Beranda Muamalat Infak, Sedekah, dan Zakat di Bulan Ramadhan

Infak, Sedekah, dan Zakat di Bulan Ramadhan

Oleh: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – TAK terasa Ramadan sudah memasuki hari-hari  terakhir. Ada begitu banyak anjuran Rasulullah SAW sebagaimana banyak disebutkan dalam Hadits terkait amaliah Ramadan yang mana dilipatkan gandakan pahalanya dari Allah SWT.

Menghadapi hari-hari terakhir Ramadan, Rasulullah SAW menganjurkan untuk  memperbanyak Shalat-shalat  Sunnah dan Tilawah Al-Quran.

Bulan Ramadan adalah Bulan Al-Quran, dan bahkan  Al-Quran diturunkan pertamakali dalam Bulan Ramadan.

Rasulullah SAW juga menganjurkan agar memperbanyak berdzikir dan berdoa agar diberikan kelimpahan rezeki, baik  di dunia maupun akhirat. Pahala memperbanyak dzikir di Bulan Ramadan akan dilipat-gandakan Allah SWT.

Rasulullah SAW juga menganjurkan agar memperbanyak Istighfar. Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang, karena itu perbanyak istighfar di Bulan Ramadan untuk meminta ampunan atas segala dosa yang kita lakukan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa ketika ia berbuka doanya tidak akan ditolak” (HR. Ibnu Majah)

Melakukan Iktikaf di Masjid saat 10 Hari Terakhir merupakan amaliah Ramadan yang dianjurkan.

Melakukan Umrah di Bulan Ramadan dan Berdiam diri di Masjid memiliki keutamaan diantaranya adalah lebih khusuk dalam beribadah dan menjauhi hiruk pikuk kepentingan duniawi.

Lihat juga: Meraih Berkah Ramadan

Dalam Bulan Ramadan, segala ‘ibadah, amal sholih yang ikhlas dan benar caranya sesuai syari’ah, akan dilipatgandakan nilai pahalanya oleh Allah SWT.

Di hari-hari terakhir Ramadan, sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk semakin gencar memperbanyak amaliah dan berbuat kebaikan.

Bukan hanya kegiatan yang berdimensi untuk kebaikan diri sendiri dalam upaya meraih derajat ketaqwaan disisi Allah SWT, tapi juga kegiatan yang berdimensi sosial.

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar banyak berinfak dan bersedekah di Bulan Ramadan, serta mengeluarkan zakat fitrah sesuai yang telah ditentukan secara syar’i.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh (10) kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus (700) kali lipat.”

Allah SWT berfirman (yang artinya):

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan, karena-Ku.”

“Bagi orang yang berpuasa, akan mendapatkan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika dia berbuka puasa (ifthaar), dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Robbnya (Tuhan Pengaturnya). Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”  (HR Bukhori dan Muslim)

“Jika Romadhon tiba, berumrohlah saat itu, karena umroh Romadhon senilai dengan haji.”  (HR. Bukhori dan Muslim)

 

ilustrasi: kajian azis
ilustrasi: kajian azis

 

Infak

Ibnu Rajab Al Hambali – raahiimahulloh – mengatakan:

“Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibandingkan amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibandingkan puasa di bulan lainnya. Ini semua dapat terjadi karena mulianya bulan Romadhon, dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” -Lathoif Al Ma’arif, hal. 271.

Maksudnya,  adalah bahwa segala hal ‘amal ibadah dan  ‘amal sholih, akan dilipat-gandakan pahalanya.

sumber gambar: islamidia
sumber gambar: islamidia

Setiap muslim dituntut untuk khudhu dan tawadhu karena Allah SWT menyukai sifat rendah hati, tidak sombong, menjaga dan menyambung silaturahmi, maka Allah SWT akan mengangkat darajat serta kedudukannya di sisiNYA.

Rasulullah SAW menganjurkan bahwa salah satu cara menyambung silaturrahim adalah dengan gemar berinfak, menolong sesama, khususnya bagi kaum muslimin yang membutuhkan uluran tangan dan bantuan.

