Oleh: Santo Saba Piliang *)
Related Post: Yang Dilihat Fa-Huan 337-422 M di Javadwipa
PALONTARAQ.ID – “Kota Suci” di area kadatuan sebelum dan sesudah di sebut “Srivijaya” di Kabupaten Xlll Koto Kampar, Provinsi Riau, di batasi dengan tanggul benteng tanah setinggi 2,5 meter,mengelilingi area “Pusat Puja” semasa Pra Islam wilayah ini di sebut “Mongtakui” setelahnya menjadi “Muotakui” dan kini terpublikasi menjadi “Candi Muara Takus”
Inilah yang didatangi dan diteliti oleh ilmuwan antara lain:
Penelitian oleh Corn de Groot 1858 terhadap Situs “Muara Takus” ia melaporkan pada tahun 1859 dan menuliskannya dalam jurnal tahun 1860, Beliau meneliti situs kemudian menyimpulkan tanpa melabel ini Hindu/Buddha
G. du Rij van Beest Holle 1879
Tulisannya berjudul “Beschrijving van de Hindoe Oudheden te Moeara Takoes, XII Kotta Kampar”, Beest Holle me “Labeling” ini Hindu
WP. Groeneveldt, pada tahun 1879-1880,Tidak menyebut situs Moeara Takoes berdasar atau me “Labeling” ini Hindu/Buddha
R.D.M Verbeck dan E. TH.Van Delden,1881,Dengan tulisan “De Hindoe Ruinen bij Moeara Takoes ann de Kampar rivier”….me “Labeling” ini Hindu
J.W. IJzerman 1889-1893,melakukan penelitian yang dituangkan dalam dalam tulisan : “Beschrijving Van die Boeddhistische Bouwwerken te Moeara Takoes Padang” menyebut atau me “Labeling” ini Buddha
N.J. Krom 1912,1923 menulis tentang Muara Takus pada tahun 1923 berjudul “Hindoe-Javaansche Kunst”, me “Labeling” Moeara Takoes ini Hindu
J.L. Moens di tahun 1924 dalam tulisannya “Het Buddhisme op Java en Sumatra in zijn laatste bloeiperiode”,me “Labeling” Moeara Takoes ini Buddha
F.D.K. Bosch 1925,1930,1946, Bosch Moeara Takoes me “Labeling” ini Hindu
F.M. Schnitger April 1935 Schnitger menulis dan me “Labeling” Moeara Takoes ini Hindu
EJ. Brill, 1936.menyebut situs Moeara Takoes berdasar atau me “Labeling” ini Hindu
Hanya dengan melihat “Ada” nya arca dengan bentuk orang duduk bersila…situs ini di sebut “Buddha …situs yang tidak ada patung orang duduk bersila di sebut “Hindu” …
Prambanan Hindu, maka Mendut otomatis Buddha karena ada arca duduk bersila dan jika situs situs itu ada di lokasi berdampingan disebutlah “Toleransi”…?
Dari semua penelitian Kolonial Belanda diatas tampak tidak “Konsisten” terhadap apa yang mereka labelkan kepada objek situs apakah Hindu/Buddha….?
Kapan dan Siapa “Misionaris” india masuk ke pelosok Nusantara, Hingga situs situs & Kerajaan Pra Islam di sebut Hindu/Buddha india…..?
