Beatriks Rika, Petani Perempuan Pemulia Tanaman Padi

Beatriks Rika. (foto: ist/palontaraq)

Beatriks Rika. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Bupati Luwu Utara: Pohon Sagu adalah Simbol Ketahanan Pangan Luwu Utara

PALONTARAQ.ID – Nama Beatriks Rika di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai dikenal luas pada Tahun 2016 lalu setelah terpilih sebagai salah satu Perempuan Pejuang Pangan (Female Food Heroes) dari Oxfam, sebuah lembaga internasional yang fokus pada upaya pemberdayaan masyarakat.

Siapa yang sangka jejak perjuangan yang mesti dilalui Beatriks Rika sangat berat untuk mendapatkan pengakuan, baik dari Pemerintah Daerah setempat maupun dari pihak Gereja (Keuskupan) sebagai seorang petani perempuan.

Beatriks Rika lahir di Lola, 29 April 1968. Perjuangan warga Desa Bhera Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka ini, untuk mendapatkan lahan pertanian garapan bermula dari sengketa lahan seluas 7 hektar, sebuah sengketa lahan antara kakak-beradik dan itu berlangsung lama, yaitu selama 7 tahun, sampai akhirnya dimenangkan oleh Keluarga Seda dalam Tahun 2010.

Kegigihannya untuk mengakrabi pertanian sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan hidup terus diuji, sebuah perjuangan menentang tabu, diluar kebiasaan, tradisi lama ditentang terhadap perempuan yang tak seharusnya terjun ke lahan pertanian.

Tekad dan kegigihan Beatriks Rika tak tanggung-tanggung. Bukan hanya mengerjakan dan menghidupkan lahan pertanian yang awalnya menjadi obyek sengketa dan tak pernah digarap, malahan dia membentuk kelompok tani Lowo Lo’o.

Tak sampai disitu, perempuan berusia 52 tahun yang tak mengenyam pendidikan tinggi ini, malahan semakin meluas perannya dengan menjadi kader tani dan melakukan kawin silang padi lokal dengan padi jenis IR 64.

Menurut Beatriks Rika, hasil padi kawin silang lebih cepat keluar anak. “Baru 26 hari sudah mengeluarkan 4 anak sementara yang induknya 44 hari baru keluar anak,” ungkapnya dalam Diskusi Tematik Resiliensi, saat Camping Gathering di Desa Uraso, Kabupaten Luwu Utara.

Beatriks Rika bersama Pejuang Pangan lainnya dari seluruh Indonesia, yang difasilitasi Oxfam Indonesia dalam Camping Gathering di Kampung Likudengeng, Desa Uraso, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, (13/3/2020).

Beatriks Rika (duduk tengah, baju hitam) bersama Pejuang Pangan lainnya dari seluruh Indonesia, yang difasilitasi Oxfam Indonesia dalam Camping Gathering di Kampung Likudengeng, Desa Uraso, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, (13/3/2020).

Berkat ketekunannya, Beatriks Rika telah berhasil sampai pada tahap F2 untuk jenis padi hasil persilangan. Melakukan kawin silang padi itu hal baru, dianggap tabu, terutama bagi yang melakukannya adalah perempuan.

Itulah sebabnya langkah “kawin silang padi” yang dilakukan Beatriks Rika ini sempat ditentang Pemerintah Desa dan Keuskupan Gereja di desanya. Apalagi masih banyak masalah setelahnya, misalnya dalam hal pengaturan air dari mata air yang ada di desanya yang sempat diributkan.

Menurut Beatriks Rika, masalah mata air ini baru selesai setelah ada kesepakatan dan kerjasama warga dengan pemilik lahan, sehingga upaya bongkar mata air dan bantarannya dapat diselesaikan dihadapan Polisi dan aparat Dinas Lingkungan Hidup

Meski pada akhirnya diizinkan dan ditempuh jalan damai diantara beberapa pihak mengakui bahwa hasil kawin silang padi dari Beatriks Rika itu membuahkan hasil varietas lokal yang menggembirakan. Beatriks Rika kemudian diminta berperan mendampingi dan memotivasi 5 kelompok tani di wilayahnya dengan jumlah anggota 75 orang (55 perempuan, 25 laki-laki)

Kelompok tani yang dipimpinnya langsung ada berjumlah 28 anggota, 3 anggota diantaranya menangani tanaman holtikultura, untuk sayur buah dan sayur daun, sedang 25 anggota lainnya untuk produk pangan.

Bersama Penulis, Beatriks Rika mengikuti Evaluasi hasil Diskusi Tematik Resiliensi, di Desa Uraso, Luwu Utara, (13/3/2020). (foto: ist/palontaraq)

Bersama Penulis, Beatriks Rika mengikuti Evaluasi hasil Diskusi Tematik Resiliensi, di Desa Uraso, Luwu Utara, (13/3/2020). (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Beatriks Rika, Petani Pejuang Pangan dari NTT. (foto: ist/palontaraq)

Penulis bersama Beatriks Rika, Petani Pejuang Pangan dari NTT. (foto: ist/palontaraq)

Kepada penulis, dalam Kegiatan Camping Gathering (13/3/2020) di Desa Uraso, Likudengeng, Luwu Utara, Beatriks Rika mengaku bahagia dapat berbagi dengan pejuang pangan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia atas inisiatif Oxfam Indonesia.

Menurutnya, apa yang pernah diperjuangkannya sampai sekarang belumlah selesai, harapannya bahwa apa yang dirintisnya dapat dilanjutkan oleh perempuan dan generasi muda lainnya.

Hasil perjuangannya dianggapnya bervariasi, menjadi solusi pendidikan tersendiri, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan terutama dapat mengatasi gizi buruk di wilayah desanya, serta menghasilkan pangan sendiri yang aman dan sehat dikonsumsi.

Beatriks Rika adalah satu sosok perempuan petani yang selain gigih memperjuangkan lahan berdaulat untuk pertanian, juga gemar meneliti. Ia pernah difasilitasi melakukan studi banding teknologi dan kaji terap atas pengembangan jenis padi lokal alias kawin silang padi lokal.

Beatriks Rika adalah petani perempuan yang berjasa dalam pemuliaan tanaman padi, hal yang dahulunya dianggap tabu di desanya. Kini ia bermimpi bahwa petani ke depan haruslah memilih benih lokal, sehingga tidak berharap bantuan benih dari pemerintah saja.

“Untuk kemajuan kelompok tani, tentunya saya juga berharap ke depan ada bantuan pemerintah secara berkesinambungan untuk membantu pemasaran hasil pangan, juga pelatihan bagi petani, bantuan permodalan, agar ada kebanggaan bagi petani-petani muda tetap mengakrabi pertanian sampai sejahtera dan mandiri. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response