Lihat juga: 100 Pesan Al-Qur’an dalam Interaksi Sosial

Sedekah apapun bentuknya, tak perlu disebut, tak perlu diungkit. Berinfaklah sesuai kemampuan dan biarlah Allah SWT yang membalasnya.

Infaq bagi seorang muslim yang berpuasa di Bulan Ramadan bernilai pahala yang dilipatgandakan.

Firman Allah SWT:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya:

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. ” (QS. Al Furqon: 63).

Syaikh Muhammad membicarakan ayat di atas, “Jika ada orang jahil mengejek, maka balaslah dengan mengucapkan doa kebaikan untuknya semisal mengucapkan ‘jazakallah khoiron‘ (artinya: semoga Allah membalas kebaikanmu). Lalu berpalinglah darinya. Tidak perlu berbicara dan melakukan hal lainnya.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 297-298).

Adab yang diajarkan dalam Al Qur’an pula adalah membalas setiap tingkah laku jelek dari orang lain dengan kebaikan. Siapa yang bisa melakukan hal ini, sungguh ia benar-benar memiliki sifat sabar. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ

وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Artinya:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Mujahid berkata bahwa yang dimaksud balaslah dengan yang lebih baik yaitu balaslah dengan berjabat tangan dengannya. (Lihat Hilyatul Auliya’, 3: 299, dinukil dari At Tadzhib li Hilyatil Auliya’, hal. 771).

Sedekah

Di antara amalan yang dianjurkan di Bulan Ramadan adalah bersedekah, dan untuk bersedekah,  tidak harus berbentuk uang atau harta-benda! Hingga yang miskin, yang dhuafa pun, yang tak cukup berharta, bahkan memang tak berharta pun, dapat melakukannya! Dan dilipatgandakan nilainya oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

 

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ

وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ ”

Artinya:

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya rumah  di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).

Hadits mengandung makna bahwa:

Pertama, Orang yang memberi maaf kepada orang lain yang telah berbuat aniaya, oleh  Allah telah disediakan rumah di surga.

Kedua, Meminta maaf secara psikologis tentu terasa berat, dan yang lebih berat dari itu adalah memaafkan terhadap kesalahan orang kepada kita.

Ketiga, Orang yang bersedekah tidak akan mengurangkan hartanya, termasuk dalam hal ini sedekah kepada orang Bakhil.

Keempat, Allah SWT  akan menggantikan dengan yang lebih baik malah akan didoakan oleh Malaikat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَامِن يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ

إِلاَّ مَلَكَانِ يَنزِلاَنِ, فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اَللهُمَّ أَعْطِ مُنفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الآخَرُ: اللهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Artinya:

Dari Abu Hurairah RA bahawa Nabi SAW bersabda: “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berdoa; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berdoa; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “.(HR Bukhari No: 1351).

Rasulullah SAW bersabda,  “Tiap muslim wajib bersadaqah.”  Para Sahabat Nabi bertanya, “Bagaimanakah kalau dia tidak memiliki sesuatu?”

Nabi SAW menjawab, “Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya, lalu bershodaqoh.”  Mereka bertanya lagi: “Bagaimanakah kalau dia tidak mampu?”

Nabi SAW menjawab, “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya.”  Mereka bertanya, “Bagaimanakah kalau dia tidak melakukannya?”  Nabi SAW menjawab, “Menyuruh berbuat yang ma’ruf (benar, baik).”

Mereka bertanya, “Bagaimanakah kalau dia tidak melakukannya?”  Nabi SAW menjawab,  “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah shadaqoh.”  (HR. Bukhori dan Muslim)

“Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah shodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan ma’ruf adalah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum), dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu.” (HR. Ahmad)

Bersabdalah Rasulullah SAW, “Satu (1) dirham memacu dan mendahului seratus ribu (100.000) dirham.”  Para Shahabah Nabi – rodhiyollohu ‘anhum – bertanya, “Bagaimana (mungkin) itu?”