Tidak ada jawabannya, Karena memang tidak pernah ada…ini hanya “Labeling”, tanpa dasar
Tidak ada “Misionaris/Pendakwah” Hindu/Buddha yang terlahir di india masa Pra Islam yang ke Nusantara…dan semua situs dan ajaran asli Nusantara bukan berdasar pada ke duanya…tapi mendasari lahirnya kedua ajaran tersebut…inilah “Dharmic Original” yang di bawa Sariputra kelahiran Svarnadvipa ke india
Svarnadvipa” Indonesia, bukan india …adalah tempat awal sumber belajar Palsafah Utama Dasar “Dharma/Dhamma” …dan inilah tokoh tokoh putra Indonesia terdahulu di masa Sebelum lahirnya YM.Sidharta Gautama,Para pelopor pembawa “Dharmic” ..sampai ke tanah india, diantaranya :
Sañjaya
Śāriputra
Dharmadaśā
Dharmapāla
Suvarṇakeśa
Maudgalyāyana
Svārnadvpa Dharmākirti
Çhrį Janăyasā atau “Dapunta Hyang”
Sāriputra adalah putra Nusantara yang menjadikan awal cikal bakal lahir tumbuh dan berkembang ajaran “Buddhism” di India,dan masa setelah nya adalah Atiśa Dīpaṃkara Śrījñāna 12 tahun belajar di sini kepada Guru Svarnadvipa Dharmakirti yang di kemudian hari mempelopori lahirnya “Tantrayana” di Tibet
Desa kelahiran Sāriputra dari ibu bernama Sāri atau “Sarikha/Rupasari” di wilayah Bimbisāra versi Fa-hian adalah P’in-p’o-so-lo di desa Nālaka..di wilayah “Mo-tu-lo”…ini adalah “Melaka” di “Ma-Layu”….di tepi sungai “Panisan” dekat desa “Tanjoeng” Xlll Koto Kampar, saat Corn de Groot 1858 datang kesini dan menyebut nya sebagai “Kota Tjandi”
Buku perjalanan Fa-Hian atau Faxian 399 dan 412 M terjemahan dari tulisan aslinya Cina oleh Samuel Beal 1884 ISBN-10:8120811070, menuliskan sbb :
Fa-hian (337 – 422 M) tinggal di Ch’ang-an,
me-mulai perjalanan 399 s/d 412 M berangkat dari Ch’ang-an, menyeberangi Lung…..setelah melintasi Indus….jarak melintasi laut selatan India adalah 4 hingga 5 juta li, sampai berlabuh di tempat yang tanahnya rata tanpa lembah, ada sungai…..pergi ke arah tenggara kurang dari 80 yojana , kami melewati banyak kuil dengan sejumlah imam di dalamnya, setelah melewati tempat ini, kami tiba yang disebut “Mo-tu-lo”…
…mengikuti sungai “Pu-na”, kanan dan kiri ada dua puluh sangharamas dengan 3000 imam,Iklim disini hangat merata tanpa salju, Orang-orang nya sangat kaya,tidak ada pungutan pajak atau pembatasan resmi…
…di seluruh negeri orang-orang tidak membunuh unggas/merpati tidak minum anggur,mereka juga tidak makan bawang putih,tidak memelihara babi tidak minum anggur para kepala suku membangun ” Sangharama” untuk para imam…
…pergi ke barat tiba di desa “Na-lo”,Ini adalah tempat Kelahiran “Sariputra”, oleh karena itu sebuah menara telah didirikan…
…desa Upatissa, dikenal sebagai “Nālaka”,hidup seorang pemuda yang sangat cerdas bernama Sāriputta ibunya “Sarikha/Rupasari”,Karena nama ibunya itulah ia disebut “Sari-Putra”…
…ayah nya “Māṭhara”, seorang Brāhmin bermarga Dīrghanakha Karena ia anak pemimpin desa, ia juga kadang dipanggil “Upatissa”…
..di tempat para imam, Ada “Sangharama” yang dibangun, di sini mereka membuat menara untuk menghormati “Sariputra” , Mudgalaputra, juga untuk menghormati Abhidharma ,Vinaya dan Sutra…
…dari timur ke barat 5 atau 6 li, dari utara ke selatan 7 atau 8 li, di sini Sariputra dan Mudgalyayana pertama kali bertemu Asvajit juga Nirgrantha…
…dari selatan kota melanjutkan ke selatan 4 li, kami memasuki sebuah lembah yang terletak di antara 5 bukit, melingkari sepenuhnya seperti tembok,Ini adalah situs kota lama Raja “P’in-p’o-so-lo”….
