Amanah Waktu bagi Wartawan

by Penulis Palontaraq | Minggu, Agu 4, 2019 | 51 views
Ilustrasi - (foto: lampungpro)

Ilustrasi – (foto: lampungpro)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Tulisan Sebelumnya: Persekongkolan Media Mainstream Memusuhi Ulama dan Umat Islam

PALONTARAQ.ID – BERBICARA tentang waktu berarti kita berhubung dengan salah satu titik sentral kehidupan. Waktu merupakan saat, momen, kejadian atau batas awal dan akhir dari suatu peristiwa.

“Demi Waktu, Sesungguhnya Manusia benar-benar berada dalam keadaan merugi, kecuali Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh”

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Alam Nasyrah: 7).

Hidup tidak mungkin ada tanpa adanya dimensi waktu, karena hakekatnya hidup adalah pemberdayaan diri dan lingkungan melalui gerak terukur. Seseorang yang menyia-nyiakan waktu, berarti dia sedang mengurangi makna kehidupannya. Kesengsaraan terbesar terjadi ketika seseorang membiarkan waktu berlalu tanpa makna.

Orang sukses identik dengan tipe manusia yang sangat displin terhadap waktu. Waktu dijadikan ukuran paling berharga dalam setiap kegiatannya. Apabila tidak mampu mengelola dengan baik maka waktu akan membawa kerugian yang besar.

Pribadi seorang wartawan selalu saja menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak? ‘Makhluk yang satu’ ini selalu saja menarik perhatian banyak orang dan membuat decak kagum bilamana hasil investigasinya naik cetak atau tersiarkan di media.

Tentunya pembaca juga bertanya-tanya bagaimana sih seorang wartawan mengatur waktunya, menjalani hidupnya, membiayai keluarganya, bagaimana caranya sampai begitu akrabnya dengan pejabat tinggi, berapa jam waktu istirahatnya, buku-buku apa saja yang dia baca, apa saja kegiatannya kalau malam hari, dan lain sebagainya.

Lihat pula: Inilah Tipe “Wartawan Angpao” dan Cara Menghadapinya

Seorang wartawan senior yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia pers, pernah mengatakan bahwa wartawan adalah ‘guru bangsa’ dengan menyampaikan informasi kepada khalayak.

Makin banyak informasi yang tersampaikan maka makin cerdaslah bangsa itu.  Selain jadi guru bangsa, wartawan senior tadi pernah mengatakan seperti ini, “Kalau kamu ingin jadi orang kaya, jangan jadi wartawan! Tapi kalau kamu ingin bisa duduk semeja dengan Orang-orang yang membuat sejarah, jadilah wartawan!” Tuh, Top ya?!

Terkadang wartawan yang karena pekerjaannya ‘memburu berita’ terlalu banyak yang mesti diselesaikan sementara waktu yang tersedia sangat terbatas. Sehingga hal ini mengakibatkan pengaruh terhadap kelengkapan informasi dan obyektifitas suatu berita.

Disinilah perlunya seseorang menempatkan posisi dirinya terhadap skala prioritas berita dengan waktu yang sangat terbatas, hingga wartawanpun masih ada waktu untuk mengembang amanah lainnya dalam kehidupan ini, entah itu amanah terhadap keluarga, masyarakat, pada lingkungan pendidikan dan pekerjaan serta terhadap agama dan bangsa.

Seorang wartawan dituntut untuk mengatur sedemikian rupa waktunya hingga tidak satupun informasi yang lewat didepan matanya tanpa suatu makna yang dapat ditangkap oleh panca-inderanya. Wartawan mesti mengetahui sesuatu tentang semua dan mengetahui semua tentang sesuatu.

Bagaimana seharusnya kita menyikjapi akan amanah waktu ini. Seseorang mestinya menyikapinya dengan cerdas dengan jalan membuat perencanaan (time scheduling) lalu menepati perencanaan adalah komitmen yang harus ditaati. Mereka akan merasa rugi jika tidak bisa menepati apa yang sudah menjadi komitmennya.

Lihat pula: Mengenali Framing Media, Waspadalah!

Kecerdasan dan ketepatan mengatur waktu itu juga tergambar pada kemampuan untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.  Memberitakan mereka yang tertindas, terdzalimi, terampas hak-haknya, untuk kemudian menjadi bahan masukan bagi pemerintah dan aparat kepolisian untuk menindak-lanjutinya.

Tidak ada istilah menunda-nudan pekerjaan, apalagi waktu yang tersedia cukup memungkinkan untuk mengerjakannya. Jika hal ini dapat dijabarkan dalam pekerjaan wartawan terhadap konsistensi waktu dan perimbangan pemberitaan maka profesi sebagai ‘pekerja pers’ tersebut akan menjadi sedemikian disegani oleh siapapun dan kapanpun.

Ada proses yang mesti dilakoni seorang wratawan sebelum menjadi ‘guru bangsa’. Yang pertama, dia harus bisa merumuskan sumber gagasan yang bakal dia kembanghkan jadi tulisan.

Sumber gagasan itu bisa didapat darimana saja. Dari pengalaman, pengamatan, juga dari obrolan dengan seseorang. Misalnya, kita bisa saja menulis kehidupan tukang sampah setelah kita ngobrol dengannya. Atau bisa juga dari banyak membaca buku.

Waktu akan terus berputar tanpa henti.  Jangan pernah menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak berguna. Manfaatkanlah setiap detik yang ada untuk berbuat kebaikan dan menebarkan. Bukankah diantara kita tidak ada yang ingin disebut golongan Orang-orang yang merugi. (***)

 

Like it? Share it!

Leave A Response