Nabi SAW menjawab, “Seseorang memiliki (hanya) dua (2) dirham. Dia mengambil satu  dirham dan bershodaqoh dengannya. Dan seseorang lainnya memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu  dirham untuk dishodaqohkannya.” (HR. An-Nasaa’i)

Allah SWT  berfirman (di dalam hadits Qudsi):

“Hai anak Adam, infaqkanlah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

“Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin, adalah ibarat sedang berjihad di jalan Allah, dan ibarat orang yang sholat malam. Ia tidak merasa lelah, dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka puasa.” (HR. Bukhori)

Seorang Sahabat  bertanya kepada Rosuululloh SAW, “Shadaqoh (sedekah) yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?”

Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bershodaqoh hendaklah kamu sehat, dan dalam kondisi pelit (mengekang, harus berhemat), dan saat kamu takut melarat, tetapi mengharapkan menjadi kaya. Janganlah ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhori)

“Barangsiapa yang ingin agar doanya dikabulkan dan dibebaskan dari kesulitannya, hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.”  (HR. Ahmad)

“Jauhkanlah dirimu dari api Neraka, walaupun hanya dengan (shodaqoh) sebutir kurma.”  (Hadits Muttafaq’alaihi)

“Turunkanlah (datangkanlah) rizkimu (dari Allah) dengan mengeluarkan shodaqoh.” (HR. Al-Baihaqi)

“Bentengilah hartamu dengan zakat, obatilah orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bershodaqoh, dan persiapkanlah doa untuk menghadapi datangnya bencana.”  (HR. Ath-Thabrani)

“Tiadalah seseorang bershodaqoh dengan baik, melainkan dengannya Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)

“Naungan bagi seorang mu’min (yang beriman) pada Hari Kiamat adalah shodaqohnya.”  (HR. Ahmad)

“Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberikan pahala, walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu.”  (HR. Bukhori)

“Shodaqoh yang paling afdhol adalah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

Apalagi jika kita sadari, bahwa apapun yang konon kita rasa adalah ‘milik’ kita, sesungguhnya, dari Allah. Semua makhluk lahir di Dunia tanpa membawa apa-apa. Bahkan dia pun tak mampu menentukan dirinya lahir sebagai apa, bagaimana keadaannya, apa warna kulitnya, menjadi lelaki atau perempuan, menjadi manusia atau kucing, dan lain sebagainya.

Maka sungguh, kebakhilan, kepelitan, kedengkian, dan lain-lain  itu, tak pantas. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Allah SWT berfirman:

 وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْـرًا لَّهُمْ  ؕ

بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ  ؕ  سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ؕ

وَ لِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ  ؕ  وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

 

Artinya:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir (bakhil) dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karuniaNya, mengira bahwa (kekikiran, kebakhilan) itu baik bagi mereka, padahal (kekikiran, kebakhilan) itu buruk bagi mereka.”

“Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat.  Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi.  Allah Maha Mengetahui terhadap apa saja yang kamu kerjakan.” (QS. Aali ‘Imraan: Ayat 180)

Marilah kita memakmurkan bulan Romadhon dengan aneka ‘amal sholih, ‘amal ‘ibadah! Fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan!  “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua (2) perkara, yakni:

(1) Seseorang yang diberikan Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan

(2) Seseorang yang diberikan Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori)

Senyampang masih hidup. Semasa masih mampu beramal sholih. Karena kini adalah masa mengabdi, berkarya, dan beribadah dengan segala hal (termasuk dengan berkarya, bekerja, menuntu ilmu, mengajar, dan sebagainya), tanpa dihisab.

Kelak, akan datanglah masa kita dihisab, tanpa mampu lagi beramal! Janganlah sampai malu dan merugi, di saat itu! Allah SWT  berfirman:

قُلْ هَلْ نُـنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا

Artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?”

اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

Artinya:

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan Dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.

اُولٰۤئِكَ  الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا  نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًـا

Artinya:

Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sialah amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan (tidak menghitung) terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (QS. Al-Kahf: Ayat 103-105).

sumber foto: salam UI
sumber foto: salam UI

Zakat Fitrah

”Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.” (HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984)

Bentuk zakat fitrah adalah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya.

Para ulama sepakat bahwa kadar wajib zakat fithri adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat fitrah kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis) sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’

Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang . Ukuran satu sho’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg.

