Nurlina, Pejuang Nelayan Perempuan dari Pangkep

Penulis bersama Nurlina, Pejuang Nelayan perempuan dari Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Nurlina, Pejuang Nelayan perempuan dari Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Beatriks Rika, Petani Perempuan Pemulia Tanaman Padi

PALONTARAQ.ID – Menjadi Nelayan adalah domain pekerjaan laki-laki. Dibutuhkan ketangguhan dan kecerdasan lebih dalam membawa perahu, melawan ombak, membaca cuaca dan Tanda-tanda alam lainnya saat berlayar, mengakrabi lautan dan mengenali wilayah banyak ikan, sampai kemampuan berenang. Itulah sebabnya pekerjaan sebagai Nelayan adalah wilayah kerja laki-laki.

Stereotipe inilah yang ditentang Nurlina atau yang biasa dipanggil Lina. Sehari-hari perempuan muda kelahiran 18 Maret 1988 ini berprofesi sebagai Nelayan di kampungnya, Pulau Sabangko, Desa Mattiro Bombang, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Butuh perjuangan panjang untuk menegaskan dirinya bisa melakukan pekerjaan sebagai Nelayan sebagaimana halnya yang dilakoni oleh Nelayan Laki-laki lainnya.

Nurlina di perairan pulaunya, Pulau Sabangko. (foto: ist/palontaraq)

Nurlina di perairan pulaunya, Pulau Sabangko. (foto: ist/palontaraq)

Foto Nurlina saat melaut. (foto: ist/palontaraq)

Foto Nurlina saat melaut. (foto: ist/palontaraq)

Menjadi Nelayan perempuan adalah tantangan tersendiri bagi Nurlina, meski tetap dipandang aneh oleh masyarakat di pulaunya dan bahkan seringkali mendapat perlakuan diskriminatif pada awalnya dari pemerintah daerah setempat.

“Saya sudah mengenal laut sejak usia 13 tahun. Kalau Saya tidak melaut yang notabene adalah tulang punggung keluarga, apa pemerintah desa atau pemerintah kabupaten mau menghidupi keluarga saya?” tanyanya.

“Semua pekerjaan laki-laki yang biasa dilakoni warga pulau juga saya bisa melakukannya. Dan itu bukan hanya saya, ada begitu banyak perempuan di pulau yang juga menghidupi diri dan keluarganya dari melaut atau ikut terjun dalam budidaya perikanan laut,” ungkapnya dalam Diskusi Tematik Resiliensi, Camping Gathering di Kampung Liukudengeng, Desa Uraso, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Kamis (14/3/2020).

Nurlina (duduk paling kiri), diantara Konsultan dan Mitra Oxfam, serta perempuang pejuang pangan lainnya usai diskusi tematik Resiliensi, dalam Camping Gathering di Desa Uraso, Luwu Utara. (foto: ist/palontaraq)

Nurlina (duduk paling kiri), diantara Konsultan dan Mitra Oxfam, serta perempuang pejuang pangan lainnya usai diskusi tematik Resiliensi, dalam Camping Gathering di Desa Uraso, Luwu Utara. (foto: ist/palontaraq)

“Selama ini hanya nelayan laki-laki yang diakui, sementara perempuan tidak. Beberapa kali saya mengajukan permohonan untuk diakui sebagai nelayan perempuan, dan itu harus memiliki kartu nelayan di Dinas Keluatan dan Perikanan setempat, sebagai syarat akses untuk mendapatkan bantuan dan asuransi nelayan,” tuturnya

“Namun yang saya dapatkan selalu tanggapan sinis. Mereka mencemooh. Sehingga saya balik menantang, kalau Pemerintah tidak percaya, sini saya antar Pak Bupati dengan perahu saya. Dikiranya saya sebagai perempuan tak bisa membawa perahu. Kalau perlu saya antar keliling pulau,” tambahnya.

Nurlina menunjukkan Kartu Nelayan yang telah dimilikinya. (Foto: Wahyu Chandra)

Nurlina menunjukkan Kartu Nelayan yang telah dimilikinya. (Foto: Wahyu Chandra)

Nurlina memperjuangkan agar setiap Nelayan perempuan dapat mengakses bantuan pemerintah lewat Kartu Nelayan yang dimilikinya. (foto: ist/palontaraq)

Nurlina memperjuangkan agar setiap Nelayan perempuan dapat mengakses bantuan pemerintah lewat Kartu Nelayan yang dimilikinya. (foto: ist/palontaraq)

Perjuangan Nurlina untuk mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Kabupaten setempat akhirnya berhasil. “Setelah beberapa kali mendesak, akhirnya diakui juga. Akhirnya keluar juga itu Kartu Nelayan. Karena itu syarat awal untuk mendapatkan bantuan dari Pemerintah,” ungkapnya.

Nurlina memang bukan nelayan kemarin sore. Awal keterlibatannya melaut sudah dimulai ketika berusia 13 tahun, dan semakin yakin bahwa melaut adalah pilihan hidupnya saat ayahnya meninggal di usianya baru 12 tahun. Demi menghidupi diri dan ibunya ia pun tak segan ikut melaut ikut bersama pamannya yang seorang nelayan.

