak berusaha mengobati penyakit dengan berusaha memeriksa keadaan jiwa dan kesehatan pasiennya serta memperkuat jiwa dan kekuatannya dengan bershodaqoh, berbuat baik, berserah diri kepada Allah, dan memperkuat keimanan dengan adanya hari akhir, maka dia sejatinya bukanlah seorang tabib.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response