Ulama lainnya mengatakan bahwa satu sho’ kira-kira 2,157 kg. Artinya jika zakat fithri dikeluarkan 2,5 kg seperti kebiasan di negeri kita, sudah dianggap sah

Zakat fitrah dengan uang tidaklah sah. Abu Daud, murid Imam Ahmad menceritakan, “Imam Ahmad pernah ditanya dan akupun menyimaknya.

Beliau ditanya, “Bolehkah aku menyerahkan beberapa uang dirham untuk zakat fitrah?”

Jawaban Imam Ahmad, “Aku khawatir seperti itu tidak sah. Mengeluarkan zakat fitrah dengan uang berarti menyelisihi perintah Rasulullah SAW.” (Al-Mughni, 4: 295)

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”  (QS. Al-Ma’idah [5] : 55)

Setiap rezeki yang Allah titipkan ada bagian untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Itulah mengapa dalam Al Quran dijelaskan manfaat Zakat yang membersihkan harta sekaligus hati.

Tak banyak memang 2,5% dari apa yang kita dapatkan bahkan yang kita miliki, tapi jumlah itu sangat berharga bagi saudara-saudara kita yang tengah bertahan dalam duka atau yang sedang berjuang melawan kemiskinan.

Mari tambah keberkahan harta dengan menyisihkannya untuk yang berhak menerima. Zakat penghasilan hanya 2,5% dari total penghasilan (nishab setara 522 kg beras), zakat maal  untuk harta serta aset produktif yang sudah mencapai nishabnya selama setahun  (setara emas 85 gram).

Harta apa saja yang perlu dikeluarkan zakatnya?

  1. Binatang Ternak

Jenis binatang yang wajib dikeluarkan zakatnya hanya unta, sapi, kerbau dan kambing. Keterangannya yaitu ijma’.

Syarat bagi pemilik binatang yang wajib zakat tersebut adalah: Islam, Merdeka, Milik sempurna, Cukup satu nisab, telah sampai satu tahun lamanya dipunyai, serta digembalakan di rumput yang mubah. (Binatang yang diambilkan makanannya tidak wajib dizakati)

2. Emas dan Perak

Syarat bagi pemilik emas dan perak yang wajib dizakati, adalah: Islam, Merdeka, Milik yang sempurna, telah sampai satu nisab (93,6 gram emas atau 624 gram perak), serta telah sampai satu tahun disimpan (Emas yang dipakai tidak wajib dizakati)

3. Biji makanan yang Mengenyangkan

Seperti beras, jagung, gandum, adas, dan sebagainya. Adapun biji makanan yang tidak mengenyangkan, seperti kacang tanah,kacang panjang, buncis dan sebagainya, tidak wajib dizakati.

Syarat bagi pemilik biji-biji makanan yang wajib dizakati, adalah: Islam, Merdeka, Milik yang sempurna, telah sampai nisabnya, Biji makanan itu ditanam oleh manusia, serta Biji makanan itu mengenyangkan dan tahan disimpan lama.

4. Buah-buahan

Yang dimaksud dengan buah-buahan yang wajib dizakati hanya kurma dan anggur saja, sedangkan buah-buahan yang lainnya tidak.

Syarat bagi pemilik buah-buahan yang wajib dizakati adalah: Islam, Merdeka, Milik yang sempurna, dan telah sampai nisabnya

5. Harta Perniagaan

Harta perniagaan wajib dizakati, dengan syarat-syarat seperti yang telah disebutkan pada zakat emas dan perak. Tahun perniagaan dihitung dari mulai berniaga.

Pada tiap-tiap akhir tahun dihitung harta perniagaan itu. Apabila cukup satu nisab (93,6 gram emas atau 624 gram perak), maka wajib dibayarkan zakatnya, meskipun di awal tahun atau di tengah tahun tidak cukup satu nisab.

Sebaliknya kalau di awal tahun cukup satu nisab, tetapi karena rugi di akhir tahun dan tidak cukup lagi satu nisab, maka tidak wajib zakat.

Perhitungan akhir tahun perniagaan itulah yang menjadi ukuran sampai atau tidaknya satu nisab.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...