BerandaIslamKisah Tukang Becak Bersedekah BLT di Masjid Jogokariyan

Kisah Tukang Becak Bersedekah BLT di Masjid Jogokariyan

Laporan: Etta Adil

Related Post: Beli Kesulitan dengan Sedekah

PALONTARAQ.ID – Kisah ini adalah kisah nyata. Kisah tentang seorang Tukang Becak
yang merasa dilayani dengan baik oleh Pengurus Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Kisah mengharukan ini diceritakan oleh Ustadz Muhammad Jazir, Ketua DKM Masjid Jogokariyan.

Bikin Ketua DKM Menangis Haru

“Ustadz, saya mau sedekah untuk masjid,” kata tukang becak itu sambil menyerahkan enam lembar uang kertas warna biru bergambar I Gusti Ngurah Rai.

“Kok banyak, Pak?…”

Sang Ustadz tahu, uang Rp 300.000 cukup banyak untuk seorang tukang becak.

“Ini uang BLT yang baru saya terima Ustadz,” Jawab tukang becak, membuat mata Sang Ustadz berkaca-kaca.

Sudah lama saya ingin menyumbang masjid ini Pak. Saya tiap hari mengayuh becak di daerah sini.  Cukup jauh dari rumah saya sangat memerlukan masjid untuk ganti baju, mandi dan sebagainya.

Awalnya saya pernah ke masjid lain untuk mandi, tapi kemudian saya dimarahi.
Masjid ini bukan tempat mandi…!! Lalu saya datang ke masjid ini. Karena dengar dari teman, Masjid Jogokariyan sangat ramah untuk siapa saja. Dan saya membuktikannya.
Saya mandi pagi dan siang hari, Alhamdulillah tidak ada yang memarahi, bahkan dipersilakan jika butuh sesuatu.

Saya jadi suka dengan masjid dan suka sholat jamaah, Ustadz. Sejak saat itu saya sangat ingin bersedekah untuk masjid ini jika punya uang. Dan alhamdulillah sekarang saya dapat BLT.

Sang Ustadz tak kuasa menahan tangis karena haru.

Dari kisah infaq/sedekah tukang becak ini, DKM atau Takmir Masjid perlu mengambil ibrah.
Bahwa semestinya masjid itu melayani umat dan menjadi solusi. Dan ketika pelayanan masjid dirasakan oleh umat, mereka merasa memiliki, dan dengan ikhlas bersedekah kepada sesuatu yang mereka cintai.

Mesjid Jogokariyan, Yogyakarta. (foto: ist/*)
Mesjid Jogokariyan, Yogyakarta. (foto: ist/*)

Ustadz Muhammad Jazir, Ketua DKM Masjid Jogokariyan yang menjadi saksi ketulusan tukang becak itu mengungkapkan, Pertama Pada tahun 1999, infak/sedekah di Masjid Jogokariyan hanya mencapai Rp 8.640.000 setahun.

Setelah pelayanannya diperbaiki, sedekah meningkat menjadi Rp 43 juta setahun pada tahun 2000-an. Meningkat terus pada kurun 2006-2008 menjadi Rp 225 juta per tahun.
Lalu Rp 354 juta pada 2010. Dan kini, untuk sedekah buka puasa saja mencapai milyaran rupiah.

Kedua,  kita semua juga bisa mengambil ibrah dari tukang becak. Yang sangat ingin bersedekah. Ia menunggu-nunggu kapan punya uang untuk bersedekah. Dan saat menerima BLT, ia menginfakkan semuanya.

Bisa jadi, tukang becak itu telah melampaui kebajikan kita karena ia menginfakkan uang yang sebenarnya sangat ia butuhkan. Uang yang sebenarnya sangat ia sukai ketika mendapatkannya.

Kisah sedekah seperti ini hendaknya menguatkan kembali semangat kita untuk bersedekah. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. (*)

Lihat pula: Infak, Sedekah, dan Zakat di Bulan Ramadhan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT