Feature Jokowi 'buang badan' atas Tanggung Jawab Musibah Corona

Jokowi ‘buang badan’ atas Tanggung Jawab Musibah Corona

-

- Advertisment -

Presiden RI Joko Widodo. (foto: ist/palontaraq)
Presiden RI Joko Widodo. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

Related Post: Sembunyikan Info Corona, Jokowi bermain-main dengan Nyawa Rakyat

PALONTARAQ.ID – Sejak awal, Jokowi memang tak memiliki kapasitas sebagai pemimpin. Demokrasi lah, yang meloloskan Jokowi jadi pemimpin.

Dalam demokrasi, kapasitas dan kemampuan, itu nomor sekian. Yang penting dalam Demokrasi, calon pemimpin itu punya elektabilitas.

Sementara, elektabilitas itu bisa disemir. Dipulas dengan survey, di bedakin dengan kampanye, di dandani dengan Citra, sehingga wajah bopeng calon pemimpin akan terlihat ‘cantik’ dimata rakyat.

Dalam Demokrasi, hukum besi kapital itu berlaku. Siapa yang punya modal atau dimodalin, akan jadi pemimpin. Meskipun bodoh, pendusta, planga plongo.

Sementara, betapapun seseorang memiliki kapasitas, kejujuran, rasa tanggung jawab, tetapi jika tidak ditopang oleh modal (kapital) tidak akan pernah jadi pemimpin. Kapitalisme Demokrasi, telah menjadikan modal yang paling berdaulat.

Berdaulat untuk mencalonkan pemimpin, berdaulat untuk memasarkan pemimpin, berdaulat untuk memilih dan menentukan pemimpin, bahkan berdaulat untuk berlaku curang demi memenangkan seorang pemimpin.

Dalam kasus Corona, Jokowi benar-benar unskil. Jokowi tak memiliki kapasitas sebagai presiden sekaligus kepala negara, untuk memberikan direksi dan instruksi kepada kepala daerah sebagai penguasa dibawah kendalinya.

Dalam isu corona, Jokowi bukannya mengambil alih tanggung jawab dan memimpin “perang” melawan Corona. Jokowi justru melimpahkan tugas, kewajiban dan tanggung jawab melindungi nyawa rakyat kepada kepala daerah.

Padahal, presiden memiliki wewenang serta keseluruhan tanggung jawab menurut konstitusi, untuk melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia. Presiden, juga didukung alat kelengkapan negara yang dapat di direksi langsung oleh presiden.

Kenapa penanganan Corona dilimpahkan ke pemerintah daerah ? Bukankah, Pemda meskipun memiliki wewenang dan perangkat Daerah, tentu tak se lengkap dan tak bisa memberikan instruksi yang otoritatif pada lembaga negara dibawah presiden ?

Apa mungkin, Gubernur, Bupati atau walikota memberi instruksi kepada Menkes, jika ternyata ada analis daerah wajib melibatkan atau memerintahkan unsur institusi kesehatan untuk bergerak mengantisipasi atau menangani virus Corona ?

Apa mungkin, Gubernur, Bupati atau walikota memberi instruksi kepada panglima TNI, jika serangkaian tindakan antisipasi dan penindakan perlu melibatkan unsur TNI ?….

Apa mungkin Gubernur, Bupati atau walikota memberi instruksi kepada unsur BNPB, jika ada hal-hal terkait penanganan virus memerlukan peran BNPB, untuk relokasi isolasi misalkan ?

Dan sebenarnya, yang lebih paham masalah ini apa pemerintah pusat atau daerah ? Yang punya wewenang, untuk melakukan tindakan proteksi berupa menutup arus masuk orang dan barang, yang diduga berpotensi menyebarkan virus Corona siapa ? Pusat atau daerah ?

Yang punya wewenang, mengontrol arus orang masuk dari luar negeri melalui bandara itu imigrasi, lantas apa Pemda punya otoritas memberi instruksi kepada pihak imigrasi ?

Inilah bahayanya jika pemimpin tak paham tugas, wewenang dan tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya. Alih-alih melindungi dan menentramkan rakyat, pemimpin model demikian justru menambah was-was dan khawatir rakyatnya.

Itu baru dari sisi wewenang dan tanggung jawab di dunia, belum hal yang lain. Yakni, di akhirat setiap pemimpin akan diminta tanggung jawab oleh Allah SWT.

Tindakan Jokowi yang buang badan, melimpahkan tugas dan tanggung jawab memimpin perang melawan Corona kepada Pemda, sungguh membuat rakyat cemas. Himbauan untuk tidak cemas, tak ada artinya karena tindakan yang diambil Jokowi justru sangat mencemaskan. [].

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you