Inilah yang lokasi yang di lihat dan di catat Fa-Hian atau Faxian 399 dan 412 M,tertulis dalam buku perjalanannya :
Tanggul benteng tanah setinggi 2,5 meter,mengelilingi area “Pusat Puja” semasa Pra Islam wilayah ini di sebut “Mongtakui” setelahnya menjadi “Muotakui” dan kini terpublikasi menjadi “Candi Muara Takus” adalah “Kota Suci” di area kadatuan sebelum dan sesudah di sebut “Srivijaya” di Kabupaten Xlll Koto Kampar,Provinsi Riau
Pagar batu berada mengelilingi area pusat puja, lebar 50 cm ketinggiannya pada masa Pra Islam di atas kepala orang dewasa, berfungsi menutupi aktifitas prosesi ritual “Prasawiya/Pradaksina/Tawaf juga upacara wisuda dan penobatan Rshi serta para “Datu” yang berlangsung di area “Pusat Puja”
“Pusat Puja” Pelatar candi tua,berada di bagian muka candi tua lebar sesuai besar candi tua,panjang searah paving blok keadaan saat ini, berjalan 1 mtr ke dalam sisi luar ada 3 trap tangga dengan tiang di ujung tangga bawah dan area pelatar berbahan batu yang disusun, bahan lantai pelatar adalah batu alam dengan bentuk persegi di susun sesuai besaran batu batunya merata,dengan level permukaan lantai pelatar sejajar dengan bagian dasar badan podium candi tuo
Saat ini pelatar candi tuo tidak bisa dilihat karena tertimbun tanah, Pada bagian tengah terdapat gundukan tanah mirip bukit kecil,ini adalah tempat para perwakilan atau utusan para “Datu” untuk bernegosiasi dengan “Penjarah” Cola, Tapi para utusan ini di bantai di area ini yang langsung di timbun tanah di atas pelatar,saat ini terpublikasi “Salah kaprah” sebagai tempat kremasi
Pelatar Candi Mahligai Stupa, Berbahan dasar sama dengan pelatar candi tuo, besar nya sebesar candi bungsu,saat ini pelatar itu di bangun “Candi Bungsu” pada abad 10 tahun ke 5 oleh “Shang Hyang Datu Cumarwadewa” atau di singkat dengan nama “Culawarman” membangun candi bungsu untuk nenek nya di atas pelatar candi mahligai stupa selesai tahun ke 6
Batu tempat “Buang air seni’ berbentuk batu bulat utuh besar sekitar 1m2 bagian atas berbentuk lubang kecil, dengan celah mengarah ke bawah, batu ini pada masa Pra Islam berada di muka candi tua sisi pelatar sisi kiri sudut, saat ini berada di atas pelatar candi tua sisi kanan, di muka candi mahligai stupa,tidak pada posisi asli dimasa Pra Islam
Bagian belakang candi mahligai stupa diluar pagar utama area pusat puja, adalah tempat berkumpulnya gajah gajah
F.M.Schnitger, ilmuwan Belanda jabatan conservator of the Museum at Palembang Pada 1935 mengeksplorasi hutan Muara Takus, Beliau menyaksikan fenomena terjadi di situs Muara Takus, Kampar Riau Svarnadvipa,Indonesia…Gerakan berjalan berputar mengelilingi “Objek”…hal ini di lakukan “Gajah” tanpa di kendalikan oleh manusia…..
Arah barat sisi kanan jika kita menghadap candi tua, area saat ini terdapat jalan menuju arah sungai,jarak 80 meter dari area pusat puja,terdapat pelatar besar lantai terbuat dari susunan batu alam dengan modul persegi kurang lebih berukuran 20 cm s/d 45 cm variativ dengan luasan kurang lebih 30 meter x 80 meter, di sisi barat nya adalah bangunan yang di sebut ”Balai Mabau”,Berfungsi sebagai tempat musyawarah dan berkumpul nya para Rshi dan tokoh yang bertugas dalam hal “Pengadilan” atau Balai untuk bersidang
Bangunan ini berkaitan dengan area tempat “Execusi” atau pelaksanaan hukuman sesuai hukum yang berlaku masa Pra Islam di Kadatuan sebelum di sebut “Srivijaya”, lokasi ini di bagian timur situs masih berada didalam komplek di dalam area dalam tanggul tanah
Sisi arah belakang dari “Balai Mabau” ada bangunan rumah tinggal tokoh wanita bernama“Gama” , Arah belakang mendekati sungai atau tempat pemandian para Brahman sebelum menyebrang sungai tepat arah muka bangunan besar dan tinggi ada situs berbentuk candi berbahan batu bata merah bernama “Candi Tara”
Tidak ada “Misionaris/Pendakwah” Hindu/Buddha yang terlahir di india masa Pra Islam yang ke Sumatra…dan semua situs dan ajaran asli Nusantara bukan berdasar pada salah satu dari ke duanya…
Ajaran yang tergambar di situs situs dan hingga kini tersimpan sempurna di Bali adalah yang mendasari lahir nya 3 ajaran Hindu , Buddha dan Jaina di India..inilah “Dharmic Original” yang di bawa Sariputra kelahiran Sumatra ke india
..lokasi ini pernah di kunjungi dilihat dicatat oleh Fa-Hian atau Faxian 399 dan 412 M…. (*)
(* Santo Saba Piliang, Penulis INDONËSIARYĀ – True Back History of Indonesia
Exploration & Research. Beberapa tulisan/karya bukunya adalah: Vhuana Caka Pala (Nama asli Borobudur dan sejarahnya), Borobudur Bukan Candi, Klarifikasi Catatan Sejarah Borobudur, True Back History Borobudur, Ramayana adalah Nusantara, Mahabarata adalah Nusantara, Lemuria Adlantis Nusantara, Lemuria Adalah Nusantara, Adlantis adalah Nusantara, Bali Bukan India, WE ARE ARYA (Kumpulan artikel), Srivijaya (Ungkap kadatuan Srivijaya/bukan kerajaan).