“Setiap hari saya ikut membantu hingga tahu bagaimana cara menjalankan perahu. Sempat juga ada nada sinis dari tetangga, toh ini pekerjaan halal. Hanya saja, melaut bersama paman tidak setiap saat saya bisa lakukan karena kadang-kadang merasa tidak nyaman. Perahu pamannya juga harus menghidupi anaknya sendiri,” katanya.

“Jika tidak melaut, Saya bekerja memperbaiki jala/jaring yang rusak dan mengikat rumput laut dengan penghasilan sangat kecil, Rp. 6.000-15.000 per hari. Hanya itu pekerjaan yang tersedia untuk perempuan di pulau. Belakangan saya terbantu ketika mengikuti Sekolah Perempuan dari Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) Sulsel. Dari Sekolah ini, saya belajar kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan,” ungkap Lina.

“Saya menganggap perjuangan saya belum selesai. Di Pulau, masih banyak Lina-lina lain, yang juga nelayan perempuan belum mendapatkan haknya. Kami kemudian membentuk Kelompok Nelayan Rakkang Jaya untuk memperjuangkan nasib nelayan perempuan lainnya,” ujarnya bersemangat.

Camping Gathering yang dilaksanakan Pemkab Luwu Utara bersama Oxfam Indonesia dan mitranya sebagai salah satu rangkaian kegiatan International Woman's Day (IWD) 2020 di Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel. (foto: ettaadil/palontaraq)

Camping Gathering yang dilaksanakan Pemkab Luwu Utara bersama Oxfam Indonesia dan mitranya sebagai salah satu rangkaian kegiatan International Woman’s Day (IWD) 2020 di Desa Uraso, Luwu Utara, Sulsel. (foto: ettaadil/palontaraq)

Pada Tahun 2016 lalu, tepatnya 16 Oktober 2016, Lina terpilih sebagai nominator pejuang pangan yang dihelat Oxfam Indonesia dalam rangkaian perayaan Hari Pangan Se-Dunia. Nama Nurlina terpilih melalui kompetisi film anak muda dan penelusuran (scouting) yang dibuat oleh Saidah, sejawatnya di Sekolah Perempuan.

Perjuangan Nurlina sebagai Nelayan perempuan dinilai memberi inspirasi dan kontribusi bagi kesetaraan gender. Nurlina adalah satu dari sembilan perempuan pejuang pangan yang mendapat penghargaan dari Oxfam Indonesia pada Tahun 2016 karena mampu menjadi inspirasi komunitas dan penggerak masyarakat di tingkat basis karena kepemimpinan mereka yang sangat menonjol.

Anggapan bahwa perempuan hanya berperan kecil dalam rantai pangan, masih menjadi pemahaman umum. Namun begitu, Nurlina yang sejak adanya Bantuan Perahu Katinting dari Pemerintah setempat kini mulai melaut secara mandiri mencari kepiting rajungan menggunakan jaring. Dalam sehari ia memperoleh hasil 1 kg, yang dijual seharga Rp22 ribu per kg.

“Sesekali dalam melaut, mendapat tangkapan ikan meski tak pernah banyak. Hasilnya memang tak banyak dan tak bisa dianggap untung, apalagi kita juga harus beli bahan bakar. Untuk menutupi kekurangan, kami bersama Nelayan perempuan lainnya mengupayakan budidaya rumput laut,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Perahu Katinting berkapasitas 5,5 PK bantuan pemerintah itu tak hanya kami gunakan untuk melaut, tapi juga digunakan untuk mengantar warga sekitar ke sekolah dan puskesmas di pulau seberang. Setiap ada warga yang mau berobat, Nurlina selalu sigap mengantar secara gratis.

Penulis bersama Nurlina dan Perempuan pejuang pangan lainnya saat Camping Gathering di Desa Uraso, Luwu Utara. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Nurlina dan Perempuan pejuang pangan lainnya saat Camping Gathering di Desa Uraso, Luwu Utara. (foto: ist/palontaraq)

Demikianlah kegigihan Nurlina memperjuangkan kesetaraan kaumnya dalam meningkatkan peran dan kontribusi pangan di lingkungan masyarakatnya. Oleh Oxfam Indonesia, sosok Nurlina ini telah berinvestasi dan berkontribusi besar dalam upaya mengakhiri kelaparan di komunitas, sebagai pejuang pangan dan menghindarkan masyarakat dari dampak perubahan iklim secara global,” ungkap Dini.

Mereka yang mendapatkan penghargaan sebagai perempuan pejuang pangan dalam Tahun 2016 tersebut adalah Giyem (Pati), Ummi Kalsum (Aceh Besar), Seliwati (Luwu Utara), Daeng Karra (Takalar), Nurlina (Pangkep), Sri Rohani (Kebumen), Catur Rini (Bogor), Beatrix Rika (Sikka) dan Erna Leka (Tulang Bawang). (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response